Renungan

August 13, 2008

Muhammad : Nukilan Menjelang Akhir Sang Nabi

Dengan suara yang lemah dan terbata-bata, pagi itu Muhammad saw, rasul terakhir, memberikan nasehat kepada sahabat-sahabatnya:

 

“Wahai umatku,

Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.

Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.

Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an.

Barang siapa mencintai sunnahku, berarti ia mencintai aku dan bersamaku kelak,

Orang-orang yang mencintaiku, akan masuk ke dalam surga bersama-sama.”

 

Sesudah mengakhiri khutbahnya, dengan tatapan yang teduh dan penuh kasih, Muhammad menatap wajah sahabatnya satu per satu. Bertahun-tahun Rasulullah melakukan kebiasaan mengabsen sahabatnya di pagi hari. Tetapi tatapan di pagi hari itu, lain dari biasanya.

Ada perasaan yang begitu berat mengganjal di hatinya. Ada perasaan tidak ingin hidup terpisahkan dari mereka. Siapa yang sanggup, berpisah dengan orang-orang terkasih, yang telah menemani dalam suka dan duka, selama lebih dari 22 tahun? Ia seperti ingin terus berada di tengah-tengah para sahabatnya, yang telah rela mengorbankan apa saja yang menjadi milik mereka, demi tegaknya risalah yang diemban rasul-Nya.

Suasana senyap. Para sahabat merasa, waktunya telah tiba. Sesudah haji wada, yang juga menyiratkan berakhirnya risalah kenabian Muhammad, para sahabat masih terus menunggu, kapan tiba waktunya. Dan kini mereka merasa, mungkin inilah saatnya.

Abu Bakar mamandang Rasulullah. Matanya menatap nanar dan berkaca-kaca. Umar yang gagah dan pemberani, sesak dadanya, berusaha menahan tangis sekuat daya. Utsman terpaku dalam diam. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Semua yang hadir tidak mampu megeluarkan kata-kata. Manusia tercinta itu sudah berada di ujung yang paling akhir dari perjalanannya. Usai sudah Muhammad menunaikan tugasnya.

Tatkala Rasulullah berjalan limbung turun dari mimbar, Ali dan Fadhal dengan sigap segera menangkapnya. Rasulullah segera dipapah masuk ke dalam rumahnya, yang hanya berjarak beberapa meter dari mimbarnya, di Masjid Nabawi yang mulia. Para sahabat semakin yakin, saatnya telah tiba.

Mereka terus berkumpul, di sekitar rumah Rasulullah, menunggu detik-detik berlalu. Matahari sudah meninggi, tetapi pintu rumah Nabi masih saja tertutup. Manusia agung yang mampu hidup lebih mewah dari segala raja, memilih tidur beralaskan tikar, terbaring lemah di dalamnya, bersama keluarganya yang mulia. Keringat yang mengucur dari keningnya membasahi pelepah kurma yang menjadi bantalnya.

Dari arah luar, tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berseru, “Assalamu’alaikum!” Fatimah, putri Nabi, keluar menemuinya. “Boleh saya masuk?” tanya laki-laki itu. Fatimah tidak memberinya izin, karena ayahandanya sedang terbaring lemah. “Maafkanlah, ayahandaku sedang demam,” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan segera menutup kembali pintunya.

Fatimah kembali menemani ayahnya. Rasulullah sudah membuka matanya saat Fatimah datang menghampiri. Ia bertanya pada putrinya, “Siapakah tadi yang datang wahai putriku?” Fatimah menjawab, “Aku tidak tahu, baru sekali ini aku melihatnya.” Lalu Rasulullah menatap wajah putrinya dalam-dalam, layaknya seorang ayah yang hendak pergi meninggalkan anaknya untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Ketahuilah wahai putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan kita di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Mendengar itu, meledaklah tangis Fatimah, yang selama ini ditahannya.

Saat malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah bertanya, mengapa Jibril tidka ikut bersamanya. Jibril sedang bersiap di atas langit untuk menyambut datangnya kekasih Allah, pamungkas para nabi dan Rasul, penghulu dunia ini. Lalu dipanggilah Jibril turun ke bumi mendekat kepada Rasulullah.

Dengan suaranya yang lirih Rasulullah bertanya, “Wahai Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Jibril menjawab, “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti kedatangan ruhmu. Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”

Jawaban itu tidak memuaskan Rasulullah. Di wajahnya masih terlukis kecemasan. “Apakah engkau tidak suka mendengar kabar ini, wahai kekasih Allah?” Jibril bertanya dengan heran. Nabi menukas, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku sepeninggalku!”

“Engkau tidak perlu khawatir, wahai Rasul Allah. Pernah Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” ujar Jibril menghibur.

Waktu semakin memburu. Malaikat maut didesak waktu. Ia harus segera menunaikan tugasnya. Apabila ajal telah tiba, tidak ada yang bisa menahan barang sedetik, tidak juga ada yang mampu mengulurnya, demikian janji Allah kepada seluruh manusia. Perlahan-lahan Israil menarik ruh Rasulullah dari jasadnya yang semakin melemah. Rasulullah bersimbah keringat di sekujur tubuhnya. “Aduhai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”

Rasulullah mengaduh perlahan. Suaranya lirih. Mata Fatimah Az-Zahra terpejam. Ali tertunduk dalam diam di sampingnya. Malaikat pengantar wahyu tak kuasa melihat penderitaan kekasih Allah, dibuangnya mukanya jauh-jauh.

“Apakah engkau jijik melihatku, hingga kau palingkan wajahmu dariku?” tanya Nabi kepada Jibril. “Siapa yang mampu melihat penderitaan kekasih Allah direngut nyawanya?” ujar Jibril.

Tak kuasa menahan sakit, Rasulullah memekik. “Ya Allah, betapa sakitnya maut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku. Jangan kau berikan kepada ummatku.” Sekujur tubuh Rasulullah, dari kaki hingga dada, sudah mulai terasa dingin. Di penghujung ajalnya, ketika nafas tinggal satu-satu meninggalkan rongga dadanya, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Ia masih ingin mengatakan sesuatu. Menantu Rasulullah yang berada di sampingnya segera mendekatkan telinganya, mendengar dengan sangat seksama. “Uushiikum bis-shalah, wa maa malakat aimanukum.” Itulah kalimatnya yang keluar. “Peliharalah shalat, dan santunilah budak-budak di antaramu.”

Di luar rumah, suara tangis para sahabat mulai terdengar bersahutan. Di sisa terakhir tenaganya yang tertinggal, Rasulullah masih berupaya mengucapkan sesuatu. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai membiru. “Ummatii, ummatii, ummatiii…” “Umatku, umatku, umatku…”

Nyawapun meregang, lepas dari jasad Rasulullah. Tangispun meledak. Semua sahabat merasa telah kehilangan manusia yang paling mereka cintai, manusia yang memiliki sebaik-baik akhlaq, yang sejak muda bergelar Al-Amin, Yang Terpercaya.

dikutip dari berbagai sumber dan dari beberapa Blog sahabat


Catatan Perjalanan

August 4, 2008

Minggu pertama bulan Agustus 2008 ini aku habiskan di kota Ambon karena sebuah perjalanan dinas untuk mengecek dan monitoring distribusi beras untuk jatah makan penghuni Rumah Tahanan (Rutan) dan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) wilayah Kantor Kehakiman dan HAM di Propinsi Maluku.

Ini adalah kegiatan rutin tahunan sebagaimana aku bersama anggota TNI dan Polri untuk memonitor penyaluran beras untuk anggota TNI dan Polri di daerah perbatasan, pulau terpencil, pengamanan terbatas, pengamanan daerah rawan dan pengamanan pulau pulau terluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga jika bersama Depnakertrans maka aku melaksanakan tugas monitoring distribusi beras untuk masyarakat transmigran terutama di daerah daerah terpencil dan rawan pangan dan atau bersama pihak Departemen Sosial mendistribusikan bantuan beras manakala terjadi bencana alam, kelaparan/rawan pangan dan daerah terdampak akibat suatu musibah/bencana.

Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke kota Ambon, begitu mendarat di Bandara Pattimura aku langsung dijemput Pak Irfan dari Dolog Maluku, bersamaan juga aku dijemput oleh Pak Dhe Gunawan Thaib (saudara Mbah Putri Umi Kulsum suwargi tapi lain ibu, karena Pak Dhe Gun adalah gawan mbah kaji Ridwan bapaknya mbah putri Simo).

Perjalanan dari Bandar Udara Pattimura ke kota Ambon dengan menggunakan kendaraan roda empat memakan waktu sekitar 1 jam atau berjarak sekitar 40 km. ia berjalan berkeliling naik turun perbukitan dengan jalan berkelok disepanjang tepi laut dalam (bukan pantai) teluk Ambon bagaikan huruf U, seandainya ditempuh dengan menggunakan kapal laut maka dari bandara Pattimura dan kota Ambon hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

Aku putuskan untuk sejenak ke rumah Pak Dhe dahulu lalu melanjutkan ke hotel Amans, dan temanku pak Agus salim dari Dep Kehakiman dan HAM aku persilahkan naik jemputan kantor dan langsung diantar ke hotel Amans kota Ambon.

Menuju rumah Pak Dhe adalah melewati jalan naik turun dan jalan penuh emosional mengingat betapa puing puing akibat akibat kerusuhan/konflik horisontal 10 tahun yang lalu masih begitu nyata dan terbengkalai dan ini selanjutnya menjadi wajah tersendiri ketika aku mengelilingi segenap kota Ambon dari sudut ke sudut.

Pak Dhe Gunawan saat ini di Ambon hanya berdua dengan isterinya, mengingat ke 3 anaknya sudah menyebar ngupoyo upo di berbagai tempat, yang pertama studi S-2 di Universitas Indonesia, yang kedua bersuamikan orang yang bekerja di Kalimantan Timur dan yang ketiga sekolah di Semarang Jawa Tengah.

Usai silaturahmi dari tempat Pak Dhe aku langsung diantar ke kantor Dolog (Divre Maluku di Jalan pengeringan pantai Wai Haong) sambil memberitahu bahwa persis di depan kantor ku terdapat makom/kuburan yang bertuliskan Makam Syuhada, karena pada peristiwa konflik horisontal terjadi, disinilah dimakamkan para pejuang muslim dan makam itu sekarang tidak lagi dipakai untuk pemakaman umum (hanya untuk makam korban syuhada kerusuhan Ambon) banyak nisan yang hanya bertuliskan “syuhada” tanpa tahu siapa dia.

Berada disini memberikan suasana cukup menggetarkan jiwa (Wajilat Qulubuhum …!!) dan sengaja aku kirim Al Fatihah untuk pejuang pejuang itu. Ya makam itu berbatasan langsung dengan tembok beton pemisah laut teluk Ambon yang dalam, biru dan bersih, tenang dan angker. Mata batinku bicara bahwa disini berudara teduh sejuk redup hening sepi dengan warna biru lembut dan tanpa semilir angin. Konon kata orang yang aku tanya, tiap malam Jum’at, tanah kuburan di areal ini mengeluarkan aroma harum wangi.

Pekerjaan kantor dan coklit (cocok dan teliti) data ke Kanwil Kehakiman aku laksanakan sebagaimana mestinya saja, selanjutnya aku sempatkan sholat Jum’at di masjid Raya Al Fatah Ambon. Uniknya mesjid itu sebenarnya ada 2 buah dengan jarak tidak lebih dari 10 meter yang satu bercat hijau namanya Masjid Jami dan satunya lagi bercat putih namanya masjid Al Fatah dan kedua masjid ini tidak terlihat sedikitpun ada puing atau bekas hantaman peluru/mortir/bom. Kata orang disekitar masjid dan jamaah masjid, menyebutkan bahwa tidak pernah ada bom dan peluru yang bisa meledak di areal kedua masjid ini. Ke khusus an kedua masjid itu adalah yang Jami khusus untuk sholat fardhu, dan masjid raya Al fatah untuk Sholat Jum’at.

Ambon, menyisakan sebuah kisah traumatis bagi bagi umat Islam maupun umat Kristen. Pernah ada jalan dibagi dua, kantor dibagi dua, pasar dibagi dua, pemukiman dibagi dua, terminal dibagi dua. Meski masih ada yang bertahan sedemikian rupa saat aku singgah setelah 10 tahun peristiwa itu berlalu ternyata masih juga ada keterbatasan keterbatasan itu. Masjid di perkampungan kristen tidak punya jamaah, gereja di perkampungan islam tidak ada jemaat yang datang.

Ada Masjid yang semakin dibakar semakin dibangun menjadi besar !!  demikian juga gereja semakin dibakar semakin juga dibangun menjadi besar !!


surat 2

July 27, 2008

Usai training LK I di gedung HMI Yosodipuro No. 81 Solo, aku ditunjuk sebagai koordinator eks angkatan Lk I Komisariat Fisipol UNS ini (Kalau tidak salah training itu dilaksanakan sekitar bulan Maret 1990-an).

Salah satu materis kegiatannya adalah asistensi dan penambahan wawasan ke HMI-an melalui kajian kajian yang dilaksanakan secara rutin, yang bersifat nonformal tapi sekaligus mempunyai nilai atas semangat dan kecintaan terhadap organisasi HMI ini.

Kajian dilaksanakan pada hari, tanggal dan jam yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, agendanya diputuskan secara bersama, biaya yang timbul ditanggung bersama, pembicara/pemateri dicari secara bersama, thema yang akan dikedepankan juga dibahas bersama, cuma undangan dan penyebarannya biasanya dilakukan oleh aku seorang diri.

Waktu itu memang belum ada HP atau Pager yang bisa SMS dengan singkat, murah dan cepat sampai ke tujuan dan segala pesan dapat segera tersosialisasikan. Dari sinilah maka menulis dan menyebarkan undangan adalah pekerjaan yang cukup melelahkan dan menyita waktu. Maklum peserta LK I angkatanku tempat kost-nya terbentang dari Pabelan, Unisri, Solobaru sampai kawasan Kenthingan yang senada dengan mengelilingi kota Solo dari sudut ke sudut.

Sebenarnya dari sinilah aku bisa mengambil hikmah bahwa, bagi mahasiswa : membaca pengumuman, mencatat, kemudian menghadiri apa yang dimaksudkan undangan/pengumuman itu adalah cara terbaik untuk melakukan proses pengkayaan informasi, pematangan berpikir dan kedewassan menghadapi segala urusan yang harus diselesaikan (dipilih dan dipilah)

Saking berjubelnya agenda dan kegiatan, terkadang mengirim dan menulis undangan adalah pekerjaan yang membosankan ! dan menghadiri undangan juga pekerjaan yang menyita waktu dan biaya, terlebih jika kantong lagi bokek/kosong ? Waaah bisa tambah runyam …

Makanya waktu demi waktu menghadiri asistensi untuk pengkayaan informasi sesama alumni LK I angkatan Maret 1990 makin lama pesertanya makin sedikit … tergerus oleh waktu dan masa, dimana aktivitas di kampus juga semakin banyak dan tak bisa ditinggalkan … (pilihan yang berat : menjadi aktivis kampus dan menjadi aktivis HMI/ekstra kampus)

Dari sinilah cerita itu muncul, ditengah kebosanan menghadiri undangan … maka pada sebuah undangan aku tulis pada bagian penutupnya (meminjam syair lagu dari KLA Project yang lagi inn waktu itu) : … Cukup bagiku … hadirmu … membawa cinta … selalu uuuu … dengan tujuan agar para pembaca menjadi tertarik (tidak bosan/jenuh) dan pada akhirnya bersedia datang menghadiri acara yang sebenarnya sudah di agendakan bersama itu.

Spontan saja mas Joko Purnomo (Joko Pitek: Salah satu aktivis HMI paling kawakan yang aku kenal) yang mengasisten-i kami memperingat kan aku : Yanuar … di HMI itu kalau menulis surat ada tata bahasa bakunya !! jangan kamu menulis se enak pikiran mu ?? ini menyalahi konstitusi !!

Aku terdiam saja …

Maklum sebenarnya aku tahu kalau menulis surat di HMI adalah selalu diawali dengan : Assalaaamu’alaikum wr. wb. Ba’da salam sejahtera semoga rahmat ALLAH SWT senantiasa terlimpahkan kepada kita semua, Sholawat dan Salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga terlimpahkan kepada kita sekalian ……. dilanjutkan maksud dan isi surat …… dan penutupnya diakhiri dengan kalimat : ….  Billahit taufiq wal hidayah, wassalaaamu alaikum wr. wb. baru ditutup dengan tanda tangan ketua dan sekretaris (cap stempel).

Tetapi maksud hati kan, agar surat terbaca lebih seger, baru, unik dan menarik hati pembacanya … dan pada akhirnya si pembaca sudi meluangkan waktunya untuk datang menghadiri undangan tersebut ??

Lha, kenyataannya kalau aku tutup dengan syairnya KLA Project … itu kesalahan yang cukup fatal !!!

Yaa sekali lagi, mohon maaf kang Joko Pitek …


do’a dan pendo’a

July 25, 2008
Dalam khasanah batin, untuk membangkitkan semangat hidup, kepercayaan diri dan ketenangan hati manusia memerlukan the ultimate goal atau suatu Dzat yang diyakini sebagai Sang Maha Segalanya yang hendak di tuju batin kemanusiaannya itu dalam memenuhi kekosongan hati dan jiwanya.
Berbagai cara di pakai manusia untuk hasrat yang satu itu, namun yang namanya manusia sering kali lupa akan petunjuk Tuhan di dalam kitab Suci Nya, ketika kita disediakan dua wahana pilihan Syurga dan Neraka dimana manusia berhak sebebas bebasnya memilih.
Syurga dan Neraka menurutku suatu adalah bentuk ganjaran atas kebenaran dan kebaikan dan bentuk hukuman atas kesalahan dan kecerobohan/keburukan.
Dalam tiap doa yang dihadirkan oleh manusia pada umumnya adalah  kalau manusia telah merasa mempersembahkan kebaikan dan kebenaran maka manusia itu mengharap Syurga atau setidaknya Pahala. Nah, kalau ndilalah melakukan kesalahan dan kecerobohan/keburukan, ternyata manusia cenderung mohon ampun dan tetap mengharap Syurga juga !!
Lalu Neraka selanjutnya untuk siapa ? Bukankah kalau berbuat salah/buruk/ceroboh kita musti konsisten dan konsekuen untuk bersedia dihukum dulu ? bukannya soal minta ampun dan minta minta yang lainnya itu dibahas pada halaman dan bab yang lain ?
Berikut ini ada pinjaman puisi-nya WS Rendra, untuk sekedar me-refleksi diri dan khatarsis :
Sering kali aku berkata
Ketika orang memujiku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipanNya
 
Bahwa mobilku hanya titipanNya
Bahwa rumahku hanya titipanNya
Bahwa hartaku hanya tiipanNya
Bahwa istriku hanya titipanNya
Bahwa putraku hanya titipanNya
 
Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan pada ku
Untuk apa Dia menitipkan pada ku
 
Kalau bukan milik ku
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini  ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
 
Ketika diminta kembali
Kusebut itu musibah
Kusebut sebagai ujian
Kesebut sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja
Untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
 
Ketika aku berdoa
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta
Ingin lebih banyak mobil
Lebih banyak rumah
Lebih banyak istri
Lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
 
Seolah,
Semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah,
Keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
 
Aku rajin beribadah
Maka selayaknya derita menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah “Mitra Dagang” dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas “Perlakuan Baikku”
Dan menolak keputusanNya
Yang tak sesuai keinginanku
 
Ya. Rabb, padahal tiap hari kuucapkan
Hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu,
Ketika langit dan bumi bersatu
Bencana dan keberuntungan sama saja,

si kidal

July 25, 2008

Anak kedua ku, perempuan bernama Annisa Nawangsari, aku memanggil anak perempuan kesayangan ini dengan Mbak Gendis, makanya teman sekolahnya, simbah dan semua saudaranya akrab memanggilnya dengan Mbak Gendis.

Bagiku Mbak Gendis adalah anak yang lucu. Disamping jenis kelamin dan jenis rambut yang berbeda dengan kakak-nya, Mas Alif yang berjenis kelamin laki laki dan berambut lurus, maka mbak Gendis adalah sosok perempuan yang ber-rambut ikal/keriting.

Uniknya lagi, Mbak Gendis memiliki orientasi menulis, menggambar, memegang benda dan berkarya dengan lebih mengandalkan tangan kiri alias kidal beda dengan kakak nya yang berorientasi dengan tangan kanan. Subhanallah … sebuah anugerah Allah yang Maha Indah dan Mengagumkan !.

Terus terang aku tidak pernah menyangka sebelumnya, namun ketika memasuki usia setahun dan aku mulai mengamati gerak tangannya yang lebih lincah dan cekatan dengan tangan kiri … maka aku berkesimpulan, barangkali Mbak Gendis memang kidal, hal ini adalah sesuatu yang langka sekali (tidak ada) dalam ruang kingkup kekerabatan keluarga besar ku dan keluarga besar istri ku.

Ibaratkan nantinya akan memiliki bakat dan kebisaan sebagai penggesek/pemain biola atau pemain pingpong bahkan pemain bulutangkis sekalipun, aku akan bangga dibuatnya. Dan itu sudah aku katakan pada Mbak Gendis sejak kecil, bahwa ini adalah kelebihan yang diberikan oleh ALLAH pada Mbak Gendis. Tentu juga menambah kelucuan, keindahan dan kehebataan anugrah ciptaan Nya itu.

Membayangkan keunikan orang orang bertangan kidal adalah pemikiranku sejak lama, aku masih ingat teman SMP ku di SMPN 10 Magelang yang bernama Teguh Priyanto yang beraktivitas menggunakan tangan kidal, demikian juga beberapa Presiden Amerika seperti Abraham Lincoln dan Bill Clinton, ibu kost ku di Kupang NTT, Mak Liem yang bersuamikan orang Magelang (Pak Dhe Slamet), beberapa teman kantor di Dolog NTT juga kidal. Entah mengapa begitu kagumnya aku dengan orang orang yang bertangan kidal. Sekarang syukur Alhamdulillah ternyata anak ku yang perempuan juga kidal.

Kidal, memang lebih baik


heart attack

July 25, 2008

Ini semoga menjadi kisah klasik yang pernah menimpa diriku dan tidak terulang lagi di masa masa mendatang. Aku coba tuangkan dalam catatan ini semoga mampu menjadikan pepeling (peng-ingat ingat) akan sesuatu yang kurang baik dan berharap sebagai badan/lembaga kontrol atas diri ku sendiri, dan semoga menjadi pelajaran bagi pembaca budiman.

Salah satu yang membuat aku jadi begini selain karena Takdir, maka ia adalah akumulasi dari kegemaran ku akan melahap setiap makanan (asal sehat/baru/hangat/panas) dan tak satupun aku membedakan makanan yang satu dengan yang lain, semua aku suka, suka dan suka. Entah itu masakan Padang, Arab, China, Manado, Eropa, Asia, Malaysia, Jawa, Bugis, Kupang, Madura, bahkan masakan Irian sekalipun.

Kegemaran ku itu ternyata ditunjang pula oleh jenis pekerjaaan ku yang juga mengurusi bahan pangan rakyat se Indonesia, dan rata rata pekerjanya juga gila makan !! Mengapa gila makan ? Ya pastilah … misalnya kalau aku tugas ke Daerah maka orang daerah pasti akan melayani aku (yang notabene orang dari kantor pusat) dengan hidangan makanan khas daerah yang aku tuju.

Nah sementara kalau aku pas tugas sebagai orang daerah, maka salah satu kegiatannya adalah menjamu orang orang pusat yang adatang ke daerah dimana aku bertugas.

Jadi setali tiga wang ?

Intinya sejak di tugaskan di Kupang NTT, di DKI Jakarta dan di kantor pusat … maka hampir semua tempat makan favorit di kota ini sudah aku kunjungi dan dari sinilah penumpukan sisa sisa makanan itu menjadai bahan dasar berbagai jenis penyakit.

Kejadian itu bermula pada tahun 2001 sampai 2003 dimana aku ditugaskan di Gudang Bulog tepatnya di GBB X/MP IV Kelapa Gading Jakarta Utara.  Kala itu gudang tersebut secara khusus dijadikan gudang Gula pasir (Tim Pergudangannya antara lain : saya sendiri, Pak Kartubi, Pak Arif, Pak Sucipto, Pak Yudi, Pak Daeng, Pak Kusen dan tiga orang harian yaitu Bibik, Pak Akam, Udin dan Encep)

Karena sibuknya pengeluaran dan pemasukan di Gudang Gula Pasir itu pernah sekali waktu aku memegang stok sebanyak  17.000 ton (tujuh belas ribu ton) atau senila Rp. 85 milyar lebih, jika di angka-kan per kilogram gula pasir adalah Rp. 5.000,-

Dalam kesibukan yang tidak mengenenal waktu itu, maka pola makan menjadi tidak teratur, sementara perputaran uang yang cukup tinggi di gudang (tip dari pengangkut dan pemilik barang) juga menyebabkan aneka makanan yang dimakan adalah makanan yang mengandung protein, lemak, karbu hidrat dan sebagainya cukup tinggi dan terlalu berlebihan, dan itu sepanjang pagi siang sore dan malam selama tiga tahun berturut turut.

Dalam sebuah check up rutin, dokter mengatakan bahwa tekanan darah ku mencapai 230/140 sebuah angka yang sangat membahayakan, memang yang aku rasakan adalah sering sakit kepala yang berlama lama dan sementara ini di kantong baju ku tersedia selalu obat sakit kepala. Tapi ternyata semua itu tidak menyelesaikan masalah … bahkan masalah ternyata semakin bertumpuk … yaitu sakit di sekujur badan.

Nafas mulai pendek pendek dan ngos ngosan, susah tidur kala malam hari, tidak kuat jalan jauh, tidak kuat mengangkat beban bahkan menggendong Mbak Gendis sekalipun, sampai baju dan celana pada kesempitan semuanya. Mulai limbung dan pada suatu sore sepulang kerja tiba tiba sekujur kakiku membengkak dan tidak bisa di pakai untuk menekuk atau berjalan. Bahkan berjalan dari dari pemberhentian bus ke rumah kontrakan di Klender saja hampir tidak sanggup.

Sesampai dirumah untuk buang air juga tidak bisa jongkok ? ada apa ini ? maka aku buka buku “Dokter di Rumah Anda” …. nah terbukalah disini, bahwa aku di mungkinkan terkena serangan jantung atau heart attack !!

Malam itu juga langsung dirawat di RS Islam Pondok Kopi (sekitar tahun 2003) karena lokasi rumah sakit itu terdekat dengan rumah kontrakan di Klender.

Sampai dengan tahun 2008 sudah tercatat aku keluar masuk rumah sakit sebanyak 5 kali alias hampir setiap tahunnya hampir pernah dirawat di rumah sakit, terakhir bahkan setelah diketahui aku mengindap gejala pembengkakan jantung maka sejak 2004 aku pindah rumah sakit ke Harapan Kita Jakarta, dengan dokter yang menangani aku yaitu dr. Anna Ulfa Rahayoe.

Bahkan di tahun 2008 bulan Pebruari dan April ini aku masuk rumah sakit lagi, pertama di Harapan Kita Jakarta, yang kedua di Unit Perawatan Jantung  RS. Kariadi Semarang, sampai juga mondok di penyembuhan alternatif dengan pijat syaraf dan ramuan tradisional di rumah Bapak Ugiyanto – Balun – Wanayasa – Banjarnegara – Jawa Tengah. Juga konsultasi khusus ke seorang dokter muda yaitu dr. Mada di Ungaran Jawa Tengah.

Syukur alhamdu lillah. Sejak bulan April sampai dengan akhir Juli ini aku setidaknya sudah merasa fit dan seger kembali, aku bersyukur kepada ALLAH SWT dan berterima kasih pada dokter dokter yang sudi menangani aku serta seorang bapak dengan semua anak buahnya di Mbalun yang tulus juga membantuku.

Mereka mereka adalah, dr. Anna Ulfa Rahayoe, dr. Yusak, dr. Shodiqul Rifki, dr. Mada, dr. Nurcholis, Pak Ugiyanto bersama Misono, Miskun, Misdi, Misroh, Tunut, dan teman temannya, tak lupa kepada semua sedulur sedulur ku yang semua mempedulikan aku.

matur nuwun sanget.


akik

July 24, 2008

Sampai dengan hari ini sudah sekitar 300-an batu akik yang aku koleksi. Banyak nama nama yang menarik untuk menyebut batu akik berdasarkan dari warna dan jenis batuannya, ada kecubung, kalimoyo, badar, jadam, jamrud, mirah, siyem, topas, batu es, lazuli, combong, moto kucing, ponco warno, rubi, pandan, cempoko, anggur, siwalan, giok, pirus, safir, dan banyak lagi. 

Hobiku memakai batu akik di jari manis sudah ada sejak di bangku SMP dahulu. Pertama kali aku memiliki batu adalah pemberian dari ayahku sewaktu beliau bertugas di kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi, waktu itu beliau memberikan aku beberapa akik yang namanya sarang lebah, siwalan, mata kucing dan batu item (kata cerita seorang perempuan tua paranormal di daerah itu bahwa ia mempunyai firasat, beberapa batu kepunyaan nya ingin ikut saya, ya bapak ku nurut saja dan memberikan beberapa batu itu kepada ku)

Keinginan memakai batu akik semakin lama semakin menggila terlebih pada saat memasuki SMA dan masa masa kuliah di Solo. Ditambah dengan mobilitas keluarga dan aktivitas ku yang menyebabkan aku sering bepergian ke berbagai kota dan pulau di pelosok nusantara utamanya di Jawa dan Sumatra (saat orang tua ku bertugas di propinsi Jambi) menyebabkan jumlah akik di koleksi pribadiku semakin meningkat banyak. Maklum, biasanya setiap berkunjung ke suatu kota/daerah maka akik bagiku adalah bukti penanda bahwa aku telah sampai di daerah itu. Bahkan semua sejarah akik ku aku tahu persis.

Setiap aku menyinggahi suatu kota, maka yang aku tuju pertama kalinya adalah ada tidaknya pasar akik/batu mulia atau tempat pusat kerajinan/pengasahan batu akik atau mencarinya di alam (sungai dan gunung) sesampainya disana maka setidaknya sebanyak 3 biji aku usahakan untuk aku miliki melalui membeli, barter atau bahkan mencari sendiri bakalan batu yang memiliki ciri ciri baik/batu mentah.

Terkadang akik juga aku “ada”kan sebagai sebuah penanda, misalnya tahun baru Muharram, Ulang tahun ku, Ulang tahun anak anak, Saat saat tertentu, misalnya pada saat aku sakit jantung aku beli akik dengan warna darah dalam pembuluh darah yang mengalirnya tinggal separuh, itu sebagai penanda bahwa ternyata dalam urat darah ku sudah terbentuk jaringan lemak yang menebal sehingga menimbulkan penyempitan pembuluh. dan sebagainya.

Dari koleksi ku yang ada terdapat batu dari Aceh, Jambi, Medan, Kupang, Jogyakarta, Malaysia, Thailand, Bugis, Kalimantan, Jakarta, Magelang, Surabaya dan banyak lagi daerah daerah lainnya.

Dari keaneka ragam an warna rasanya sudah komplit, ada yang merah, kuning, hijau, oranye, biru, bening, hitam, coklat, biru, lumut, mengkilat, tidak berwarna, bolog bolong, dan warna ngacak.

Jadi, rasanya jika aku memakai kemeja dan celana apapun aku sudah bisa ngepas biar matching antara warna pakaian yang dikenakan dengan warna batu akik yang dipakai begitu.

Demikian juga kalau soal ukuran, ada yang kecil, sedang bahkan ada yang besar sekali sehingga tangan ini terasa panjang sebelah jika memakainya.

Biarlah, kegemaran ku pada akik terpelihara selamanya, sampai kapanpun nantinya, karena bagiku memandangi akik berjam jam akan menimbulkan sensasi kepuasan batin yang luar biasa.