akik

July 24, 2008

Sampai dengan hari ini sudah sekitar 300-an batu akik yang aku koleksi. Banyak nama nama yang menarik untuk menyebut batu akik berdasarkan dari warna dan jenis batuannya, ada kecubung, kalimoyo, badar, jadam, jamrud, mirah, siyem, topas, batu es, lazuli, combong, moto kucing, ponco warno, rubi, pandan, cempoko, anggur, siwalan, giok, pirus, safir, dan banyak lagi. 

Hobiku memakai batu akik di jari manis sudah ada sejak di bangku SMP dahulu. Pertama kali aku memiliki batu adalah pemberian dari ayahku sewaktu beliau bertugas di kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi, waktu itu beliau memberikan aku beberapa akik yang namanya sarang lebah, siwalan, mata kucing dan batu item (kata cerita seorang perempuan tua paranormal di daerah itu bahwa ia mempunyai firasat, beberapa batu kepunyaan nya ingin ikut saya, ya bapak ku nurut saja dan memberikan beberapa batu itu kepada ku)

Keinginan memakai batu akik semakin lama semakin menggila terlebih pada saat memasuki SMA dan masa masa kuliah di Solo. Ditambah dengan mobilitas keluarga dan aktivitas ku yang menyebabkan aku sering bepergian ke berbagai kota dan pulau di pelosok nusantara utamanya di Jawa dan Sumatra (saat orang tua ku bertugas di propinsi Jambi) menyebabkan jumlah akik di koleksi pribadiku semakin meningkat banyak. Maklum, biasanya setiap berkunjung ke suatu kota/daerah maka akik bagiku adalah bukti penanda bahwa aku telah sampai di daerah itu. Bahkan semua sejarah akik ku aku tahu persis.

Setiap aku menyinggahi suatu kota, maka yang aku tuju pertama kalinya adalah ada tidaknya pasar akik/batu mulia atau tempat pusat kerajinan/pengasahan batu akik atau mencarinya di alam (sungai dan gunung) sesampainya disana maka setidaknya sebanyak 3 biji aku usahakan untuk aku miliki melalui membeli, barter atau bahkan mencari sendiri bakalan batu yang memiliki ciri ciri baik/batu mentah.

Terkadang akik juga aku “ada”kan sebagai sebuah penanda, misalnya tahun baru Muharram, Ulang tahun ku, Ulang tahun anak anak, Saat saat tertentu, misalnya pada saat aku sakit jantung aku beli akik dengan warna darah dalam pembuluh darah yang mengalirnya tinggal separuh, itu sebagai penanda bahwa ternyata dalam urat darah ku sudah terbentuk jaringan lemak yang menebal sehingga menimbulkan penyempitan pembuluh. dan sebagainya.

Dari koleksi ku yang ada terdapat batu dari Aceh, Jambi, Medan, Kupang, Jogyakarta, Malaysia, Thailand, Bugis, Kalimantan, Jakarta, Magelang, Surabaya dan banyak lagi daerah daerah lainnya.

Dari keaneka ragam an warna rasanya sudah komplit, ada yang merah, kuning, hijau, oranye, biru, bening, hitam, coklat, biru, lumut, mengkilat, tidak berwarna, bolog bolong, dan warna ngacak.

Jadi, rasanya jika aku memakai kemeja dan celana apapun aku sudah bisa ngepas biar matching antara warna pakaian yang dikenakan dengan warna batu akik yang dipakai begitu.

Demikian juga kalau soal ukuran, ada yang kecil, sedang bahkan ada yang besar sekali sehingga tangan ini terasa panjang sebelah jika memakainya.

Biarlah, kegemaran ku pada akik terpelihara selamanya, sampai kapanpun nantinya, karena bagiku memandangi akik berjam jam akan menimbulkan sensasi kepuasan batin yang luar biasa.


pa’e

July 8, 2008

demikianlah aku biasa memanggil sosok bapak yang nggulo wenthah toto lahir dan batin-ku. Terlahir dari keluarga sederhana pasangan Mbah Kakung Moh. Masroeri dan Mbah Putri (Alm) Ummi Qulsum. Bapakku adalah anak pertama dan sekaligus anak laki laki pertama dari 10 bersaudara, maka kalau dilihat dari bonggol sejarah Mbah Moh. Masroeri, maka aku adalah cucu laki laki pertama dari anak laki laki pertama atau lazim disebut dalam teori heriditas adalah galur murni.

Karena terlahir sebagai anak pertama itulah maka bapak-ku tergolong seorang laki laki yang tangguh, bertanggung jawab dan trampil dalam segala hal. Bapaku juga pecinta ilmu pengetahuan dengan bukti buku buku yang dimilikinya cukup bervariasi, baik tentang Kejawen, ke-Islaman dan pengetahuan umum. Ia adalah sosok pengagum Bung Hatta, juga Buya Hamka terbukti dengan adanya buku tafsir al azhar yang komplit ada di perpustakaannya, juga untuk menambah wawasan kekinian, layaknya orang desa yang masih sangat terbatas, beliau bersikeras untuk menyempatkan sebagian dananya untuk berlangganan majalah tempo serta majalah panji masyarakat yang sudah terbiasa aku baca sejak aku berada di bangku sekolah dasar dahulu.

Dalam sejarahnya, bapakku adalah sosok manusia yang dibekali talenta yang cukup bervariasi. Ia pandai menjahit segala jenis pakaian , memasak segala jenis masakan, bahkan trampil dalam bermusik terutama memainkan gitar dan beberapa alat musik lainnya. Aku masih teringat bahwa, pakaian seragam dan pakaian lebaran anak anaknya sejak kecil sampai masa kuliah adalah karya jahitannya. Ketrampilan menjahit ini diwarisi dari ketrampilan orang tuanya (Simbahku). Disamping seorang petani wutun, simbahku di kecamatan Simo terkenal juga sebagai seorang yang mahir menjahit dan menerima jahitan umum sebagai usaha untuk menopang penghasilannya selain dari hasil tani, bahkan aku masih ingat bahwa setelan jas yang aku pakai saat ujian pendadaran skripsi-ku adalah jahitan Simbahku.

Masa muda bapak-ku juga dikenal sebagai seorang aktivis. Sejak usia anak anak saat menuntut ilmu di bangku sekolah rakyat, beliau  sudah aktif di Hisbul Wathon (laskar serbaguna Muhammadiyyah), beliau juga aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan pada masa perkuliahannya beliau juga aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Koordinator Komisariat (Korkom) Kecamatan Simo Boyolali, bahkan sampai masa tuanya kini beliau masih aktif di Muhammadiyyah.

Dari pengalaman tersebut, bapaku dikenal sebagai sosok yang kaya wawasan dan teman diskusi yang baik. Belia bukan sosok yang otoriter apalagi sosok yang garang dimata saya, bahkan seringkali argumentasinya saya patahkan dengan teori teori ilmu pengetahuan moderen, tetapi sekali lagi bapaku tidak pernah kehabisan ide, akal dan wawasan informasi. Selalu saja ada yang baru dan belum diceritakan pada kami kami anaknya.

Memang masa studi di bangku kuliah beliau di Universitas Islam Indonesia (UII) tidak bisa dirampungkannya karena alasan klasik, biaya yang tidak ada lagi…

Tapi sungguh semangat itu masih terpatri dalam benaknya juga benakku sebagai pewaris otak dan semangatnya.

Semangat untuk tetap belajar dan belajar.

Semangat untuk tetap membaca dan membaca.

Kata kata bapaku yang aku ingat sejak aku duduk di bangku SD dahulu adalah ketika beliau menyanyikan lagu Qosidahan dari grup qasidah terkenal dari Semarang “Nasida Ria” yang mendendangkan : “Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudah besar bagai mengukir diatas air”.

Itulah bapak-ku, inspiratorku. Dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya yang memang tidak berlebihan sama sekali.


bu’e

July 8, 2008

panggilan hangat, sebagaimana biasanya aku memanggil perempuan biasa yang bernama Suwarti yang telah melahirkan aku ke dunia fana ini. Ia terlahir dari anak tunggal (ontang anting) dari kedua orang tua desa bernama Mbah Kakung Marto Pawiro dan Mbah Putri Kadiyah. Dari cerita tutur yang aku dengar dari tetangga dan para bekas pengasuh ibuku, menyebutkan bahwa ibuku terkenal dengan kepandaiannya dan kepintarannya meskipun terkesan hidup dalam suasana sedikit mapan dan dimanja ditengah masyarakat desa yang serba terbatas, maklum anak tunggal.

Dalam dunia pendidikan saat sekolah dulu, ibuku terkenal baik dan mudah memahami pelajaran pelajaran dalam ilmu matematika dan ilmu pasti sehingga usai pendidikan dasar di sebuah sekolah rakyat didesanya, ibuku melanjutkan sekolah di tingkat menengah sampai pendidikan atasnya dihabiskan dalam kelas khusus untuk matematika dan IPA di sekolah menengah dan sekolah atas di kota Salatiga.

Kenyataan itu berlanjut dibangku kuliah, ibuku mengambil jurusan matematika di Universitas Gabungan Surakarta (UGS) yang berkampus di Sin Min (sekarang kampus Mesen UNS Solo). Beberapa waktu lalu saat kumpulan dengan sedulur-sedulur ibuku dari Bapaknya, ada Pak Dhe yang berani  menyebutkan, : Seandainya saja ada yang mengarahkan dalam mengambil mata pilihan untuk sekolahnya, sangat mungkin hari ini ibuku adalah pensiunan dari seorang profesor.

Dalam banyak hal sekali lagi, ibuku adalah perempuan biasa saja. Ia bahkan tergolong perempuan yang kaku dan tidak pandai bersosialisasi, ya maklum sesuai dengan kemampuan otak kirinya yang terlalu berlebih, sehingga baik dan cakap jika menangani benda mati namun tidak cakap dan terkesan apatis jika berhubungan dengan mahluk hidup (bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya).

Tapi kenyataan itu aku terima saja sebagai anugerah, ia adalah tetap ibuku, sesering aku marah dan tidak sependapat dengannya, sesering pula aku minta dipijeti dan bercanda dengannya jika aku pulang kampung. Dan diantara kelima anak-nya, aku adalah termasuk orang yang begitu dekat dengan ibuku sebegitu aku dekat dengan bapak ibuknya ibuku terus kegenerasi atasnya sebagai pepundenku.  

Ada banyak cara orang memanggil sosok perempuan yang cukup berjasa layaknya ibuku, ada yang memanggil ibu, ibuk, bu’e, biyung, emak, simbok, simak, ma’e bahkan kalau kata orang kota dan bergaya modern serta kebarat barat-an biasa memanggil dengan sebutan mama atau mamah, atau bahkan mah …

tetap saja ibuku aku panggil bu’e.

bahkan sekarang sering aku panggil beliau biyung untuk membahasakan anak anakku menyebutnya. Dan aku juga ingin agar anak anakku memanggil ibunya adalah bu’e meski sekarang mereka masih memanggilnya dengan sebutan bunda … aku bahkan memanggil istriku dengan ma’e dengan tujuan agar anak anak juga memanggilnya demikian.

Mengapa demikian, aku hanya ingin sekedar mewariskan tradisi sebagaimana blog ini aku dedikasikan.

Ya, hanya untuk sebuah tradisi, tradisi kesederhanaan.


keras dudu (bukan) keris

June 29, 2008

Barang siapa ingin damai, harus perang dahulu !

Dalam beberapa hal, keputusan untuk bersikap secara keras memang diperlukan ! Dalam mempertahankan prinsip dan harga diri demi sebuah kebenaran misalnya, biasanya manusia benar benar sudi melakukan apa saja termasuk tindakan kekerasan meskipun sebenarnya kebenaran itu juga masih absurd dan terkadang masih prematur dan sepihak ?

Pelajar dan mahasiswa yang rela bangun pagi buta dan belajar hingga larut malam adalah usaha keras untuk mendapatkan kepintaran, kebisaan dan pengetahuan lebih yang selalu menjadi dambaan.

Soekarno yang menyemangati pemuda yang bernama Marhaen yang sudi menggarap sawah jauh sebelum matahari menampakkan dirinya  dan ayam jago berkokok adalah usaha keras yang diusahakan kaum tani untuk nguri uri (merawat, memelihara dan mensyukuri) harta pemberian Tuhan berupa tanah dan air serta tumbuh tumbuh-an.

Makanya para sesepuh selalu mengingatkan pada generasi penerusnya untuk : Keras boleh, tapi bukan keris !

Maksud dan tujuannya adalah sikap keras dan berpikir keras apalagi kerja keras bisa dibenarkan oleh akal dan nurani, tapi dengan menggunakan keris hanya untuk bersikap keras apalagi bersifat adigang adigung dan adiguna sangatlah bertentangan dengan akal dan nurani.

Bahkan (maaf agak sensitif dan berbau : Gender sedikit) pesan leluhur imbuhnya adalah :  

Wong lanang kudu atos sebab-e endas-e loro, lha nek wong wadon  memang kudu akeh omonge sebab-e cangkem-e loro

Artinya : dalam hal berpikir kita harus menggunakan logika laki laki sebagaimana laki laki yang punya kepala dua, sementara dalam bertutur kata kita harus menggunakan logika perempuan yang lemah lembut sebagaimana perempuan yang ber-mulut dua.

Tentu ini bukan legitimasi dan pembenaran atas sikap kekerasan mahasiswa terhadap polisi atau sebaliknya, juga bukan sikap kekerasan antara Jemaat Ahmadiyyah dan FPI dan juga sebaliknya. Ini adalah keras berusaha secara gigih dan tak mengenal menyerah apalagi putus asa. Atau pembenaran atas tindakan Ayin (Artalita Suryani) yang pintar merayu kaum jaksa sehingga bertekuk lutut dan menghambakan dirinya  sebagaimana syair lagu Titiek Puspa ?

“Namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut disudut kerling wanita”

Keras tapi bukan keris,

Meskipun keris itu ada, tapi keris dimaksud adalah ageman untuk mawas (“curigo” : senjata untuk memperingatkan diri sendiri) karena keris secara tradisi adalah tosan aji (citra jiwa : jati diri) jadi keris tidak sepadan dengan golok dan keris bukan pedang atau senapan yang bisa digunakan sesuka hati dan sewaktu waktu. Karena keris sebenarnya adalah alat untuk memperingatkan diri sendiri agar selalu waspada dan ingat (mawas) akan mara bahaya yang bisa datang kapan saja, menimpa siapa saja dan bentuknya bisa apa saja.

Makanya, meskipun penting, keris tetap disematkan di bagian belakang dan dan bukan di depan layaknya senjata kebanyakan. Keris juga bukan alat pemotong atau pembelah, ia adalah sekedar alat penunjuk (penusuk). Bukannya kalau untuk menunjuk atau menusuk sesuatu harus tepat dan perlu berpikir tujuh kali ? dan bukan pusing tujuh keliling ? 

Mungkin saja sesulih ini berlaku bagi siapapun (generik) yang berkehendak untuk memerdekakan dirinya (dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan)

Karena berpikir dan berbuat bagi masyarakat yang bertradisikan Jawa sebagaimana masyarakat desa tidak hanya menggunakan akal, otot dan otak tapi juga menggunakan hati.


7 (baca : pitu/tujuh)

June 28, 2008

Angka tujuh bagi masyarakat tradisional Jawa mempunyai arti yang sangat mistis dan tidak bisa dilepaskan dari sendi kehidupannya, demikian juga masyarakat desa-ku, desa Nggunung sari kecamatan Simo. Lihatlah ada sesaji bunga tujuh rupa (mawar, melati, kenanga, kanthil, menur, pandan dan mangkok-an) ada juga air dari tujuh sumber mata air/sumur, puasa mutih tujuh hari tujuh malam (siang-nya berpuasa dan malamnya hanya makan nasi putih dan atau polo kependhem (umbi-umbian) dan minum air bening dan bukan air putih, jajan pasar sebanyak tujuh rupa (Jenang, Wajik, cucur, jadah, apem, ketan dan thiwul).

Mengapa sesaji ?

Sesaji adalah bahasa sederhana masyarakat desa dalam menerjemahkan kata puja dan puji kepada yang Membuat Jagad Raya ini ada. Ia berfungsi secara ritual, spiritual dan sosial. Ia menjadi keharusan usaha yang sengaja  dijalani secara sesering mungkin selama kehidupan berlangsung (ritual) untuk mengharapkan adanya kepuasan lahir bathin dalam waktu yang lama (spiritual) dan sekaligus meberikan rasa kebersamaan, saling memberi, penghormatan dan pernyataan untuk bergabung (ajur ajer : cair/liquid) antara sesama hamba/mahluk Tuhan (sosial).

Sesajian (pemberian : biasanya berupa makanan, minuman dan wewangian) ini bisa di sama artikan dengan kerja sosial atas upaya pengucapan asma’ul khusna yang juga berupa bentuk puji pujian (memberikan kebaikan) atas Kekuasaan ALLAH SWT, manakala suatu mahluk pada ruang dan waktu yang sama mengharapkan ke-Ridho-anNya. Ketika itu di benda kan bukan berarti kita berkehendak menjadi Musyrik atau Menyekutukan-Nya?  Ia justru juga merupakan wujud syukur dengan membagikan atau memberikan sesuatu yang berguna kepada sesama mahluk Tuhan dalam bentuk makanan dan minuman juga wewangian sebagaimana orang awwam desaku mempersonifikasikan keadaan Surga dengan air yang mengalir, banyak tersedia makanan dan buah serta aroma yang selalu harum wangi.

Mengapa tujuh ?

Tujuh dalam pengucapan bahawa Jawa adalah pitu. Pitu adalah Djarwodhosok alias singkatan dengan kata lengkapnya dimaksudkan adalah Pitulungan (pertolongan) suatu kata kerja yang berarti mengharapkan suatu Dzat Maha Segalanya bekerja atau berbuat untuk kita. mengharapkan pertolongan Tuhan !

Karena hanya kepada Gusti Allah-lah manusia minta pertolongan dan mengharapkan bantuannya. Makanya ritual itu di bungkus dengan acara syukur-an dan bukan acara matur nuwun-an atau terima kasih-an. Karena kepada Tuhan Gusti Allah kita bersyukur bukan ber-terima kasih, sebagaimana sering diucapkan kebanyakan orang seperti dalam iklan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di televisi atau manakala artis menerima penghargaan dari sponsor malah berterimakasih pada Tuhan ? dan bukannya bersyukur ?

Bersyukur dengan mempersembahkan/menghadirkan sesuatu yang tujuh (baik makanan, minuman maupun wewangian) adalah bahasa yang sungguh sederhana dan bisa dipahami secara tradisi sebagaimana di-amin-i oleh para Wali di tanah Jawa masa lampau dan ini dianggap sebagai suatu pemesraan antara agama dan tradisi yang memang sebenarnya tradisi adalah agama yang menerjemah.

Ia sama sekali bukan bentuk penyekutuan atas keberadaan Gusti Kang Murbo Eng (Murbeng) Dumadi. Ia adalah wujud ke-santun-an dan ke-patuh-an hamba Allah. Mengharapkan pertolongan sekaligus menyampaikan rasa syukur.

Mungkinkah anda bisa melaksanakan kepada atasan anda ?

Mungkinkah mahasiswa melaksanakan pada profesornya ?

Mungkinkah pelajar melaksanakan pada gurunya ?

Mungkinkah anak melaksanakan pada Bopo-biyung-nya ?

Mari kita buat segalanya serba mungkin.

Dan bisa dipraktik-kan pada anda, coba makanlah dengan asupan keaneka ragaman makanan yang anda makan dalam sehari tidak lebih dari 7 macam ! Mulailah dengan yang sudah ada 2 yaitu nasi dan air minum, sisanya tinggal 5 jenis makanan lagi dan jangan lebih ?

Niscaya anda akan sehat wal afiat, toto tentrem lahir bathin.


caping

June 27, 2008

caping adalah sebuah benda berbetuk kerucut yang terbuat anyaman bambu dan dipakai/dikenakan di kepala kita sebagaimana topi laken (ala koboi), Sombrero (ala Mexico), Sepa (ala Rote). Caping berguna sekali pada saat panas terik ataupun hujan lebat menimpa tubuh kita dalam menapaki suatu perjalanan.

Makanya caping lazim sekali dengan kehidupan masyarakat pedesaan dan keberadaannya mutlak sekali. Kedudukan caping sejajar dengan pacul/cangkul dan arit/sabit. Ia menjadi barang substitusional pada saat bertani ke sawah, pergi ke ladang untuk berkebun atau angon kambeng, bahkan ke pasar atau menghadiri kondangan sekalipun.

Caping adalah ciri kesederhanaan masyarakat pedesaan, demikian juga di desaku, desa ibu-ku

Caping sudah aku kenal sejak masa kanak kanak-ku yang aku habiskan di sebuah desa kecil daerah pegunungan sekitar 4 km dari tempat kelahiranku, Simo. Nama desa tempat bertumbuh-ku itu adalah Gunung Sari (dibaca : Nggunung Sari ) ya, karena tipologi dan strktur tanahnya bagaikan perbukitan/pegunungan.

Rumah rumah penduduknya tidak ada yang berdiri sejajar, selalu beda jika itu diukur dari Atas Permukaan Laut (DPL), karena keadaan itulah jangan berharap di desa ini terdapat sepeda, atau ada orang yang bisa naik sepeda (maksudnya : sepeda onthel), bahkan Ibu-ku sendiri yang berprofesi layaknya “Guru Oemar Bakri” dengan sepeda kumbang-nya, sampai batas masa pensiunnya tidak pernah bisa naik sepeda layaknya sepeda kumbang Oemar Bakri.

Tradisi dan kehidupan kampung itu terkesan sederhana bahkan sangat sederhana, terbukti sejak aku kecil sampai hari ini (sudah sekitar 40 tahun) belum ada perubahan yang nyata dan berarti dari kampung-ku itu, yang berbeda hanyalah sekarang sudah ada listrik, jalan penghubung antar desa sudah beraspal meskipun disana sini sudah terlihat rusak, juga sudah tersedia air minum desa (Pam Des) yang mengalirnya bergantian (antri) karena terbatasnya dan mahalnya air.

Kecuali beberapa keluarga yang sudah mengebor sendiri memanfaatkan air tanah dengan rata rata kedalaman 50 meter dan dengan bantuan mesin penyedot air (kata orang kampung/desaku : Sanyo meskipun merek alat itu sangat bervariasi, ada sanyo, DAG, DAB, Wasser, Grunfos, National, dan banyak lagi).

Air, bagi penduduk desaku adalah harta yang mahal. ia hanya terdapat di tidak lebih dari 5 sumber mata air, antara lain :

1. Mber Pegeng (Sumber Pegeng) : karena airnya dalam dan melimpah.

2. Mber Seto (Putih) : Karena mata air ini menghasilkan warna air yang cenderung bening putih.

3. Mber Duren : Karena berada dibawah naungan rerindangan pohon duren.

4. Mber Lumut : karena sumber itu banyak tumbuh lelumutan karena ke-dingin-annya dan ke-lembab-annya daerah itu.

5. Mber Lepen (sungai/kali) : karena sumber mata air itu terletak di pinggiran kali/sungai.

Sumber mata air itu menjadi dambaan dan pengharapan seluruh penduduk di desa ku itu.

Kondisi tanah di desaku adalah tanah tadah hujan, hijau rimbun pepohonan dan semak belukar dan tanahnya mathol jikalau musim penghujan datang dan kering kerontang, tandus jikalau musim kemarau tiba. Demikian juga keadaan sawah dan tegalan-nya (ladang-nya), makanya jangan heran jika satu tahun hanya panen padi satu kali saja dan hasilnya jauh dibawah angka rata rata hasil pertanian nasional Indonesia.

Dari karakteristik dan pola kehidupan masyarakat desa itulah, keberadaan caping menjadi begitu dominan. ia menjadi gawan (sesuatu yang harus dibawa) yang serbaguna.

Makanya aku menyebutnya caping adalah tidak sekedar topi atau penutup kepala sekaligus pelindung tubuh, tapi ia adalah tradisi. Tradisi kerakyatan, tradisi kesederhanaan.

Sesederhana penduduk desaku memaknai hidup ini