surat 2

July 27, 2008

Usai training LK I di gedung HMI Yosodipuro No. 81 Solo, aku ditunjuk sebagai koordinator eks angkatan Lk I Komisariat Fisipol UNS ini (Kalau tidak salah training itu dilaksanakan sekitar bulan Maret 1990-an).

Salah satu materis kegiatannya adalah asistensi dan penambahan wawasan ke HMI-an melalui kajian kajian yang dilaksanakan secara rutin, yang bersifat nonformal tapi sekaligus mempunyai nilai atas semangat dan kecintaan terhadap organisasi HMI ini.

Kajian dilaksanakan pada hari, tanggal dan jam yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, agendanya diputuskan secara bersama, biaya yang timbul ditanggung bersama, pembicara/pemateri dicari secara bersama, thema yang akan dikedepankan juga dibahas bersama, cuma undangan dan penyebarannya biasanya dilakukan oleh aku seorang diri.

Waktu itu memang belum ada HP atau Pager yang bisa SMS dengan singkat, murah dan cepat sampai ke tujuan dan segala pesan dapat segera tersosialisasikan. Dari sinilah maka menulis dan menyebarkan undangan adalah pekerjaan yang cukup melelahkan dan menyita waktu. Maklum peserta LK I angkatanku tempat kost-nya terbentang dari Pabelan, Unisri, Solobaru sampai kawasan Kenthingan yang senada dengan mengelilingi kota Solo dari sudut ke sudut.

Sebenarnya dari sinilah aku bisa mengambil hikmah bahwa, bagi mahasiswa : membaca pengumuman, mencatat, kemudian menghadiri apa yang dimaksudkan undangan/pengumuman itu adalah cara terbaik untuk melakukan proses pengkayaan informasi, pematangan berpikir dan kedewassan menghadapi segala urusan yang harus diselesaikan (dipilih dan dipilah)

Saking berjubelnya agenda dan kegiatan, terkadang mengirim dan menulis undangan adalah pekerjaan yang membosankan ! dan menghadiri undangan juga pekerjaan yang menyita waktu dan biaya, terlebih jika kantong lagi bokek/kosong ? Waaah bisa tambah runyam …

Makanya waktu demi waktu menghadiri asistensi untuk pengkayaan informasi sesama alumni LK I angkatan Maret 1990 makin lama pesertanya makin sedikit … tergerus oleh waktu dan masa, dimana aktivitas di kampus juga semakin banyak dan tak bisa ditinggalkan … (pilihan yang berat : menjadi aktivis kampus dan menjadi aktivis HMI/ekstra kampus)

Dari sinilah cerita itu muncul, ditengah kebosanan menghadiri undangan … maka pada sebuah undangan aku tulis pada bagian penutupnya (meminjam syair lagu dari KLA Project yang lagi inn waktu itu) : … Cukup bagiku … hadirmu … membawa cinta … selalu uuuu … dengan tujuan agar para pembaca menjadi tertarik (tidak bosan/jenuh) dan pada akhirnya bersedia datang menghadiri acara yang sebenarnya sudah di agendakan bersama itu.

Spontan saja mas Joko Purnomo (Joko Pitek: Salah satu aktivis HMI paling kawakan yang aku kenal) yang mengasisten-i kami memperingat kan aku : Yanuar … di HMI itu kalau menulis surat ada tata bahasa bakunya !! jangan kamu menulis se enak pikiran mu ?? ini menyalahi konstitusi !!

Aku terdiam saja …

Maklum sebenarnya aku tahu kalau menulis surat di HMI adalah selalu diawali dengan : Assalaaamu’alaikum wr. wb. Ba’da salam sejahtera semoga rahmat ALLAH SWT senantiasa terlimpahkan kepada kita semua, Sholawat dan Salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga terlimpahkan kepada kita sekalian ……. dilanjutkan maksud dan isi surat …… dan penutupnya diakhiri dengan kalimat : ….  Billahit taufiq wal hidayah, wassalaaamu alaikum wr. wb. baru ditutup dengan tanda tangan ketua dan sekretaris (cap stempel).

Tetapi maksud hati kan, agar surat terbaca lebih seger, baru, unik dan menarik hati pembacanya … dan pada akhirnya si pembaca sudi meluangkan waktunya untuk datang menghadiri undangan tersebut ??

Lha, kenyataannya kalau aku tutup dengan syairnya KLA Project … itu kesalahan yang cukup fatal !!!

Yaa sekali lagi, mohon maaf kang Joko Pitek …


Hari anak

July 23, 2008

23 Juli di jadikan hari anak nasional Indonesia, aku tidak terlalu paham akan hal itu, yang aku pahami hanyalah tiba tiba aku teringat anak ku sendiri, Mas Alif dan Mbak Gendis … (masak ingat anak orang lain ??)

Sengaja aku doktrin kan pada mereka sejak 0 tahun sampai masuk usia sekolah TK dengan doktrin : “Makan yang banyak dan bobok yang lama !” pesan ini aku maksudkan adalah untuk membentuk fisiknya agar senantiasa sehat, brigas dan memiliki semangat hidup, dimana pemahaman sederhanaku adalah jika anak porsi makan dan istirahatnya cukup, maka ia akan senantiasa sehat dan fisiknya baik.

Begitu memasuki usia sekolah, doktrin itu aku ganti dengan : “Selalu gembira dan penuh rasa syukur !” ini juga aku maksudkan agar anak anak memiliki mental yang baik dan riang selalu (aspek mentalitas).

Tapi, itulah anak anak ku, yang sering memunculkan tingkah polah yang tidak aku duga sama sekali sebelumnya, misalnya :

1. Mas Alif, sewaktu belum sekolah dulu, kalau tidak ingin ayahnya pergi ke kantor, selalu mengencingi sepatu dan punggung ayahnya (padahal sudah pakai seragam untuk berangkat kerja ….

2. Mas alif pernah mengatakan bahwa tampang embahnya mirip tampang ayah, lha embah (bapak ku) bilang : ” Bukan tampang embahmu ini yang mirip ayahmu, … tapi tampang ayahmu itulah yang mirip embah ini ?” (ya, karena aku adalah anak bapak Ibuku dan Mas Alif adalah anakku)

3. Sewaktu ulang tahun ke-5, kue tart untuk acara syukuran dikelas-nya dijilat seluruhnya, katanya biar nggak ada yang mau makan kue ini ! tandasnya.

4. Mbak Gendis sudah belajar mengaji sejak usia 2 tahun, namun yang diucapkan sesuka hatinya, misalnya : Kul Hum Mul Hum Mul Hum Mul Hummm … Mul Hum Kul Hum Mul Hum Mul Hum … begitu diucapkan dan dinyanyikan dengan suara yang lembut merdu seusai sholat maghrib bersama saya.

5. Entah mengapa, sejak kecil sampai hari ini, Mbak Gendis suka mendandani/merias/make up wajah ayahnya (dan bukan dengan ibunya) dengan bedak, pupur, eye shadouw dan lipstik … aku jadi sering pura pura takut dibuatnya. Kejadian itu biasanya dilaksanakan hari Jum’at malam, Sabtu malam, Minggu malam dan Senin malam.

6. Sewaktu aku bertengkar dengan istriku, selalu saja ada kata kata mbak Gendis yang sering mambuat aku tertawa dan nggak jadi bertengkar, misalnya : Sudahlah, mbok kalian itu To Bat : Soto Babat !! dan akhirnya kita pun ber empat gembira lagi dan pergi makan soto babat.

7. Kalau ayahnya sedang stres, kemudian kita berempat berkumpul. Dan aku mengajak menyanyikan lagu burung kutilang !, nah siapa yang ketawa duluan itu yang kalah …. lagunya : Dipucuk pohon cemara …. burung kutil … kutil … kutil … sebanyak banyaknya …. sampai salah satu menyerah ?

8. Terkadang aku juga menyanyikan lagu : buat apa susah (diplesetkan menjadi buat apa susi) lagunya : …..”buat apa susi ? … buat apa susi ? … susi itu nggak ada susunya …

hmmmm…

9. Saat memasuki kelas TK, mas Alif paling tidak bisa bernyanyi dan berbaris, masak kalau masuk kelas ia sengaja berjalan mundur ?? dan sesampai di dalam kelas ia duduk dan berdiri diatas meja sambil tolah toleh (tengok kanan kiri) dan tidak mau turun, bahkan diingatkan oleh Ibu guru sekalipun ???

Anehnya lagi, kelakuan Mas Alif ini, kata ayahku … juga pernah aku lakukan saat masih duduk di kelas 1 SD di SD Gunung Sari sekitar tahun 1976

Ya, itulah dunia anak, dunia milik mereka, aku dan ibunya cukup memfasilitasinya saja …


Nama 2

July 20, 2008

Kalau melihat HMI cabang Solo hari ini yang perkaderannya mandeg, maka aku teringat 19 Tahun yang lalu, tepatnya tahun 1990 an, dimana pernah terjadi training dengan peserta terbanyak, sampai menembus angka 70 orang peserta, dan terpaksa kelas kita bagi menjadi 2, satu kelas di kantor cabang dan kelas lainnya di Masjid dekat Monumen Pers Surakarta. Bahkan pada Saat Musyawarah Lembaga (Muslem) LPLK pertanggung-jawabanku sebagai Ketum LPLK, juga menembus angka peserta terbanyak pula, ini aku tuangkan dalam laporan pertanggung-jawabanku (LPJ).

Disini aku mengenal banyak sekali sahabat sahabat diantaranya : Adib, Agus Ileng, Badrus, Zubed, Miftah, Santo, Kohar, Mas’ad, Hersy, Tatang, Oliq, Eko, Dwiki, Yudo, Joko, Kotrut, Heri, Slamet, Tri, Rohadi, Tofik, Endra, Badriyah, dan banyak lagi yang kesemuanya berkecimpung di team pengelola latihan (Senior)

Nah, sering dalam mengisi training kita bergiliran untuk mengelola dari training ke training, semua dilakukan dengan senang hati lho …. padahal tidak ada yang kasih honor, dan terkadang justru kita malahan mengeluarkan sejumlah dana. Bahkan terkadang kita dalam satu bulan bisa mengelola training tanpa putus dari komisariat A, B, C dan seterusnya.

Untuk mengisi kekeringan rasa humor dan pelepas stress, maka sering kita saling bercanda, maklum mengisi training apalagi yang berkaitan dengan Spiritualitas, Ideologi, Nasionalisme, Kebangsaan, Kemahasiswaan dan Teori Strategi/Taktik terkenal cukup serius, menyita pikiran dan otak kita !

Salah satunya adalah dengan menghubung hubungkan nama kita dengan sebuah kejadian misalnya :

Adib, kono Agus gen Badrus !! (Adib, sana pergi mandi, biar rapi)

Tantowi, entuk salam soko Dian ? maksudnya bukan Dian Sofiana (Gadis manis dari Fakultas Teknik) tapi dari Dian Cuk !!! (Bentuk pisuh an orang Jawa Timur ) …..

Ingat Adib Zuhairi maka akan ingat penjual Heeek Pak Man !

Ingat Heri Bakwan, Ingat Mus Mulyadi dan Waljinah

Ingat Kotrut Tatris, jeneng kakeh an huruf T.

Fudoli, yang asli Bulakamba – Brebes (Jateng) yang kalau ngomong keras bagaikan suara TOA !

Ingat Yanuar, ingat Man Yan (karena aku pernah kost disebuah keluarga yang anaknya tidak bisa menyebut atau mengucap  huruf  S dan menyebutnya menjadi ucapan N. Jadi kalau tikus ya tikun, Sore ya nore, Bakso ya baknyo, tas ya tan, Bis jagi Bin dan Mas Yan di panggilnya Man Yan.


Nama 1

July 18, 2008

Menjadi pengurus cabang di HMI adalah saat saat yang paling indah, kita hidup dalam satu komunitas di gedung HMI Cabang Surakarta  suka duka begitu bergulir dinamis dan berkesan sekali, dari banjir bandang, WC mampet, Tagihan listrik, air dan koran macet, minta sumbangan ke alumni, kiriman wesel terlambat, sampai bergunjing soal HMI wati dan rasan rasan (memang itu sebagai ketentuan tidak tertulis, dimana pengurus cabang harus bertempat tinggal di kantor cabang).

Nah kebetulan saat itu baru dipasang telepon umum yang bisa di panggil atas nama HMI cabang Solo tentunya dengan nomor khusus. Saat itu belum ada yang punya Hape dan telepon umum cabang menjadi tempat favorit berkomunikasi.

Pada suatu hari ada telepon dari seorang perempuan Kohati komisariat Sunan Kalijogo Unisri, kebetulan namanya adalah WALJINAH.

Dan penerima telepon adalah Heri Bakwan (Pengurus cabang dari komisariat Ahmad Yani)

Pembicaraan berlangsung :

Waljinah (penelpon perempuan) : Halo, asalaamu’alaikum !!

Heri Bakwan (penjawab di HMI Cabang) : Waalaikum salaaam, ini siapa ??

penelpon perempuan : Ini Waljinah …

Heri Bakwan menjawab : OOO yaaa ….. ini Mus Mulyadi !!

Spontan kami ngakak …. lha wong memang ada anak komisariat Unisri yang bernama Waljinah kok … malah kamu ngledek dengan menyebut diri mu :  MUS MULYADI !!??

weleh weleh ….


Usai makan

July 18, 2008

Lagi lagi soal boncengan bertiga !

Memang kala itu bagi pengurus cabang, motor adalah sarana yang sangat vital, bahkan sering jadi konvensi dimana untuk menduduki jabatan Sekretaris Umum (Sekum) harus mempunyai sepeda motor !

Begitulah elan vitas perjuangan kader kader HMI tahun 1990-an !

Kejadiannya adalah usai sholat jum’at, aku bertiga (Aku, Mardi Nugroho dan Fudoli) boncengan kendaraan dengan Vespa-ku itu menuju tempat makan favorit, saat tanggal muda dan hati gembira, kita biasa makan di Rumah Makan Tiga Serangkai (dekat Sriwedari) karena ada soto yang enak, sego pecel yang manteb serta es teh yang bisa jog/nambah.

saat pulang usai makan di warung makan Tiga Serangkai kita ketawa ngakak ngakak keras sekali, maklum antara warung makan dan kantor cabang hanya seperti huruf L saja, dan mudah di jangkau… kita ngebut, ketawa ngakak karena Mardi dan Fudoli terkenal suka Ndagel !!! aku yang pegang setang kemudi tinggal ikut ketawa saja !!!

Nah, pas mendekati kantor cabang, tepatnya di gedung sebelah cabang (Gedung bertuliskan “Tontowi”) tiba tiba tangan kiriku ada yang memegangnya erat erat. Aku masih ketawa saja hahaha …. tapi kok aneh … Fudoli dan Mardi diam saja ??? ada apa ???

Teryata yang memegang tangan ku adalah tangan Pak Polisi !!! aku juga kaget pada akhirnya !!!

Walah !!! ketilang lagi nih !!

Aku langsung berhenti saja di depan gedung itu … pak maaf pak, bagaimana kalau kita ke kantor saja … usul ku pada Pak Polisi, mana kantormu !! bentak Pak Polisi… maka aku jawab penuh takut : Ini …. sambil aku menunjuk kantor HMI cabang Solo…

Walah deek !! mbok yaooo kalau naik sepeda motor itu jangan bertiga … dan harus pakai helem dong !!! nanti bahaya !!!

Iya pak !! jawab kami bertiga, sebenarnya sih kami hanya pergi untuk makan di depan situ pak….

Ya … sudah …. pak Polisi pergi begitu saja…

Aku, Fudoli dan Mardi kembali ngakak … kakakakakak ….


Surat

July 18, 2008

Usai training LK I di HMI Cabang Solo, aku langsung ditunjuk sebagai ketua panitia konperensi cabang – karena bersifat mendadak, darurat dan harus disegerakan karena satu dan lain hal, maka konperensi cabang itu dinamakan luar biasa – atau Konperensi Cabang Luar Biasa.

Saat itu aku yang baru sekitar satu minggu menjadi anggota HMI, maka jalinan perkawanan ku tentu masih terbatas, maka untuk menyusun kepanitiaan aku langsung menunjuk Susanto Kartubij (sekarang adalah kandidat Doktor ilmu komunikasi yang sekolah S3 di Universitas Indonesia) sebagai sekretaris-ku dan beberapa teman untuk beberapa seksi dalam kepanitiaan.

Kenapa aku memilih Susanto Kartubij, ya karena bagiku ia adalah satu satunya kawan ku yang mahir komputer (sejak saat itu, hingga hari ini ia memang ahli komputer) dan ia bersedia bekerja bersama dalam kepanitiaan bersama aku saat itu.

Hari berjalan, rapat ditentukan, keputusan dijalankan, surat dilayangkan, undangan disebarkan, proposal dana diedarkan. semua tampak berjalan sebagaimana mestinya.

Tiba tiba, Dwiki yang kala itu sudah pengurus cabang, mencak mencak dan bernada marah memperingatkan pada saya dan Santo (panggilan akrab Susanto Kartubij) dan mengatakan : “Yan ! Apa kamu tidak pernah membaca pedoman organisasi ?? Apa kamu tidak bisa menulis surat dengan benar ?? apa kamu tidak tahu kalau berkirim surat itu ada bahasa bakunya ?? dan banyak lagi pertanyaan dari Dwiki (Sahabatku yang terkenal sangat teliti, kaya informasi dan rajin membaca).

Aku terbengong saja, Wik (panggilan Dwiki) apa salahku ?

kamu tahu nggak kalau memberi nomor dan kode surat di HMI itu hanya ada 2 kode saja (yaitu A : Kalau bersifat Internal dan B : jika surat itu ditujukan kepada pihak luar/bukan HMI) …. masak ini ada kode surat sampai huruf G (Ge) …. apa apaan ini ?????

Aku dan Santo terdiam, dan lalu segera memperbaiki surat surat itu, dan selanjutnya kami baru sadar bahwa memang surat perlu kode dan nomor yang jelas …!

Kalau teringat hal itu aku jadi tertawa sendiri …. sambil melihat buku catatan Santo yang memang diurutkan dari A, B, C, D …… sampai G !!

hehehe…..hehehe….

Aku sih tahunya tinggal tanda tangan saja ….ternyata keliru,

Sorry ya Wik ??


Ketilang

July 18, 2008

Usai mengelola training LK I yang diselenggarakan di Gedung HMI Tower (Gedung Baru HMI di Kenthingan) dengan pelaksana Komisariat Fakultas Kedokteran, sekitar jam 3.30 dinihari aku bertiga berboncengan dengan satu kendaraan yaitu Vespa. Kala itu Aku bersama Dwiki dan Cak Olik.

Hari masih pagi buta dan gelap ! Vespa melaju melintasi kawasan Kenthingan terus lurus ke  arah Rumah Sakit Dr Muwardi dan melewati simpang lima Panggung, melewati gedung bioskop Rama teater terus ke arah Margoyudan menuju pasar Legi dan berakhir di kantor Cabang Yosodipuro.

Nah kejadian itu, terjadi mana kala melintas di depan SMA I Margoyudan, tiba tiba dari arah belakang datang polisi dengan pakaian dinas lengkap yang hendak ke Kantor menangkap kami.

Karena hari masih gelap, maka mesin Vespa sengaja tidak aku matikan dan aku biarkan lampu menyala.

Pak Polisi bertanya sekaligus meminta aku menyerahkan surat surat kendaraan berupa SIM dan STNK.

Spontan saja aku memegang erat erat SIM dan STNK kendaraan itu lalu menjelaskannya di depan lampu kendaraan yang masih menyala itu, biar jelas dan terang : “Pak Polisi, ini STNK kendaraan milik dan atas nama Bapak saya, dan ini SIM atas nama saya” jadi apa salah saya ??

Spontan Pak Polisi mau mengambil STNK dan SIM saya tersebut, spontan juga aku memegangnya erat erat dan tidak aku berikan pada pak Polisi itu.

mana STNK nya !!! bentak Pak Polisi.

Aku jawab : Pak setahu saya di undang undang kan hanya menunjukkan, bukan menyerahkan ? jadi ya sudah ini aku tunjuk kan dan tidak akan aku serahkan kepada Bapak ! tegasku.

sekali lagi : Ini SIM atas nama saya, ini STNK kendaraan atas nama Bapak saya !

Demikianlah, kebetulan Pak polisi cukup kooperatif… tapi kemudian beliau bilang : Dik, dilarang naik kendaraan berboncengan tiga orang, ini berbahaya !!

Aku tidak kalah akal : Nah, sekarang kan Bapak sendirian, kami berboncengan bertiga sementara tujuan kita adalah sama, kearah barat, kiranya Bapak bersedia memboncengkan salah satu teman kami …. biar tidak melanggar ketentuan lalu lintas ??? Bagaimana pak ??? Dan Cak Oliq yang aku minta membonceng pak Polisi.

Waaahhh kamu …dik, bisa saja ???!!! Sambil mengajak salah satu teman kami di boncengkannya.

Sampai di kantor Cabang, Dwiki dan Cak Oliq ketawa ngakak !!!

Aku sih … senyum masgul saja ???