Catatan Perjalanan

August 4, 2008

Minggu pertama bulan Agustus 2008 ini aku habiskan di kota Ambon karena sebuah perjalanan dinas untuk mengecek dan monitoring distribusi beras untuk jatah makan penghuni Rumah Tahanan (Rutan) dan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) wilayah Kantor Kehakiman dan HAM di Propinsi Maluku.

Ini adalah kegiatan rutin tahunan sebagaimana aku bersama anggota TNI dan Polri untuk memonitor penyaluran beras untuk anggota TNI dan Polri di daerah perbatasan, pulau terpencil, pengamanan terbatas, pengamanan daerah rawan dan pengamanan pulau pulau terluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga jika bersama Depnakertrans maka aku melaksanakan tugas monitoring distribusi beras untuk masyarakat transmigran terutama di daerah daerah terpencil dan rawan pangan dan atau bersama pihak Departemen Sosial mendistribusikan bantuan beras manakala terjadi bencana alam, kelaparan/rawan pangan dan daerah terdampak akibat suatu musibah/bencana.

Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke kota Ambon, begitu mendarat di Bandara Pattimura aku langsung dijemput Pak Irfan dari Dolog Maluku, bersamaan juga aku dijemput oleh Pak Dhe Gunawan Thaib (saudara Mbah Putri Umi Kulsum suwargi tapi lain ibu, karena Pak Dhe Gun adalah gawan mbah kaji Ridwan bapaknya mbah putri Simo).

Perjalanan dari Bandar Udara Pattimura ke kota Ambon dengan menggunakan kendaraan roda empat memakan waktu sekitar 1 jam atau berjarak sekitar 40 km. ia berjalan berkeliling naik turun perbukitan dengan jalan berkelok disepanjang tepi laut dalam (bukan pantai) teluk Ambon bagaikan huruf U, seandainya ditempuh dengan menggunakan kapal laut maka dari bandara Pattimura dan kota Ambon hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

Aku putuskan untuk sejenak ke rumah Pak Dhe dahulu lalu melanjutkan ke hotel Amans, dan temanku pak Agus salim dari Dep Kehakiman dan HAM aku persilahkan naik jemputan kantor dan langsung diantar ke hotel Amans kota Ambon.

Menuju rumah Pak Dhe adalah melewati jalan naik turun dan jalan penuh emosional mengingat betapa puing puing akibat akibat kerusuhan/konflik horisontal 10 tahun yang lalu masih begitu nyata dan terbengkalai dan ini selanjutnya menjadi wajah tersendiri ketika aku mengelilingi segenap kota Ambon dari sudut ke sudut.

Pak Dhe Gunawan saat ini di Ambon hanya berdua dengan isterinya, mengingat ke 3 anaknya sudah menyebar ngupoyo upo di berbagai tempat, yang pertama studi S-2 di Universitas Indonesia, yang kedua bersuamikan orang yang bekerja di Kalimantan Timur dan yang ketiga sekolah di Semarang Jawa Tengah.

Usai silaturahmi dari tempat Pak Dhe aku langsung diantar ke kantor Dolog (Divre Maluku di Jalan pengeringan pantai Wai Haong) sambil memberitahu bahwa persis di depan kantor ku terdapat makom/kuburan yang bertuliskan Makam Syuhada, karena pada peristiwa konflik horisontal terjadi, disinilah dimakamkan para pejuang muslim dan makam itu sekarang tidak lagi dipakai untuk pemakaman umum (hanya untuk makam korban syuhada kerusuhan Ambon) banyak nisan yang hanya bertuliskan “syuhada” tanpa tahu siapa dia.

Berada disini memberikan suasana cukup menggetarkan jiwa (Wajilat Qulubuhum …!!) dan sengaja aku kirim Al Fatihah untuk pejuang pejuang itu. Ya makam itu berbatasan langsung dengan tembok beton pemisah laut teluk Ambon yang dalam, biru dan bersih, tenang dan angker. Mata batinku bicara bahwa disini berudara teduh sejuk redup hening sepi dengan warna biru lembut dan tanpa semilir angin. Konon kata orang yang aku tanya, tiap malam Jum’at, tanah kuburan di areal ini mengeluarkan aroma harum wangi.

Pekerjaan kantor dan coklit (cocok dan teliti) data ke Kanwil Kehakiman aku laksanakan sebagaimana mestinya saja, selanjutnya aku sempatkan sholat Jum’at di masjid Raya Al Fatah Ambon. Uniknya mesjid itu sebenarnya ada 2 buah dengan jarak tidak lebih dari 10 meter yang satu bercat hijau namanya Masjid Jami dan satunya lagi bercat putih namanya masjid Al Fatah dan kedua masjid ini tidak terlihat sedikitpun ada puing atau bekas hantaman peluru/mortir/bom. Kata orang disekitar masjid dan jamaah masjid, menyebutkan bahwa tidak pernah ada bom dan peluru yang bisa meledak di areal kedua masjid ini. Ke khusus an kedua masjid itu adalah yang Jami khusus untuk sholat fardhu, dan masjid raya Al fatah untuk Sholat Jum’at.

Ambon, menyisakan sebuah kisah traumatis bagi bagi umat Islam maupun umat Kristen. Pernah ada jalan dibagi dua, kantor dibagi dua, pasar dibagi dua, pemukiman dibagi dua, terminal dibagi dua. Meski masih ada yang bertahan sedemikian rupa saat aku singgah setelah 10 tahun peristiwa itu berlalu ternyata masih juga ada keterbatasan keterbatasan itu. Masjid di perkampungan kristen tidak punya jamaah, gereja di perkampungan islam tidak ada jemaat yang datang.

Ada Masjid yang semakin dibakar semakin dibangun menjadi besar !!  demikian juga gereja semakin dibakar semakin juga dibangun menjadi besar !!


si kidal

July 25, 2008

Anak kedua ku, perempuan bernama Annisa Nawangsari, aku memanggil anak perempuan kesayangan ini dengan Mbak Gendis, makanya teman sekolahnya, simbah dan semua saudaranya akrab memanggilnya dengan Mbak Gendis.

Bagiku Mbak Gendis adalah anak yang lucu. Disamping jenis kelamin dan jenis rambut yang berbeda dengan kakak-nya, Mas Alif yang berjenis kelamin laki laki dan berambut lurus, maka mbak Gendis adalah sosok perempuan yang ber-rambut ikal/keriting.

Uniknya lagi, Mbak Gendis memiliki orientasi menulis, menggambar, memegang benda dan berkarya dengan lebih mengandalkan tangan kiri alias kidal beda dengan kakak nya yang berorientasi dengan tangan kanan. Subhanallah … sebuah anugerah Allah yang Maha Indah dan Mengagumkan !.

Terus terang aku tidak pernah menyangka sebelumnya, namun ketika memasuki usia setahun dan aku mulai mengamati gerak tangannya yang lebih lincah dan cekatan dengan tangan kiri … maka aku berkesimpulan, barangkali Mbak Gendis memang kidal, hal ini adalah sesuatu yang langka sekali (tidak ada) dalam ruang kingkup kekerabatan keluarga besar ku dan keluarga besar istri ku.

Ibaratkan nantinya akan memiliki bakat dan kebisaan sebagai penggesek/pemain biola atau pemain pingpong bahkan pemain bulutangkis sekalipun, aku akan bangga dibuatnya. Dan itu sudah aku katakan pada Mbak Gendis sejak kecil, bahwa ini adalah kelebihan yang diberikan oleh ALLAH pada Mbak Gendis. Tentu juga menambah kelucuan, keindahan dan kehebataan anugrah ciptaan Nya itu.

Membayangkan keunikan orang orang bertangan kidal adalah pemikiranku sejak lama, aku masih ingat teman SMP ku di SMPN 10 Magelang yang bernama Teguh Priyanto yang beraktivitas menggunakan tangan kidal, demikian juga beberapa Presiden Amerika seperti Abraham Lincoln dan Bill Clinton, ibu kost ku di Kupang NTT, Mak Liem yang bersuamikan orang Magelang (Pak Dhe Slamet), beberapa teman kantor di Dolog NTT juga kidal. Entah mengapa begitu kagumnya aku dengan orang orang yang bertangan kidal. Sekarang syukur Alhamdulillah ternyata anak ku yang perempuan juga kidal.

Kidal, memang lebih baik


heart attack

July 25, 2008

Ini semoga menjadi kisah klasik yang pernah menimpa diriku dan tidak terulang lagi di masa masa mendatang. Aku coba tuangkan dalam catatan ini semoga mampu menjadikan pepeling (peng-ingat ingat) akan sesuatu yang kurang baik dan berharap sebagai badan/lembaga kontrol atas diri ku sendiri, dan semoga menjadi pelajaran bagi pembaca budiman.

Salah satu yang membuat aku jadi begini selain karena Takdir, maka ia adalah akumulasi dari kegemaran ku akan melahap setiap makanan (asal sehat/baru/hangat/panas) dan tak satupun aku membedakan makanan yang satu dengan yang lain, semua aku suka, suka dan suka. Entah itu masakan Padang, Arab, China, Manado, Eropa, Asia, Malaysia, Jawa, Bugis, Kupang, Madura, bahkan masakan Irian sekalipun.

Kegemaran ku itu ternyata ditunjang pula oleh jenis pekerjaaan ku yang juga mengurusi bahan pangan rakyat se Indonesia, dan rata rata pekerjanya juga gila makan !! Mengapa gila makan ? Ya pastilah … misalnya kalau aku tugas ke Daerah maka orang daerah pasti akan melayani aku (yang notabene orang dari kantor pusat) dengan hidangan makanan khas daerah yang aku tuju.

Nah sementara kalau aku pas tugas sebagai orang daerah, maka salah satu kegiatannya adalah menjamu orang orang pusat yang adatang ke daerah dimana aku bertugas.

Jadi setali tiga wang ?

Intinya sejak di tugaskan di Kupang NTT, di DKI Jakarta dan di kantor pusat … maka hampir semua tempat makan favorit di kota ini sudah aku kunjungi dan dari sinilah penumpukan sisa sisa makanan itu menjadai bahan dasar berbagai jenis penyakit.

Kejadian itu bermula pada tahun 2001 sampai 2003 dimana aku ditugaskan di Gudang Bulog tepatnya di GBB X/MP IV Kelapa Gading Jakarta Utara.  Kala itu gudang tersebut secara khusus dijadikan gudang Gula pasir (Tim Pergudangannya antara lain : saya sendiri, Pak Kartubi, Pak Arif, Pak Sucipto, Pak Yudi, Pak Daeng, Pak Kusen dan tiga orang harian yaitu Bibik, Pak Akam, Udin dan Encep)

Karena sibuknya pengeluaran dan pemasukan di Gudang Gula Pasir itu pernah sekali waktu aku memegang stok sebanyak  17.000 ton (tujuh belas ribu ton) atau senila Rp. 85 milyar lebih, jika di angka-kan per kilogram gula pasir adalah Rp. 5.000,-

Dalam kesibukan yang tidak mengenenal waktu itu, maka pola makan menjadi tidak teratur, sementara perputaran uang yang cukup tinggi di gudang (tip dari pengangkut dan pemilik barang) juga menyebabkan aneka makanan yang dimakan adalah makanan yang mengandung protein, lemak, karbu hidrat dan sebagainya cukup tinggi dan terlalu berlebihan, dan itu sepanjang pagi siang sore dan malam selama tiga tahun berturut turut.

Dalam sebuah check up rutin, dokter mengatakan bahwa tekanan darah ku mencapai 230/140 sebuah angka yang sangat membahayakan, memang yang aku rasakan adalah sering sakit kepala yang berlama lama dan sementara ini di kantong baju ku tersedia selalu obat sakit kepala. Tapi ternyata semua itu tidak menyelesaikan masalah … bahkan masalah ternyata semakin bertumpuk … yaitu sakit di sekujur badan.

Nafas mulai pendek pendek dan ngos ngosan, susah tidur kala malam hari, tidak kuat jalan jauh, tidak kuat mengangkat beban bahkan menggendong Mbak Gendis sekalipun, sampai baju dan celana pada kesempitan semuanya. Mulai limbung dan pada suatu sore sepulang kerja tiba tiba sekujur kakiku membengkak dan tidak bisa di pakai untuk menekuk atau berjalan. Bahkan berjalan dari dari pemberhentian bus ke rumah kontrakan di Klender saja hampir tidak sanggup.

Sesampai dirumah untuk buang air juga tidak bisa jongkok ? ada apa ini ? maka aku buka buku “Dokter di Rumah Anda” …. nah terbukalah disini, bahwa aku di mungkinkan terkena serangan jantung atau heart attack !!

Malam itu juga langsung dirawat di RS Islam Pondok Kopi (sekitar tahun 2003) karena lokasi rumah sakit itu terdekat dengan rumah kontrakan di Klender.

Sampai dengan tahun 2008 sudah tercatat aku keluar masuk rumah sakit sebanyak 5 kali alias hampir setiap tahunnya hampir pernah dirawat di rumah sakit, terakhir bahkan setelah diketahui aku mengindap gejala pembengkakan jantung maka sejak 2004 aku pindah rumah sakit ke Harapan Kita Jakarta, dengan dokter yang menangani aku yaitu dr. Anna Ulfa Rahayoe.

Bahkan di tahun 2008 bulan Pebruari dan April ini aku masuk rumah sakit lagi, pertama di Harapan Kita Jakarta, yang kedua di Unit Perawatan Jantung  RS. Kariadi Semarang, sampai juga mondok di penyembuhan alternatif dengan pijat syaraf dan ramuan tradisional di rumah Bapak Ugiyanto – Balun – Wanayasa – Banjarnegara – Jawa Tengah. Juga konsultasi khusus ke seorang dokter muda yaitu dr. Mada di Ungaran Jawa Tengah.

Syukur alhamdu lillah. Sejak bulan April sampai dengan akhir Juli ini aku setidaknya sudah merasa fit dan seger kembali, aku bersyukur kepada ALLAH SWT dan berterima kasih pada dokter dokter yang sudi menangani aku serta seorang bapak dengan semua anak buahnya di Mbalun yang tulus juga membantuku.

Mereka mereka adalah, dr. Anna Ulfa Rahayoe, dr. Yusak, dr. Shodiqul Rifki, dr. Mada, dr. Nurcholis, Pak Ugiyanto bersama Misono, Miskun, Misdi, Misroh, Tunut, dan teman temannya, tak lupa kepada semua sedulur sedulur ku yang semua mempedulikan aku.

matur nuwun sanget.


Cerita anak

July 18, 2008

Kemarin sore, ada cerita sedih dari Mbak Gendis dan Mas Alif, kucing kesayangannya yang bernama Bola ditemukan dalam keadaan sudah mati. Tambahnya, Bola mati dalam keadaan perut membuncit dan kepala berdarah. Aku jelaskan, mungkin itu karena diracun orang atau makan makanan yang mengandung racun karena biasanya kucing mati dalam keadaan ringan dan kering. Ya, sudahlah… aku katakan pada mereka, apakah sudah membacakan surat Al Fatikhah ? jawab mereka berdua… sudah yah … syukurlah, kucing juga mahluk Tuhan. Apalagi si Bola sudah mengisi ruang keluarga kita ini sudah cukup lama. Si Bola lahir sekitar 8 tahun yang lalu, bahkan beberapa tahun terakhir pernah tertabrak motor sampai tulangnya hancur … untungnya pelan pelan kita sekeluarga berhasil mengupayakan untuk kesembuhannya dan sembuh kembali, meskipun jalannya agak tengkleng dan pincang. Kini bola benar benar sudah mati.

Dengan bantuan teman teman Mas Alif dan Mbak Gendis, maka Bola dikubur secara baik baik di sebelah ujung barat lapangan sepak bola Kebon Singkong, tempat anak anak dan aku biasa bermain di minggu pagi untuk sekedar tamplek tamplek’an wulu (bulutangkis) dan ber polah raga, terutama becanda dan bersenang senang bergembira.

Kedekatan keluarga-ku dengan binatang terutama kucing dan burung serta tanam tanaman cukup baik. Kami semua penyayang binatang dan tumbuhan. Kalau dikumpulkan dari yang ada di desa dan di Jakarta maka ada 26 ekor burung perkutut dan empat ekor kucing, serta berpuluh tanaman yang terawat dalam tabulapot.

Hobi ini sebenarnya adalah hobi turunan, kata orang bapak ku juga sewaktu kecil gemar menangkap dan memelihara binatang terutama burung perkutut. Sewaktu kuliah di Solo dulu, bahkan aku pernah memiliki 14 ekor burung (dari Perkutut, Cocak Rowo, Pok Say, Kutilang, Prenjak, Robin, Kenari dan Trocok) bahkan pada saat aku aktiv di HMI Cabang Solo, aku juga membawa peliharaan itu ke kantor cabang dalam 4 kurungan besar, ada jalak Bali, Jalak Ireng, Derkuku dan Puter) ini adalah sesuatu hal yang aneh bagi pengurus cabang kala itu.

Kembali ke Si Bola, ia bagi ku sudah bukan sekedar binatang lagi, ia bagiku telah menjelma menjadi prewangan (rewang/pemaham ku : binatang yang memahami aku), ketika aku sakit dulu, ia tiap malam tidur di kaki ku. Sebelum tidur di kaki ku terlebih dahulu menjilat i rambut kepala ku. ini suatu yang aneh.

Demikian juga pada anggota keluargaku, entah karena kebiasaan yang sudah lama, maka dengan kata kata dan perintah lisan ala manusia, kucing itu sepertinya paham akan maksudnya, demikianlah sekilas kehidupan keluarga ku dengan binatang binatang kesayangnnya.

Terbukti setiap kami memiliki binatang yang akan dipelihara dan dirawat, maka hal pertama yang ada adalah memberinya nama, misalnya kucing kedua bernama Poleng karena belang hitam putih, dan kucing ketiga bernama kampret karena terkadang jahil kaya kampret/kelelawar.

Demikian juga burung peliharaan yang ada, kebetulan perkutut semua (jalak dan Kutilangnya sudah duluan mati karena usia), adapun nama perkutut itu adalah Triman, karena perkutut ini jinak sekali, mudah bertengger di tangan dan menerima segala apapun dari saya. Sumeh, karena rajin sekali bernyanyi/manggung layaknya orang yang murah senyum. Sebloh, ia rajin makan… kalau makan sampai kedengaran cucukan makanannya cuk … cuk … cuk…  dan makanannya banyak sekali. Gito/gati : perkutut kembar asli Jawa yang aku beli dari gaji ke tiga belas 2 tahun yang lalu (Gati : Gaji Tigabelas/Gito : sahabatnya gati), ada juga yang bernama kencono sworo : suaranya bagaikan emas … merdu terlebih di dengarkan esok pagi pagi sambil nyruput teh panas dan mendengarkan langgam Jawa yang berjudul ” Kusumaning Ati” atau “Kutut manggung”.

Ini terjadi juga semata mata karena sebuah tradisi sebagaimana tradisi “laki laki” Jawa yang baru dikatakan laki laki jika sudah mempunyai : Wanito/Istri, Asmo/Nama, Turonggo/Kendaraan, Kukilo/Burung/Bunyi bunyian, Wismo/Rumah, Curigo/Keris/Senjata dan Harto/Harta (tertuang dalam Sapto Broto/Tujuh Derajad)

Selamat jalan si Bola !