Kaweruh Keslametan diri
Sesanti kapribaden poro leluhur
Sugih tanpo bondho
Digdoyo tanpo aji
Ngurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Timah mawi pamrih
Suwung pamrih tebih ajrih
Langgeng tan ono susah
Langgeng tan ono bungah
Anteng Mantheng sugeng jeneng
(Pambukane serat “CENTHINI”)
Sesanti aji adalah barisan kata kata yang berarti do’a, pengharapan, keinginan, cita cita yang juga sekaligus bisa memberikan dorongan semangat pada otot kerja dan spirit pada otot otak dan gairah pada otot darah.
Karena sesanti aji bukan hanya kata kata kosong belaka tanpa makna, tapi ia sanggup memicu dan memacu gemuruh dalam sanubari dan nurani menjalar melewati tulang sungsum, melenturkan tulang punggung dan memecah kebekuan otak dan darah dan menjadikannya enteng, hangat dan cair.
Ia membuat badan segar bersemangat, pikiran positif dan cerdas sekaligus memberikan ancar ancar bagi kesiapan hati dengan senantiasa berlapang dada dan menerima kenyataan dengan ihlas lilo legowo dan rela tanpa ragu sedikitpun.
Dalam judul aku sebutkan :
Awas : Memandang secara cermat, seksama dan jeli sekaligus waspada dan penuh kehati hatian.
Teteg : Teguh pada pendirian/Istiqomah
Eling : Ingat akan apapun yang dikatakan, dipikirkan dan diperbuat dan selalu mengingat siapa diri kita dan siapa yang kita ajak bicara (siapa lawan kita)
Toto : Tertata, semuanya serba siap dan tertata dengan teratur dan tertib
Tentrem : Jiwa dan hati yang diliputi rasa kenyamanan, kepuasan dan tidak memaksakan sesuatu untuk dimiliki
Tatas : Mengerjakan sesuatu secara selesai tuntas dan tidak meninggalkan permasalahan lainnya
Titis : Tepat dalam mengenali sesuatu dan yang semestinya saja, tidak melebar ke persoalan yang tidak jelas juntrungan-nya.
Kesemuanya merupakan jalinan inti kata kata yang mistis religius dan berbobot ! bahkan bisa diterima jenis mahluk apapun (Jin, Hewan, tumbuhan dan semesta alam), oleh bahasa apapun, didengar oleh telinga siapapun, dirasakan oleh setiap hati siapapun yang terbuka, dan dilihat oleh setiap mata hati dan mata badan yang memandangnya.
Sesanti aji menjadi kata kata kunci pada setiap langkah manusia dan kemanusiaan, karena sesanti aji adalah bahasa ruh, bahasa yang hendak meng-komunikasi-kan jalinan akulturasi dan pemesraan (harmonisasi) antara keinginan mahluk (binatang, tumbuhan, manusia, jin, setan, prewangan) dan Kehendak Tuhan Sang Penguasa Jagad Besar.
Sesanti aji bukanlah kata kata biasa
Ia adalah do’a
pengharapan
cita cita, sebagaimana :
Syair ” Dhandhanggulo”
Sakehing loro samiyo bali
Sakehing omo samiyo mirubo
Welas asih pandulune
Kadyo kapuk tibaning wesi
Sakehing wiso towo
Sato kurdo tutut
Kayu agung lemah sangan
Soring landak guwaning mung lemah miring
Nyang pakiponing merak