Catatan Perjalanan

Minggu pertama bulan Agustus 2008 ini aku habiskan di kota Ambon karena sebuah perjalanan dinas untuk mengecek dan monitoring distribusi beras untuk jatah makan penghuni Rumah Tahanan (Rutan) dan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) wilayah Kantor Kehakiman dan HAM di Propinsi Maluku.

Ini adalah kegiatan rutin tahunan sebagaimana aku bersama anggota TNI dan Polri untuk memonitor penyaluran beras untuk anggota TNI dan Polri di daerah perbatasan, pulau terpencil, pengamanan terbatas, pengamanan daerah rawan dan pengamanan pulau pulau terluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga jika bersama Depnakertrans maka aku melaksanakan tugas monitoring distribusi beras untuk masyarakat transmigran terutama di daerah daerah terpencil dan rawan pangan dan atau bersama pihak Departemen Sosial mendistribusikan bantuan beras manakala terjadi bencana alam, kelaparan/rawan pangan dan daerah terdampak akibat suatu musibah/bencana.

Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke kota Ambon, begitu mendarat di Bandara Pattimura aku langsung dijemput Pak Irfan dari Dolog Maluku, bersamaan juga aku dijemput oleh Pak Dhe Gunawan Thaib (saudara Mbah Putri Umi Kulsum suwargi tapi lain ibu, karena Pak Dhe Gun adalah gawan mbah kaji Ridwan bapaknya mbah putri Simo).

Perjalanan dari Bandar Udara Pattimura ke kota Ambon dengan menggunakan kendaraan roda empat memakan waktu sekitar 1 jam atau berjarak sekitar 40 km. ia berjalan berkeliling naik turun perbukitan dengan jalan berkelok disepanjang tepi laut dalam (bukan pantai) teluk Ambon bagaikan huruf U, seandainya ditempuh dengan menggunakan kapal laut maka dari bandara Pattimura dan kota Ambon hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

Aku putuskan untuk sejenak ke rumah Pak Dhe dahulu lalu melanjutkan ke hotel Amans, dan temanku pak Agus salim dari Dep Kehakiman dan HAM aku persilahkan naik jemputan kantor dan langsung diantar ke hotel Amans kota Ambon.

Menuju rumah Pak Dhe adalah melewati jalan naik turun dan jalan penuh emosional mengingat betapa puing puing akibat akibat kerusuhan/konflik horisontal 10 tahun yang lalu masih begitu nyata dan terbengkalai dan ini selanjutnya menjadi wajah tersendiri ketika aku mengelilingi segenap kota Ambon dari sudut ke sudut.

Pak Dhe Gunawan saat ini di Ambon hanya berdua dengan isterinya, mengingat ke 3 anaknya sudah menyebar ngupoyo upo di berbagai tempat, yang pertama studi S-2 di Universitas Indonesia, yang kedua bersuamikan orang yang bekerja di Kalimantan Timur dan yang ketiga sekolah di Semarang Jawa Tengah.

Usai silaturahmi dari tempat Pak Dhe aku langsung diantar ke kantor Dolog (Divre Maluku di Jalan pengeringan pantai Wai Haong) sambil memberitahu bahwa persis di depan kantor ku terdapat makom/kuburan yang bertuliskan Makam Syuhada, karena pada peristiwa konflik horisontal terjadi, disinilah dimakamkan para pejuang muslim dan makam itu sekarang tidak lagi dipakai untuk pemakaman umum (hanya untuk makam korban syuhada kerusuhan Ambon) banyak nisan yang hanya bertuliskan “syuhada” tanpa tahu siapa dia.

Berada disini memberikan suasana cukup menggetarkan jiwa (Wajilat Qulubuhum …!!) dan sengaja aku kirim Al Fatihah untuk pejuang pejuang itu. Ya makam itu berbatasan langsung dengan tembok beton pemisah laut teluk Ambon yang dalam, biru dan bersih, tenang dan angker. Mata batinku bicara bahwa disini berudara teduh sejuk redup hening sepi dengan warna biru lembut dan tanpa semilir angin. Konon kata orang yang aku tanya, tiap malam Jum’at, tanah kuburan di areal ini mengeluarkan aroma harum wangi.

Pekerjaan kantor dan coklit (cocok dan teliti) data ke Kanwil Kehakiman aku laksanakan sebagaimana mestinya saja, selanjutnya aku sempatkan sholat Jum’at di masjid Raya Al Fatah Ambon. Uniknya mesjid itu sebenarnya ada 2 buah dengan jarak tidak lebih dari 10 meter yang satu bercat hijau namanya Masjid Jami dan satunya lagi bercat putih namanya masjid Al Fatah dan kedua masjid ini tidak terlihat sedikitpun ada puing atau bekas hantaman peluru/mortir/bom. Kata orang disekitar masjid dan jamaah masjid, menyebutkan bahwa tidak pernah ada bom dan peluru yang bisa meledak di areal kedua masjid ini. Ke khusus an kedua masjid itu adalah yang Jami khusus untuk sholat fardhu, dan masjid raya Al fatah untuk Sholat Jum’at.

Ambon, menyisakan sebuah kisah traumatis bagi bagi umat Islam maupun umat Kristen. Pernah ada jalan dibagi dua, kantor dibagi dua, pasar dibagi dua, pemukiman dibagi dua, terminal dibagi dua. Meski masih ada yang bertahan sedemikian rupa saat aku singgah setelah 10 tahun peristiwa itu berlalu ternyata masih juga ada keterbatasan keterbatasan itu. Masjid di perkampungan kristen tidak punya jamaah, gereja di perkampungan islam tidak ada jemaat yang datang.

Ada Masjid yang semakin dibakar semakin dibangun menjadi besar !!  demikian juga gereja semakin dibakar semakin juga dibangun menjadi besar !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: