bu’e

panggilan hangat, sebagaimana biasanya aku memanggil perempuan biasa yang bernama Suwarti yang telah melahirkan aku ke dunia fana ini. Ia terlahir dari anak tunggal (ontang anting) dari kedua orang tua desa bernama Mbah Kakung Marto Pawiro dan Mbah Putri Kadiyah. Dari cerita tutur yang aku dengar dari tetangga dan para bekas pengasuh ibuku, menyebutkan bahwa ibuku terkenal dengan kepandaiannya dan kepintarannya meskipun terkesan hidup dalam suasana sedikit mapan dan dimanja ditengah masyarakat desa yang serba terbatas, maklum anak tunggal.

Dalam dunia pendidikan saat sekolah dulu, ibuku terkenal baik dan mudah memahami pelajaran pelajaran dalam ilmu matematika dan ilmu pasti sehingga usai pendidikan dasar di sebuah sekolah rakyat didesanya, ibuku melanjutkan sekolah di tingkat menengah sampai pendidikan atasnya dihabiskan dalam kelas khusus untuk matematika dan IPA di sekolah menengah dan sekolah atas di kota Salatiga.

Kenyataan itu berlanjut dibangku kuliah, ibuku mengambil jurusan matematika di Universitas Gabungan Surakarta (UGS) yang berkampus di Sin Min (sekarang kampus Mesen UNS Solo). Beberapa waktu lalu saat kumpulan dengan sedulur-sedulur ibuku dari Bapaknya, ada Pak Dhe yang berani  menyebutkan, : Seandainya saja ada yang mengarahkan dalam mengambil mata pilihan untuk sekolahnya, sangat mungkin hari ini ibuku adalah pensiunan dari seorang profesor.

Dalam banyak hal sekali lagi, ibuku adalah perempuan biasa saja. Ia bahkan tergolong perempuan yang kaku dan tidak pandai bersosialisasi, ya maklum sesuai dengan kemampuan otak kirinya yang terlalu berlebih, sehingga baik dan cakap jika menangani benda mati namun tidak cakap dan terkesan apatis jika berhubungan dengan mahluk hidup (bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya).

Tapi kenyataan itu aku terima saja sebagai anugerah, ia adalah tetap ibuku, sesering aku marah dan tidak sependapat dengannya, sesering pula aku minta dipijeti dan bercanda dengannya jika aku pulang kampung. Dan diantara kelima anak-nya, aku adalah termasuk orang yang begitu dekat dengan ibuku sebegitu aku dekat dengan bapak ibuknya ibuku terus kegenerasi atasnya sebagai pepundenku.  

Ada banyak cara orang memanggil sosok perempuan yang cukup berjasa layaknya ibuku, ada yang memanggil ibu, ibuk, bu’e, biyung, emak, simbok, simak, ma’e bahkan kalau kata orang kota dan bergaya modern serta kebarat barat-an biasa memanggil dengan sebutan mama atau mamah, atau bahkan mah …

tetap saja ibuku aku panggil bu’e.

bahkan sekarang sering aku panggil beliau biyung untuk membahasakan anak anakku menyebutnya. Dan aku juga ingin agar anak anakku memanggil ibunya adalah bu’e meski sekarang mereka masih memanggilnya dengan sebutan bunda … aku bahkan memanggil istriku dengan ma’e dengan tujuan agar anak anak juga memanggilnya demikian.

Mengapa demikian, aku hanya ingin sekedar mewariskan tradisi sebagaimana blog ini aku dedikasikan.

Ya, hanya untuk sebuah tradisi, tradisi kesederhanaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: