Nama 1

July 18, 2008

Menjadi pengurus cabang di HMI adalah saat saat yang paling indah, kita hidup dalam satu komunitas di gedung HMI Cabang Surakarta  suka duka begitu bergulir dinamis dan berkesan sekali, dari banjir bandang, WC mampet, Tagihan listrik, air dan koran macet, minta sumbangan ke alumni, kiriman wesel terlambat, sampai bergunjing soal HMI wati dan rasan rasan (memang itu sebagai ketentuan tidak tertulis, dimana pengurus cabang harus bertempat tinggal di kantor cabang).

Nah kebetulan saat itu baru dipasang telepon umum yang bisa di panggil atas nama HMI cabang Solo tentunya dengan nomor khusus. Saat itu belum ada yang punya Hape dan telepon umum cabang menjadi tempat favorit berkomunikasi.

Pada suatu hari ada telepon dari seorang perempuan Kohati komisariat Sunan Kalijogo Unisri, kebetulan namanya adalah WALJINAH.

Dan penerima telepon adalah Heri Bakwan (Pengurus cabang dari komisariat Ahmad Yani)

Pembicaraan berlangsung :

Waljinah (penelpon perempuan) : Halo, asalaamu’alaikum !!

Heri Bakwan (penjawab di HMI Cabang) : Waalaikum salaaam, ini siapa ??

penelpon perempuan : Ini Waljinah …

Heri Bakwan menjawab : OOO yaaa ….. ini Mus Mulyadi !!

Spontan kami ngakak …. lha wong memang ada anak komisariat Unisri yang bernama Waljinah kok … malah kamu ngledek dengan menyebut diri mu :  MUS MULYADI !!??

weleh weleh ….


Usai makan

July 18, 2008

Lagi lagi soal boncengan bertiga !

Memang kala itu bagi pengurus cabang, motor adalah sarana yang sangat vital, bahkan sering jadi konvensi dimana untuk menduduki jabatan Sekretaris Umum (Sekum) harus mempunyai sepeda motor !

Begitulah elan vitas perjuangan kader kader HMI tahun 1990-an !

Kejadiannya adalah usai sholat jum’at, aku bertiga (Aku, Mardi Nugroho dan Fudoli) boncengan kendaraan dengan Vespa-ku itu menuju tempat makan favorit, saat tanggal muda dan hati gembira, kita biasa makan di Rumah Makan Tiga Serangkai (dekat Sriwedari) karena ada soto yang enak, sego pecel yang manteb serta es teh yang bisa jog/nambah.

saat pulang usai makan di warung makan Tiga Serangkai kita ketawa ngakak ngakak keras sekali, maklum antara warung makan dan kantor cabang hanya seperti huruf L saja, dan mudah di jangkau… kita ngebut, ketawa ngakak karena Mardi dan Fudoli terkenal suka Ndagel !!! aku yang pegang setang kemudi tinggal ikut ketawa saja !!!

Nah, pas mendekati kantor cabang, tepatnya di gedung sebelah cabang (Gedung bertuliskan “Tontowi”) tiba tiba tangan kiriku ada yang memegangnya erat erat. Aku masih ketawa saja hahaha …. tapi kok aneh … Fudoli dan Mardi diam saja ??? ada apa ???

Teryata yang memegang tangan ku adalah tangan Pak Polisi !!! aku juga kaget pada akhirnya !!!

Walah !!! ketilang lagi nih !!

Aku langsung berhenti saja di depan gedung itu … pak maaf pak, bagaimana kalau kita ke kantor saja … usul ku pada Pak Polisi, mana kantormu !! bentak Pak Polisi… maka aku jawab penuh takut : Ini …. sambil aku menunjuk kantor HMI cabang Solo…

Walah deek !! mbok yaooo kalau naik sepeda motor itu jangan bertiga … dan harus pakai helem dong !!! nanti bahaya !!!

Iya pak !! jawab kami bertiga, sebenarnya sih kami hanya pergi untuk makan di depan situ pak….

Ya … sudah …. pak Polisi pergi begitu saja…

Aku, Fudoli dan Mardi kembali ngakak … kakakakakak ….


Surat

July 18, 2008

Usai training LK I di HMI Cabang Solo, aku langsung ditunjuk sebagai ketua panitia konperensi cabang – karena bersifat mendadak, darurat dan harus disegerakan karena satu dan lain hal, maka konperensi cabang itu dinamakan luar biasa – atau Konperensi Cabang Luar Biasa.

Saat itu aku yang baru sekitar satu minggu menjadi anggota HMI, maka jalinan perkawanan ku tentu masih terbatas, maka untuk menyusun kepanitiaan aku langsung menunjuk Susanto Kartubij (sekarang adalah kandidat Doktor ilmu komunikasi yang sekolah S3 di Universitas Indonesia) sebagai sekretaris-ku dan beberapa teman untuk beberapa seksi dalam kepanitiaan.

Kenapa aku memilih Susanto Kartubij, ya karena bagiku ia adalah satu satunya kawan ku yang mahir komputer (sejak saat itu, hingga hari ini ia memang ahli komputer) dan ia bersedia bekerja bersama dalam kepanitiaan bersama aku saat itu.

Hari berjalan, rapat ditentukan, keputusan dijalankan, surat dilayangkan, undangan disebarkan, proposal dana diedarkan. semua tampak berjalan sebagaimana mestinya.

Tiba tiba, Dwiki yang kala itu sudah pengurus cabang, mencak mencak dan bernada marah memperingatkan pada saya dan Santo (panggilan akrab Susanto Kartubij) dan mengatakan : “Yan ! Apa kamu tidak pernah membaca pedoman organisasi ?? Apa kamu tidak bisa menulis surat dengan benar ?? apa kamu tidak tahu kalau berkirim surat itu ada bahasa bakunya ?? dan banyak lagi pertanyaan dari Dwiki (Sahabatku yang terkenal sangat teliti, kaya informasi dan rajin membaca).

Aku terbengong saja, Wik (panggilan Dwiki) apa salahku ?

kamu tahu nggak kalau memberi nomor dan kode surat di HMI itu hanya ada 2 kode saja (yaitu A : Kalau bersifat Internal dan B : jika surat itu ditujukan kepada pihak luar/bukan HMI) …. masak ini ada kode surat sampai huruf G (Ge) …. apa apaan ini ?????

Aku dan Santo terdiam, dan lalu segera memperbaiki surat surat itu, dan selanjutnya kami baru sadar bahwa memang surat perlu kode dan nomor yang jelas …!

Kalau teringat hal itu aku jadi tertawa sendiri …. sambil melihat buku catatan Santo yang memang diurutkan dari A, B, C, D …… sampai G !!

hehehe…..hehehe….

Aku sih tahunya tinggal tanda tangan saja ….ternyata keliru,

Sorry ya Wik ??


Ketilang

July 18, 2008

Usai mengelola training LK I yang diselenggarakan di Gedung HMI Tower (Gedung Baru HMI di Kenthingan) dengan pelaksana Komisariat Fakultas Kedokteran, sekitar jam 3.30 dinihari aku bertiga berboncengan dengan satu kendaraan yaitu Vespa. Kala itu Aku bersama Dwiki dan Cak Olik.

Hari masih pagi buta dan gelap ! Vespa melaju melintasi kawasan Kenthingan terus lurus ke  arah Rumah Sakit Dr Muwardi dan melewati simpang lima Panggung, melewati gedung bioskop Rama teater terus ke arah Margoyudan menuju pasar Legi dan berakhir di kantor Cabang Yosodipuro.

Nah kejadian itu, terjadi mana kala melintas di depan SMA I Margoyudan, tiba tiba dari arah belakang datang polisi dengan pakaian dinas lengkap yang hendak ke Kantor menangkap kami.

Karena hari masih gelap, maka mesin Vespa sengaja tidak aku matikan dan aku biarkan lampu menyala.

Pak Polisi bertanya sekaligus meminta aku menyerahkan surat surat kendaraan berupa SIM dan STNK.

Spontan saja aku memegang erat erat SIM dan STNK kendaraan itu lalu menjelaskannya di depan lampu kendaraan yang masih menyala itu, biar jelas dan terang : “Pak Polisi, ini STNK kendaraan milik dan atas nama Bapak saya, dan ini SIM atas nama saya” jadi apa salah saya ??

Spontan Pak Polisi mau mengambil STNK dan SIM saya tersebut, spontan juga aku memegangnya erat erat dan tidak aku berikan pada pak Polisi itu.

mana STNK nya !!! bentak Pak Polisi.

Aku jawab : Pak setahu saya di undang undang kan hanya menunjukkan, bukan menyerahkan ? jadi ya sudah ini aku tunjuk kan dan tidak akan aku serahkan kepada Bapak ! tegasku.

sekali lagi : Ini SIM atas nama saya, ini STNK kendaraan atas nama Bapak saya !

Demikianlah, kebetulan Pak polisi cukup kooperatif… tapi kemudian beliau bilang : Dik, dilarang naik kendaraan berboncengan tiga orang, ini berbahaya !!

Aku tidak kalah akal : Nah, sekarang kan Bapak sendirian, kami berboncengan bertiga sementara tujuan kita adalah sama, kearah barat, kiranya Bapak bersedia memboncengkan salah satu teman kami …. biar tidak melanggar ketentuan lalu lintas ??? Bagaimana pak ??? Dan Cak Oliq yang aku minta membonceng pak Polisi.

Waaahhh kamu …dik, bisa saja ???!!! Sambil mengajak salah satu teman kami di boncengkannya.

Sampai di kantor Cabang, Dwiki dan Cak Oliq ketawa ngakak !!!

Aku sih … senyum masgul saja ???


Cerita anak

July 18, 2008

Kemarin sore, ada cerita sedih dari Mbak Gendis dan Mas Alif, kucing kesayangannya yang bernama Bola ditemukan dalam keadaan sudah mati. Tambahnya, Bola mati dalam keadaan perut membuncit dan kepala berdarah. Aku jelaskan, mungkin itu karena diracun orang atau makan makanan yang mengandung racun karena biasanya kucing mati dalam keadaan ringan dan kering. Ya, sudahlah… aku katakan pada mereka, apakah sudah membacakan surat Al Fatikhah ? jawab mereka berdua… sudah yah … syukurlah, kucing juga mahluk Tuhan. Apalagi si Bola sudah mengisi ruang keluarga kita ini sudah cukup lama. Si Bola lahir sekitar 8 tahun yang lalu, bahkan beberapa tahun terakhir pernah tertabrak motor sampai tulangnya hancur … untungnya pelan pelan kita sekeluarga berhasil mengupayakan untuk kesembuhannya dan sembuh kembali, meskipun jalannya agak tengkleng dan pincang. Kini bola benar benar sudah mati.

Dengan bantuan teman teman Mas Alif dan Mbak Gendis, maka Bola dikubur secara baik baik di sebelah ujung barat lapangan sepak bola Kebon Singkong, tempat anak anak dan aku biasa bermain di minggu pagi untuk sekedar tamplek tamplek’an wulu (bulutangkis) dan ber polah raga, terutama becanda dan bersenang senang bergembira.

Kedekatan keluarga-ku dengan binatang terutama kucing dan burung serta tanam tanaman cukup baik. Kami semua penyayang binatang dan tumbuhan. Kalau dikumpulkan dari yang ada di desa dan di Jakarta maka ada 26 ekor burung perkutut dan empat ekor kucing, serta berpuluh tanaman yang terawat dalam tabulapot.

Hobi ini sebenarnya adalah hobi turunan, kata orang bapak ku juga sewaktu kecil gemar menangkap dan memelihara binatang terutama burung perkutut. Sewaktu kuliah di Solo dulu, bahkan aku pernah memiliki 14 ekor burung (dari Perkutut, Cocak Rowo, Pok Say, Kutilang, Prenjak, Robin, Kenari dan Trocok) bahkan pada saat aku aktiv di HMI Cabang Solo, aku juga membawa peliharaan itu ke kantor cabang dalam 4 kurungan besar, ada jalak Bali, Jalak Ireng, Derkuku dan Puter) ini adalah sesuatu hal yang aneh bagi pengurus cabang kala itu.

Kembali ke Si Bola, ia bagi ku sudah bukan sekedar binatang lagi, ia bagiku telah menjelma menjadi prewangan (rewang/pemaham ku : binatang yang memahami aku), ketika aku sakit dulu, ia tiap malam tidur di kaki ku. Sebelum tidur di kaki ku terlebih dahulu menjilat i rambut kepala ku. ini suatu yang aneh.

Demikian juga pada anggota keluargaku, entah karena kebiasaan yang sudah lama, maka dengan kata kata dan perintah lisan ala manusia, kucing itu sepertinya paham akan maksudnya, demikianlah sekilas kehidupan keluarga ku dengan binatang binatang kesayangnnya.

Terbukti setiap kami memiliki binatang yang akan dipelihara dan dirawat, maka hal pertama yang ada adalah memberinya nama, misalnya kucing kedua bernama Poleng karena belang hitam putih, dan kucing ketiga bernama kampret karena terkadang jahil kaya kampret/kelelawar.

Demikian juga burung peliharaan yang ada, kebetulan perkutut semua (jalak dan Kutilangnya sudah duluan mati karena usia), adapun nama perkutut itu adalah Triman, karena perkutut ini jinak sekali, mudah bertengger di tangan dan menerima segala apapun dari saya. Sumeh, karena rajin sekali bernyanyi/manggung layaknya orang yang murah senyum. Sebloh, ia rajin makan… kalau makan sampai kedengaran cucukan makanannya cuk … cuk … cuk…  dan makanannya banyak sekali. Gito/gati : perkutut kembar asli Jawa yang aku beli dari gaji ke tiga belas 2 tahun yang lalu (Gati : Gaji Tigabelas/Gito : sahabatnya gati), ada juga yang bernama kencono sworo : suaranya bagaikan emas … merdu terlebih di dengarkan esok pagi pagi sambil nyruput teh panas dan mendengarkan langgam Jawa yang berjudul ” Kusumaning Ati” atau “Kutut manggung”.

Ini terjadi juga semata mata karena sebuah tradisi sebagaimana tradisi “laki laki” Jawa yang baru dikatakan laki laki jika sudah mempunyai : Wanito/Istri, Asmo/Nama, Turonggo/Kendaraan, Kukilo/Burung/Bunyi bunyian, Wismo/Rumah, Curigo/Keris/Senjata dan Harto/Harta (tertuang dalam Sapto Broto/Tujuh Derajad)

Selamat jalan si Bola !


Anak dan lingkungannya

July 18, 2008

Dari lingkungan hidupnya, anak anak belajar dari dorothy law nolte

 

Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela, kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain

Jika anak terbiasa hidup dalam permusuhan, maka ia akan terbiasa menentang dan melawan

Jika anak biasa dicekam rasa ketakutan, kelak ia akan terbiasa resah dan cemas

Jika anak terbiasa hidup dikasihani, maka ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri

Jika anak biasa hidup di olok olok,  maka ia akan terbiasa menjadi pemalu

Jika anak biasa dikelilingi dengan rasa malu, maka ia akan terbiasa merasa bersalah

Jika anak biasa hidup dimengerti dan dipahami, maka ia akan terbiasa menjadi penyabar

Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan, maka ia akan terbiasa percaya diri

Jika anak biasa dipuji, maka ia akan terbiasa untuk menghargai

Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan, maka ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri

Jika anak biasa mendapatkan pengakuan, maka ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya

Jika anak biasa hidup jujur, maka ia akan terbiasa memilih kebenaran

Jika anak biasa diperlakukan secara adil, maka ia akan terbiasa dengan keadilan

Jika anak biasa hidup dengan rasa aman, maka ia akan terbiasa percaya diri dan percaya pada orang lain

Jika anak biasa hidup dalam ke-ramah tamah-an, maka ia akan terbiasa berpendirian : bahwa sungguh indah dunia ini !

 

 

Anak belajar dari apa yang mereka alami

Bila anak hidup dalam kritikan, ia belajar untuk mengutuk

Bila anak hidup dengan bermusuhan, ia belajar untuk melawan

Bila anak hidup dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu

Bila anak hidup dengan rasa malu, ia belajar menjadi bersalah

Bila anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar

Bila anak hidup dengan dukungan, ia belajar percaya diri

Bila anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjadi adil

Bila anak hidup dengan rasa aman, ia belajar untuk yakin

Bila anak hidup dengan pengakuan, ia belajar untuk menghargai diri sendiri

Bila anak hidup dengan jujur, ia belajar kebenaran

Bila anak hidup dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih sayang

 

 

Anak belajar dari perlakuan yang dialaminya

 

Jika anak dibesarkan dalam celaan, ia belajar memaki !

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi !

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia akan menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik baik perlakuan, ia belajar adil

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan.


Tentang anak

July 18, 2008

Anak dari Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi

 

anak anakmu bukanlah anak anakmu

mereka adalah anak anak kehidupan yang merindukan dirinya sendiri

lewat engkau mereka lahir, tapi dari dirimu

mereka ada padamu, tapi bukan milikmu

engkau bisa memberikan kasih sayangmu

tapi jangan berikan jalan pikiranmu

sebab dalam diri mereka ada alam pikirannya sendiri

engkau bisa membuatkan rumah untuk raganya

tapi bukan untuk jiwanya

sebab jiwa mereka ada di alam masa depan

yang tidak bisa engkau kunjungi sekalipun dalam mimpi

kamu boleh menyerupai mereka

tapi jangan harap mereka akan menyerupaimu

sebab hidup ini tidak pernah berjalan mundur

juga tidak terngiang dimasa lampau

kamu adalah busur, dan anak anakmu adalah panah yang melesat

sang pemanah mengetahui sasaran mana yang akan jadi tujuan

karena dia merentangmu dengan kuasanya

hingga anak panah itu melesat menuju masa depan, jauh

mereka adalah anak anak kehidupan


Cinta sang nabi

July 18, 2008

CINTA SANG NABI dari Kahlil Gibran

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya

Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan terjal

Ketika sayap sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya

Meskipun pedang pedang yang ada dibalik sayap sayap itu mungkin akan melukaimu

Dan jika ia bicara padamu, percayalah

Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi mimpimu bagaikan angin utara yang memporak porandakan pertamanan

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu

Menumbuhkan dan memangkasmu

Mengangkatmu naik, membelai ujung ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

Tapi cinta yang akan mencengkeram, menggoyang akar akarmu hingga tercerabut dari bumi bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya

Menebahmu hingga kau telanjang

Menggerusmu hingga kau terbebas dari kulit luar

Menggilasmu untuk memutihkan

Melumatmu hingga kau menjadi liat

Kemudian ia membawamu kedalam api sucinya

Hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan

Semuanya dilakukan cinta untukmu hingga kau mengetahui rahasia hatimu sendiri, dan dalam pengetahuan itu, kau akan menjadi bagian hati kehidupan

Jangan biarkan rasa takut bersarang, agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang

Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta

Menuju dunia tanpa musim, dimana engkau akan puas tertawa, gelak yang bukan tawamu dan engkau akan menangis, air mata yang bukan tangismu

Cinta tidak memberi apapun kecuali dirinya sendiri, ia tidak memiliki dan tidak dimiliki, karena cinta hanya untuk cinta

Ketika engkau mencintai, jangan katakan : “Tuhan ada dalam hatiku” tapi katakan “Aku ada dihati Tuhan”

Dan jangan engkau berpikir engkau dapat memilih jalan sendiri, karena cintalah, jika ia berkenan yang akan mengarahkan jalanmu

Cinta tidak pernah berhasrat selain pemenuhan dirinya

namun jika engkau mencintai dan harus memiliki hasrat, biarlah ini yang menjadi hasratmu

Melebur diri dan menjadi anak sungai, yang mengalir melantunkan nyanyian ke peraduan malam

Mengetahui sakitnya rasa kelembutan

Terluka oleh pemanahmu sendiri tentang cinta

Berdarah dengan ihlas penuh suka cita

Terbangun disaat fajar dengan hati bersayap dan menghaturkan puji pujian syukur untuk hari hari yang penuh cinta

Beristirahat di terik siang yang merenungkan puncak puncak cinta

Pulang di petang hari dengan syukur sepenuh hati

Lalu beranjak tidur dengan sepotong do’a untuk yang tercinta dan sebait lagu pujian dibibir.


Money

July 18, 2008

WHAT MONEY CAN BUY ?

The food but not an appetite

The house but not home

The sugar but not sweet

The hour but not time

The bed but not sleep

The book but not knowledge

The medicine but not health

The sex but not love

The position but not respect

The blood but not live

The nice clothes but not self esteem

and,

The luxury but not happiness


Gaudeamus Igitur

July 17, 2008

GAUDEAMUS IGITUR vers. CW. Kindeleben 1781

 

Gaudeamus igitur : Mari kita nikmati anugrah ini

Juvenes dum sumus : Selagi kita masih muda

Post jucundum juventutem : Karena masa muda akan berlalu

Post molestam senectutem : dan masa tua banyak menemukan persoalan

Nos habebit humus : Karena saat ini, Dunia milik kita !

 

Ubi sunt qui ante nos : Kemana mereka ?

In mundo fuere ? : Bagaimana dunia ini sebelum mereka ?

Vadite ad superos : Anda bisa saja menembus surga

Transite in inferos : Anda juga bisa masuk ke neraka

Hos si vis videre : Jika anda berharap akan melihat mereka

 

Vita nostra brevis est : Hidup ada ditangan kita

Brevi finietur : Ia akan berlalu secara cepat

Venit mors velociter : Kematian juga datang tiba tiba

Rapit nos atrociter : Tentunya, ia menimpa siapa saja

Nemini parcetur : Tak seorangpun bisa menahan-nya

 

Vivat academia : Jayalah kaum terpelajar

Vivat professores : Jayalah para guru/pendidik

Vivat membrum quodlibet : Jayalah pemuda terpelajar

Vivat membra quaelibet : Jayalah perempuan terpelajar

Semper sint in flore : Mereka bagaikan bunga yang mekar

 

Vivat omnes virgines : Jayalah pemikir murni

Faciles, formosae : Ramah dan menarik

Vivant et mulieres : Jayalah juga kaum yang mapan

Tenerae amabiles : Lembut dan penuh cinta

Bonae laborieosae : Mereka adalah Pekerja pekerja tangguh

 

Vivant et republica : Jayalah negeri-ku

Et qui illam regit : Dengan hukum yang dihormati

Vivat nostra civitas : Jayalah rakyat-ku

Maecenatum caritas : Bahagia dan sejahtera

Quae nos hic protegit : Mari kita jaga mereka

 

Pereat tristitia : Pergilah kesedihan !

Pereant osores : Pergilah kebencian !

Pereant diabolus : Pergilah kejahatan !

Qui vis antiburschius :  Kita hadang siapapun yang mengganggu sekolah kita !

Atque irrisores : Pergilah jauh jauh !