keras dudu (bukan) keris

Barang siapa ingin damai, harus perang dahulu !

Dalam beberapa hal, keputusan untuk bersikap secara keras memang diperlukan ! Dalam mempertahankan prinsip dan harga diri demi sebuah kebenaran misalnya, biasanya manusia benar benar sudi melakukan apa saja termasuk tindakan kekerasan meskipun sebenarnya kebenaran itu juga masih absurd dan terkadang masih prematur dan sepihak ?

Pelajar dan mahasiswa yang rela bangun pagi buta dan belajar hingga larut malam adalah usaha keras untuk mendapatkan kepintaran, kebisaan dan pengetahuan lebih yang selalu menjadi dambaan.

Soekarno yang menyemangati pemuda yang bernama Marhaen yang sudi menggarap sawah jauh sebelum matahari menampakkan dirinya  dan ayam jago berkokok adalah usaha keras yang diusahakan kaum tani untuk nguri uri (merawat, memelihara dan mensyukuri) harta pemberian Tuhan berupa tanah dan air serta tumbuh tumbuh-an.

Makanya para sesepuh selalu mengingatkan pada generasi penerusnya untuk : Keras boleh, tapi bukan keris !

Maksud dan tujuannya adalah sikap keras dan berpikir keras apalagi kerja keras bisa dibenarkan oleh akal dan nurani, tapi dengan menggunakan keris hanya untuk bersikap keras apalagi bersifat adigang adigung dan adiguna sangatlah bertentangan dengan akal dan nurani.

Bahkan (maaf agak sensitif dan berbau : Gender sedikit) pesan leluhur imbuhnya adalah :  

Wong lanang kudu atos sebab-e endas-e loro, lha nek wong wadon  memang kudu akeh omonge sebab-e cangkem-e loro

Artinya : dalam hal berpikir kita harus menggunakan logika laki laki sebagaimana laki laki yang punya kepala dua, sementara dalam bertutur kata kita harus menggunakan logika perempuan yang lemah lembut sebagaimana perempuan yang ber-mulut dua.

Tentu ini bukan legitimasi dan pembenaran atas sikap kekerasan mahasiswa terhadap polisi atau sebaliknya, juga bukan sikap kekerasan antara Jemaat Ahmadiyyah dan FPI dan juga sebaliknya. Ini adalah keras berusaha secara gigih dan tak mengenal menyerah apalagi putus asa. Atau pembenaran atas tindakan Ayin (Artalita Suryani) yang pintar merayu kaum jaksa sehingga bertekuk lutut dan menghambakan dirinya  sebagaimana syair lagu Titiek Puspa ?

“Namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut disudut kerling wanita”

Keras tapi bukan keris,

Meskipun keris itu ada, tapi keris dimaksud adalah ageman untuk mawas (“curigo” : senjata untuk memperingatkan diri sendiri) karena keris secara tradisi adalah tosan aji (citra jiwa : jati diri) jadi keris tidak sepadan dengan golok dan keris bukan pedang atau senapan yang bisa digunakan sesuka hati dan sewaktu waktu. Karena keris sebenarnya adalah alat untuk memperingatkan diri sendiri agar selalu waspada dan ingat (mawas) akan mara bahaya yang bisa datang kapan saja, menimpa siapa saja dan bentuknya bisa apa saja.

Makanya, meskipun penting, keris tetap disematkan di bagian belakang dan dan bukan di depan layaknya senjata kebanyakan. Keris juga bukan alat pemotong atau pembelah, ia adalah sekedar alat penunjuk (penusuk). Bukannya kalau untuk menunjuk atau menusuk sesuatu harus tepat dan perlu berpikir tujuh kali ? dan bukan pusing tujuh keliling ? 

Mungkin saja sesulih ini berlaku bagi siapapun (generik) yang berkehendak untuk memerdekakan dirinya (dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan)

Karena berpikir dan berbuat bagi masyarakat yang bertradisikan Jawa sebagaimana masyarakat desa tidak hanya menggunakan akal, otot dan otak tapi juga menggunakan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: