Renungan

August 13, 2008

Muhammad : Nukilan Menjelang Akhir Sang Nabi

Dengan suara yang lemah dan terbata-bata, pagi itu Muhammad saw, rasul terakhir, memberikan nasehat kepada sahabat-sahabatnya:

 

“Wahai umatku,

Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.

Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.

Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an.

Barang siapa mencintai sunnahku, berarti ia mencintai aku dan bersamaku kelak,

Orang-orang yang mencintaiku, akan masuk ke dalam surga bersama-sama.”

 

Sesudah mengakhiri khutbahnya, dengan tatapan yang teduh dan penuh kasih, Muhammad menatap wajah sahabatnya satu per satu. Bertahun-tahun Rasulullah melakukan kebiasaan mengabsen sahabatnya di pagi hari. Tetapi tatapan di pagi hari itu, lain dari biasanya.

Ada perasaan yang begitu berat mengganjal di hatinya. Ada perasaan tidak ingin hidup terpisahkan dari mereka. Siapa yang sanggup, berpisah dengan orang-orang terkasih, yang telah menemani dalam suka dan duka, selama lebih dari 22 tahun? Ia seperti ingin terus berada di tengah-tengah para sahabatnya, yang telah rela mengorbankan apa saja yang menjadi milik mereka, demi tegaknya risalah yang diemban rasul-Nya.

Suasana senyap. Para sahabat merasa, waktunya telah tiba. Sesudah haji wada, yang juga menyiratkan berakhirnya risalah kenabian Muhammad, para sahabat masih terus menunggu, kapan tiba waktunya. Dan kini mereka merasa, mungkin inilah saatnya.

Abu Bakar mamandang Rasulullah. Matanya menatap nanar dan berkaca-kaca. Umar yang gagah dan pemberani, sesak dadanya, berusaha menahan tangis sekuat daya. Utsman terpaku dalam diam. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Semua yang hadir tidak mampu megeluarkan kata-kata. Manusia tercinta itu sudah berada di ujung yang paling akhir dari perjalanannya. Usai sudah Muhammad menunaikan tugasnya.

Tatkala Rasulullah berjalan limbung turun dari mimbar, Ali dan Fadhal dengan sigap segera menangkapnya. Rasulullah segera dipapah masuk ke dalam rumahnya, yang hanya berjarak beberapa meter dari mimbarnya, di Masjid Nabawi yang mulia. Para sahabat semakin yakin, saatnya telah tiba.

Mereka terus berkumpul, di sekitar rumah Rasulullah, menunggu detik-detik berlalu. Matahari sudah meninggi, tetapi pintu rumah Nabi masih saja tertutup. Manusia agung yang mampu hidup lebih mewah dari segala raja, memilih tidur beralaskan tikar, terbaring lemah di dalamnya, bersama keluarganya yang mulia. Keringat yang mengucur dari keningnya membasahi pelepah kurma yang menjadi bantalnya.

Dari arah luar, tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berseru, “Assalamu’alaikum!” Fatimah, putri Nabi, keluar menemuinya. “Boleh saya masuk?” tanya laki-laki itu. Fatimah tidak memberinya izin, karena ayahandanya sedang terbaring lemah. “Maafkanlah, ayahandaku sedang demam,” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan segera menutup kembali pintunya.

Fatimah kembali menemani ayahnya. Rasulullah sudah membuka matanya saat Fatimah datang menghampiri. Ia bertanya pada putrinya, “Siapakah tadi yang datang wahai putriku?” Fatimah menjawab, “Aku tidak tahu, baru sekali ini aku melihatnya.” Lalu Rasulullah menatap wajah putrinya dalam-dalam, layaknya seorang ayah yang hendak pergi meninggalkan anaknya untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Ketahuilah wahai putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan kita di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Mendengar itu, meledaklah tangis Fatimah, yang selama ini ditahannya.

Saat malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah bertanya, mengapa Jibril tidka ikut bersamanya. Jibril sedang bersiap di atas langit untuk menyambut datangnya kekasih Allah, pamungkas para nabi dan Rasul, penghulu dunia ini. Lalu dipanggilah Jibril turun ke bumi mendekat kepada Rasulullah.

Dengan suaranya yang lirih Rasulullah bertanya, “Wahai Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Jibril menjawab, “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti kedatangan ruhmu. Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”

Jawaban itu tidak memuaskan Rasulullah. Di wajahnya masih terlukis kecemasan. “Apakah engkau tidak suka mendengar kabar ini, wahai kekasih Allah?” Jibril bertanya dengan heran. Nabi menukas, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku sepeninggalku!”

“Engkau tidak perlu khawatir, wahai Rasul Allah. Pernah Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” ujar Jibril menghibur.

Waktu semakin memburu. Malaikat maut didesak waktu. Ia harus segera menunaikan tugasnya. Apabila ajal telah tiba, tidak ada yang bisa menahan barang sedetik, tidak juga ada yang mampu mengulurnya, demikian janji Allah kepada seluruh manusia. Perlahan-lahan Israil menarik ruh Rasulullah dari jasadnya yang semakin melemah. Rasulullah bersimbah keringat di sekujur tubuhnya. “Aduhai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”

Rasulullah mengaduh perlahan. Suaranya lirih. Mata Fatimah Az-Zahra terpejam. Ali tertunduk dalam diam di sampingnya. Malaikat pengantar wahyu tak kuasa melihat penderitaan kekasih Allah, dibuangnya mukanya jauh-jauh.

“Apakah engkau jijik melihatku, hingga kau palingkan wajahmu dariku?” tanya Nabi kepada Jibril. “Siapa yang mampu melihat penderitaan kekasih Allah direngut nyawanya?” ujar Jibril.

Tak kuasa menahan sakit, Rasulullah memekik. “Ya Allah, betapa sakitnya maut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku. Jangan kau berikan kepada ummatku.” Sekujur tubuh Rasulullah, dari kaki hingga dada, sudah mulai terasa dingin. Di penghujung ajalnya, ketika nafas tinggal satu-satu meninggalkan rongga dadanya, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Ia masih ingin mengatakan sesuatu. Menantu Rasulullah yang berada di sampingnya segera mendekatkan telinganya, mendengar dengan sangat seksama. “Uushiikum bis-shalah, wa maa malakat aimanukum.” Itulah kalimatnya yang keluar. “Peliharalah shalat, dan santunilah budak-budak di antaramu.”

Di luar rumah, suara tangis para sahabat mulai terdengar bersahutan. Di sisa terakhir tenaganya yang tertinggal, Rasulullah masih berupaya mengucapkan sesuatu. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai membiru. “Ummatii, ummatii, ummatiii…” “Umatku, umatku, umatku…”

Nyawapun meregang, lepas dari jasad Rasulullah. Tangispun meledak. Semua sahabat merasa telah kehilangan manusia yang paling mereka cintai, manusia yang memiliki sebaik-baik akhlaq, yang sejak muda bergelar Al-Amin, Yang Terpercaya.

dikutip dari berbagai sumber dan dari beberapa Blog sahabat


Catatan Perjalanan

August 4, 2008

Minggu pertama bulan Agustus 2008 ini aku habiskan di kota Ambon karena sebuah perjalanan dinas untuk mengecek dan monitoring distribusi beras untuk jatah makan penghuni Rumah Tahanan (Rutan) dan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) wilayah Kantor Kehakiman dan HAM di Propinsi Maluku.

Ini adalah kegiatan rutin tahunan sebagaimana aku bersama anggota TNI dan Polri untuk memonitor penyaluran beras untuk anggota TNI dan Polri di daerah perbatasan, pulau terpencil, pengamanan terbatas, pengamanan daerah rawan dan pengamanan pulau pulau terluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga jika bersama Depnakertrans maka aku melaksanakan tugas monitoring distribusi beras untuk masyarakat transmigran terutama di daerah daerah terpencil dan rawan pangan dan atau bersama pihak Departemen Sosial mendistribusikan bantuan beras manakala terjadi bencana alam, kelaparan/rawan pangan dan daerah terdampak akibat suatu musibah/bencana.

Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki ke kota Ambon, begitu mendarat di Bandara Pattimura aku langsung dijemput Pak Irfan dari Dolog Maluku, bersamaan juga aku dijemput oleh Pak Dhe Gunawan Thaib (saudara Mbah Putri Umi Kulsum suwargi tapi lain ibu, karena Pak Dhe Gun adalah gawan mbah kaji Ridwan bapaknya mbah putri Simo).

Perjalanan dari Bandar Udara Pattimura ke kota Ambon dengan menggunakan kendaraan roda empat memakan waktu sekitar 1 jam atau berjarak sekitar 40 km. ia berjalan berkeliling naik turun perbukitan dengan jalan berkelok disepanjang tepi laut dalam (bukan pantai) teluk Ambon bagaikan huruf U, seandainya ditempuh dengan menggunakan kapal laut maka dari bandara Pattimura dan kota Ambon hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

Aku putuskan untuk sejenak ke rumah Pak Dhe dahulu lalu melanjutkan ke hotel Amans, dan temanku pak Agus salim dari Dep Kehakiman dan HAM aku persilahkan naik jemputan kantor dan langsung diantar ke hotel Amans kota Ambon.

Menuju rumah Pak Dhe adalah melewati jalan naik turun dan jalan penuh emosional mengingat betapa puing puing akibat akibat kerusuhan/konflik horisontal 10 tahun yang lalu masih begitu nyata dan terbengkalai dan ini selanjutnya menjadi wajah tersendiri ketika aku mengelilingi segenap kota Ambon dari sudut ke sudut.

Pak Dhe Gunawan saat ini di Ambon hanya berdua dengan isterinya, mengingat ke 3 anaknya sudah menyebar ngupoyo upo di berbagai tempat, yang pertama studi S-2 di Universitas Indonesia, yang kedua bersuamikan orang yang bekerja di Kalimantan Timur dan yang ketiga sekolah di Semarang Jawa Tengah.

Usai silaturahmi dari tempat Pak Dhe aku langsung diantar ke kantor Dolog (Divre Maluku di Jalan pengeringan pantai Wai Haong) sambil memberitahu bahwa persis di depan kantor ku terdapat makom/kuburan yang bertuliskan Makam Syuhada, karena pada peristiwa konflik horisontal terjadi, disinilah dimakamkan para pejuang muslim dan makam itu sekarang tidak lagi dipakai untuk pemakaman umum (hanya untuk makam korban syuhada kerusuhan Ambon) banyak nisan yang hanya bertuliskan “syuhada” tanpa tahu siapa dia.

Berada disini memberikan suasana cukup menggetarkan jiwa (Wajilat Qulubuhum …!!) dan sengaja aku kirim Al Fatihah untuk pejuang pejuang itu. Ya makam itu berbatasan langsung dengan tembok beton pemisah laut teluk Ambon yang dalam, biru dan bersih, tenang dan angker. Mata batinku bicara bahwa disini berudara teduh sejuk redup hening sepi dengan warna biru lembut dan tanpa semilir angin. Konon kata orang yang aku tanya, tiap malam Jum’at, tanah kuburan di areal ini mengeluarkan aroma harum wangi.

Pekerjaan kantor dan coklit (cocok dan teliti) data ke Kanwil Kehakiman aku laksanakan sebagaimana mestinya saja, selanjutnya aku sempatkan sholat Jum’at di masjid Raya Al Fatah Ambon. Uniknya mesjid itu sebenarnya ada 2 buah dengan jarak tidak lebih dari 10 meter yang satu bercat hijau namanya Masjid Jami dan satunya lagi bercat putih namanya masjid Al Fatah dan kedua masjid ini tidak terlihat sedikitpun ada puing atau bekas hantaman peluru/mortir/bom. Kata orang disekitar masjid dan jamaah masjid, menyebutkan bahwa tidak pernah ada bom dan peluru yang bisa meledak di areal kedua masjid ini. Ke khusus an kedua masjid itu adalah yang Jami khusus untuk sholat fardhu, dan masjid raya Al fatah untuk Sholat Jum’at.

Ambon, menyisakan sebuah kisah traumatis bagi bagi umat Islam maupun umat Kristen. Pernah ada jalan dibagi dua, kantor dibagi dua, pasar dibagi dua, pemukiman dibagi dua, terminal dibagi dua. Meski masih ada yang bertahan sedemikian rupa saat aku singgah setelah 10 tahun peristiwa itu berlalu ternyata masih juga ada keterbatasan keterbatasan itu. Masjid di perkampungan kristen tidak punya jamaah, gereja di perkampungan islam tidak ada jemaat yang datang.

Ada Masjid yang semakin dibakar semakin dibangun menjadi besar !!  demikian juga gereja semakin dibakar semakin juga dibangun menjadi besar !!