do’a dan pendo’a

Dalam khasanah batin, untuk membangkitkan semangat hidup, kepercayaan diri dan ketenangan hati manusia memerlukan the ultimate goal atau suatu Dzat yang diyakini sebagai Sang Maha Segalanya yang hendak di tuju batin kemanusiaannya itu dalam memenuhi kekosongan hati dan jiwanya.
Berbagai cara di pakai manusia untuk hasrat yang satu itu, namun yang namanya manusia sering kali lupa akan petunjuk Tuhan di dalam kitab Suci Nya, ketika kita disediakan dua wahana pilihan Syurga dan Neraka dimana manusia berhak sebebas bebasnya memilih.
Syurga dan Neraka menurutku suatu adalah bentuk ganjaran atas kebenaran dan kebaikan dan bentuk hukuman atas kesalahan dan kecerobohan/keburukan.
Dalam tiap doa yang dihadirkan oleh manusia pada umumnya adalah  kalau manusia telah merasa mempersembahkan kebaikan dan kebenaran maka manusia itu mengharap Syurga atau setidaknya Pahala. Nah, kalau ndilalah melakukan kesalahan dan kecerobohan/keburukan, ternyata manusia cenderung mohon ampun dan tetap mengharap Syurga juga !!
Lalu Neraka selanjutnya untuk siapa ? Bukankah kalau berbuat salah/buruk/ceroboh kita musti konsisten dan konsekuen untuk bersedia dihukum dulu ? bukannya soal minta ampun dan minta minta yang lainnya itu dibahas pada halaman dan bab yang lain ?
Berikut ini ada pinjaman puisi-nya WS Rendra, untuk sekedar me-refleksi diri dan khatarsis :
Sering kali aku berkata
Ketika orang memujiku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipanNya
 
Bahwa mobilku hanya titipanNya
Bahwa rumahku hanya titipanNya
Bahwa hartaku hanya tiipanNya
Bahwa istriku hanya titipanNya
Bahwa putraku hanya titipanNya
 
Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan pada ku
Untuk apa Dia menitipkan pada ku
 
Kalau bukan milik ku
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini  ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
 
Ketika diminta kembali
Kusebut itu musibah
Kusebut sebagai ujian
Kesebut sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja
Untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
 
Ketika aku berdoa
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta
Ingin lebih banyak mobil
Lebih banyak rumah
Lebih banyak istri
Lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
 
Seolah,
Semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah,
Keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
 
Aku rajin beribadah
Maka selayaknya derita menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah “Mitra Dagang” dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas “Perlakuan Baikku”
Dan menolak keputusanNya
Yang tak sesuai keinginanku
 
Ya. Rabb, padahal tiap hari kuucapkan
Hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu,
Ketika langit dan bumi bersatu
Bencana dan keberuntungan sama saja,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: