Rendes Vouz ?

Dunia memang sempit …

Kejadian seperti ini mungkin pernah anda alami, demikian juga aku. Tetapi setidaknya aku cukup beruntung dengan perubahan fisik ku dari sewaktu kecil dulu, masa remaja, menginjak dewasa dan setengah tua ini cukup banyak perubahan, sewaktu kecil aku cenderung pendek, gempal dan kulit legam, masa remaja cukup ideal antara bobot dan tinggi badan, masa dewasa sudah mulai over weight dengan bobot diatas 90 kg, dan di pipi dan janggut mulai ditumbuhi jenggot dan brewok, dan saat setengah tua ini brewok dan jenggot semakin banyak, rambut dikepala mulai ditumbuhi banyak uban dan over weight semakin menjadi jadi dengan kisaran 110 kg.

Kondisi ini menyebabkan hampir semua teman teman ku semasa kecil, remaja, dewasa dan tua ini hampir tidak bisa mengenali aku lagi, kecuali aku yang menyapa mereka dahulu. Teman teman ku SD sewaktu di Pekalongan sudah hampir tidak tahu aku lagi, demikian juga teman SMP di Magelang dulu, teman SMA di Boyolali dulu bahkan teman kuliah di UNS Solo.

Keadaan ini ada untung ruginya, ruginya … aku cukup berlema lama menjelaskan bahwa aku ini Yanuar teman lama kita … dan mereka lambat laun baru bisa paham. Sementara untungnya adalah, jika dalam keadaan tertentu, maka hampir pasti temanku tidak akan mengenali aku, demikian juga kepada orang orang yang pernah aku cintai/kagumi dahulu. Sewaktu SD dulu aku kagum dengan teman perempuan yang namanya Sri BRI (karena bapaknya adalah pegawai BRI di Kraton Pekalongan), sewaktu SMP pernah kagum dengan Ana Rahmawati tinggal di Mager Sari Magelang (Bapaknya adalah seniman patung yang membuat patung Diponegoro di alun alun kota Magelang), Susi gadis tomboy dengan badan gagah tegap dan rambut pendek yang sama sama anggota paskibraka SMP Negeri 10 Magelang, Lusi yang kala itu pindah sekolah ke Jakarta (katanya pada saya adalah pindah ke Jatinegara Jakarta), ada Ambar gadis lembut ayu dari kampung Pathen Nggunung yang selalu ketemu saat sholat Maghrib di Mesjid Al Mukmin SD Muhammadiyyah Magelang terlebih saat bulan puasa, kita sering sebagai petugas takjilan (membagi makanan kecil usai tarawih) semuanya cukup berkesan.

Saat SMA, aku mengenal Ispadmi Bantu Sunarsih (Aktivis PDI sejak SMA, maklum bapaknya adalah dedengkot PDI di Kabupaten Boyolali kesayangan Megawati sampai hari ini), juga Mulyaningsih gadis sederhana tapi anak orang yang cukup terpandang di Kota Boyolali, tercatat bapaknya adalah salah satu dewan penyantun UNS Surakarta.

Bahkan Mulyaningsih semasa di bangku SMP adalah salah satu siswa teladan tingkat nasional, terbukti saat pacaran dulu aku pernah melihat fotonya sedang berjabat tangan dengan Presiden Suharto di istana negara bersama putra putri teladan se-Indonesia. Sekarang ia bekerja di Dirjen Pajak – Departemen Keuangan Jakarta, dan tempat tinggalnya hanya sekitar 1000 meter dari kontrakan saya di Klender Jakarta Timur.

Beberapa tahun yang lalu cerita itu dimulai, ketika aku sedang berjalan pulang kerja menjelang maghrib, tepatnya di sebuah tempat praktik dokter (dr. Suharso – ujung gang kampung Klender) aku melihat sosok perempuan kulit kuning langsat, rambut lurus sebahu, hidung mancung dan muka agak pucat wajah China hatiku tertegun …. ini Nining (panggilan akrab Mulyaningsih) … tapi aku diam saja karena aku yakin Nining tidak mengenali wajahku lagi, maka sampai dirumah aku langsung telpon Bapaknya yang di Boyolali (aku masih menyimpan nomor telepon itu) dan tidak kuduga, bapaknya mengiyakan bahwa itu adalah dik Nining yang sekarang tinggal di jalan Amal nomer 1 (jalan ke kampusnya Mas Bambang Marsono, kampus Trianandra) dan menjelaskan bahwa ia sekarang adalah pegawai Pajak dan sudah dikaruniai anak 2 orang.

Lalu aku nelpon Nining setelah bapaknya menginformasikan nomer itu padaku (bapaknya dik Nining cukup akrab dengan aku), bahkan seluruh anggota keluarganya mereka juga cukup baik dengan aku, cuma memang hubungan kami terbatas dan terpisahkan oleh perbedaan agama, dik Nining beragama Kristen Protestan) dan akhirnya kita ngobrol sebatas dan seperlunya saja. Tanpa sedikitpun keinginan secara sengaja untuk bertemu meskipun jarak rumahnya dan kontrakan ku cukup dekat.

Tapi Nining adalah gadis yang baik (dan kaya, dari duit orang tuanya), aku masih ingat waktu pacaran dulu, sering diberi kunci mobil oleh Ibunya, dan disuruhnya aku untuk ngajak jalan jalan dik Nining … tapi aku katakan bahwa aku tidak bisa nyetir mobil pada ibunya. Juga kalau bulan puasa, dik Nining rajin sekali menemani aku buka puasa di tempat kost kost-an ku serta membelikan aku roti, kue dan susu.

Sampai hari ini pun aku masih sengaja untuk tidak berkehendak bertemu dengannya, dengan suaminya, anak anaknya, juga dengan keluarganya, karena kita sudah berbeda dan menjalani kehidupannya sendiri sendiri.

Nah, rupanya kejadian itu terulang kembali, tepatnya beberapa minggu yang lalu, sewaktu aku mengantarkan anak anak ku liburan di Wonogiri dan Boyolali (tempat embahnya), pas balik ke Jakarta menggunakan kendaraan umum – Bis Raya – aku bertemu dengan Nining lagi ! Satu bis lagi ?

Untungnya brewok ku pas lebat lebatnya dan aku sedang memakai topi bermerek “Crocodile” (artinya aku sedang jadi “buaya darat”) warna  hitam lagi, hal ini setidaknya ini bagaikan sebuah topeng yang mampu menyamarkan diriku dengannya.

Aku bukannya takut atau merasa bersalah atau aku pernah menyakiti hatinya, ketika aku memutuskan untuk tidak mau menemuinya kembali, sungguh ini semata hanya karena aku tidak ingin CLBK* saja.

Ini adalah sekelumit pacaran masa SMA dulu, dan jika pada umumnya orang pacaran selalu mengingat lagu apa yang populer waktu SMA dulu misalnya : Nostalgia SMA dari Paramitha Rusady, atau Kisah Kasih di Sekolah dari Obbi Mesakh, …. maka, saat aku pacaran SMA dulu bersama dik Nining dan sampai sekarang jika mendengar lagu ini aku masih teringat akannya.

Lagu itu adalah : “Kodok pun ikut Bernyanyi” karya Ari Wibowo yang satu album dengan lagu Madu dan Racun yang cukup populer di tahun 1986/1987. Ingat kan ??

Mungkin anda juga demikian ?

Inikah nyang namanya Rendes Vouz ?

 

 

weleh weleh …

*) Cinta Lama Bersemi Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: