akik

Sampai dengan hari ini sudah sekitar 300-an batu akik yang aku koleksi. Banyak nama nama yang menarik untuk menyebut batu akik berdasarkan dari warna dan jenis batuannya, ada kecubung, kalimoyo, badar, jadam, jamrud, mirah, siyem, topas, batu es, lazuli, combong, moto kucing, ponco warno, rubi, pandan, cempoko, anggur, siwalan, giok, pirus, safir, dan banyak lagi. 

Hobiku memakai batu akik di jari manis sudah ada sejak di bangku SMP dahulu. Pertama kali aku memiliki batu adalah pemberian dari ayahku sewaktu beliau bertugas di kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi, waktu itu beliau memberikan aku beberapa akik yang namanya sarang lebah, siwalan, mata kucing dan batu item (kata cerita seorang perempuan tua paranormal di daerah itu bahwa ia mempunyai firasat, beberapa batu kepunyaan nya ingin ikut saya, ya bapak ku nurut saja dan memberikan beberapa batu itu kepada ku)

Keinginan memakai batu akik semakin lama semakin menggila terlebih pada saat memasuki SMA dan masa masa kuliah di Solo. Ditambah dengan mobilitas keluarga dan aktivitas ku yang menyebabkan aku sering bepergian ke berbagai kota dan pulau di pelosok nusantara utamanya di Jawa dan Sumatra (saat orang tua ku bertugas di propinsi Jambi) menyebabkan jumlah akik di koleksi pribadiku semakin meningkat banyak. Maklum, biasanya setiap berkunjung ke suatu kota/daerah maka akik bagiku adalah bukti penanda bahwa aku telah sampai di daerah itu. Bahkan semua sejarah akik ku aku tahu persis.

Setiap aku menyinggahi suatu kota, maka yang aku tuju pertama kalinya adalah ada tidaknya pasar akik/batu mulia atau tempat pusat kerajinan/pengasahan batu akik atau mencarinya di alam (sungai dan gunung) sesampainya disana maka setidaknya sebanyak 3 biji aku usahakan untuk aku miliki melalui membeli, barter atau bahkan mencari sendiri bakalan batu yang memiliki ciri ciri baik/batu mentah.

Terkadang akik juga aku “ada”kan sebagai sebuah penanda, misalnya tahun baru Muharram, Ulang tahun ku, Ulang tahun anak anak, Saat saat tertentu, misalnya pada saat aku sakit jantung aku beli akik dengan warna darah dalam pembuluh darah yang mengalirnya tinggal separuh, itu sebagai penanda bahwa ternyata dalam urat darah ku sudah terbentuk jaringan lemak yang menebal sehingga menimbulkan penyempitan pembuluh. dan sebagainya.

Dari koleksi ku yang ada terdapat batu dari Aceh, Jambi, Medan, Kupang, Jogyakarta, Malaysia, Thailand, Bugis, Kalimantan, Jakarta, Magelang, Surabaya dan banyak lagi daerah daerah lainnya.

Dari keaneka ragam an warna rasanya sudah komplit, ada yang merah, kuning, hijau, oranye, biru, bening, hitam, coklat, biru, lumut, mengkilat, tidak berwarna, bolog bolong, dan warna ngacak.

Jadi, rasanya jika aku memakai kemeja dan celana apapun aku sudah bisa ngepas biar matching antara warna pakaian yang dikenakan dengan warna batu akik yang dipakai begitu.

Demikian juga kalau soal ukuran, ada yang kecil, sedang bahkan ada yang besar sekali sehingga tangan ini terasa panjang sebelah jika memakainya.

Biarlah, kegemaran ku pada akik terpelihara selamanya, sampai kapanpun nantinya, karena bagiku memandangi akik berjam jam akan menimbulkan sensasi kepuasan batin yang luar biasa.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: