surat 2

July 27, 2008

Usai training LK I di gedung HMI Yosodipuro No. 81 Solo, aku ditunjuk sebagai koordinator eks angkatan Lk I Komisariat Fisipol UNS ini (Kalau tidak salah training itu dilaksanakan sekitar bulan Maret 1990-an).

Salah satu materis kegiatannya adalah asistensi dan penambahan wawasan ke HMI-an melalui kajian kajian yang dilaksanakan secara rutin, yang bersifat nonformal tapi sekaligus mempunyai nilai atas semangat dan kecintaan terhadap organisasi HMI ini.

Kajian dilaksanakan pada hari, tanggal dan jam yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, agendanya diputuskan secara bersama, biaya yang timbul ditanggung bersama, pembicara/pemateri dicari secara bersama, thema yang akan dikedepankan juga dibahas bersama, cuma undangan dan penyebarannya biasanya dilakukan oleh aku seorang diri.

Waktu itu memang belum ada HP atau Pager yang bisa SMS dengan singkat, murah dan cepat sampai ke tujuan dan segala pesan dapat segera tersosialisasikan. Dari sinilah maka menulis dan menyebarkan undangan adalah pekerjaan yang cukup melelahkan dan menyita waktu. Maklum peserta LK I angkatanku tempat kost-nya terbentang dari Pabelan, Unisri, Solobaru sampai kawasan Kenthingan yang senada dengan mengelilingi kota Solo dari sudut ke sudut.

Sebenarnya dari sinilah aku bisa mengambil hikmah bahwa, bagi mahasiswa : membaca pengumuman, mencatat, kemudian menghadiri apa yang dimaksudkan undangan/pengumuman itu adalah cara terbaik untuk melakukan proses pengkayaan informasi, pematangan berpikir dan kedewassan menghadapi segala urusan yang harus diselesaikan (dipilih dan dipilah)

Saking berjubelnya agenda dan kegiatan, terkadang mengirim dan menulis undangan adalah pekerjaan yang membosankan ! dan menghadiri undangan juga pekerjaan yang menyita waktu dan biaya, terlebih jika kantong lagi bokek/kosong ? Waaah bisa tambah runyam …

Makanya waktu demi waktu menghadiri asistensi untuk pengkayaan informasi sesama alumni LK I angkatan Maret 1990 makin lama pesertanya makin sedikit … tergerus oleh waktu dan masa, dimana aktivitas di kampus juga semakin banyak dan tak bisa ditinggalkan … (pilihan yang berat : menjadi aktivis kampus dan menjadi aktivis HMI/ekstra kampus)

Dari sinilah cerita itu muncul, ditengah kebosanan menghadiri undangan … maka pada sebuah undangan aku tulis pada bagian penutupnya (meminjam syair lagu dari KLA Project yang lagi inn waktu itu) : … Cukup bagiku … hadirmu … membawa cinta … selalu uuuu … dengan tujuan agar para pembaca menjadi tertarik (tidak bosan/jenuh) dan pada akhirnya bersedia datang menghadiri acara yang sebenarnya sudah di agendakan bersama itu.

Spontan saja mas Joko Purnomo (Joko Pitek: Salah satu aktivis HMI paling kawakan yang aku kenal) yang mengasisten-i kami memperingat kan aku : Yanuar … di HMI itu kalau menulis surat ada tata bahasa bakunya !! jangan kamu menulis se enak pikiran mu ?? ini menyalahi konstitusi !!

Aku terdiam saja …

Maklum sebenarnya aku tahu kalau menulis surat di HMI adalah selalu diawali dengan : Assalaaamu’alaikum wr. wb. Ba’da salam sejahtera semoga rahmat ALLAH SWT senantiasa terlimpahkan kepada kita semua, Sholawat dan Salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga terlimpahkan kepada kita sekalian ……. dilanjutkan maksud dan isi surat …… dan penutupnya diakhiri dengan kalimat : ….  Billahit taufiq wal hidayah, wassalaaamu alaikum wr. wb. baru ditutup dengan tanda tangan ketua dan sekretaris (cap stempel).

Tetapi maksud hati kan, agar surat terbaca lebih seger, baru, unik dan menarik hati pembacanya … dan pada akhirnya si pembaca sudi meluangkan waktunya untuk datang menghadiri undangan tersebut ??

Lha, kenyataannya kalau aku tutup dengan syairnya KLA Project … itu kesalahan yang cukup fatal !!!

Yaa sekali lagi, mohon maaf kang Joko Pitek …


do’a dan pendo’a

July 25, 2008
Dalam khasanah batin, untuk membangkitkan semangat hidup, kepercayaan diri dan ketenangan hati manusia memerlukan the ultimate goal atau suatu Dzat yang diyakini sebagai Sang Maha Segalanya yang hendak di tuju batin kemanusiaannya itu dalam memenuhi kekosongan hati dan jiwanya.
Berbagai cara di pakai manusia untuk hasrat yang satu itu, namun yang namanya manusia sering kali lupa akan petunjuk Tuhan di dalam kitab Suci Nya, ketika kita disediakan dua wahana pilihan Syurga dan Neraka dimana manusia berhak sebebas bebasnya memilih.
Syurga dan Neraka menurutku suatu adalah bentuk ganjaran atas kebenaran dan kebaikan dan bentuk hukuman atas kesalahan dan kecerobohan/keburukan.
Dalam tiap doa yang dihadirkan oleh manusia pada umumnya adalah  kalau manusia telah merasa mempersembahkan kebaikan dan kebenaran maka manusia itu mengharap Syurga atau setidaknya Pahala. Nah, kalau ndilalah melakukan kesalahan dan kecerobohan/keburukan, ternyata manusia cenderung mohon ampun dan tetap mengharap Syurga juga !!
Lalu Neraka selanjutnya untuk siapa ? Bukankah kalau berbuat salah/buruk/ceroboh kita musti konsisten dan konsekuen untuk bersedia dihukum dulu ? bukannya soal minta ampun dan minta minta yang lainnya itu dibahas pada halaman dan bab yang lain ?
Berikut ini ada pinjaman puisi-nya WS Rendra, untuk sekedar me-refleksi diri dan khatarsis :
Sering kali aku berkata
Ketika orang memujiku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipanNya
 
Bahwa mobilku hanya titipanNya
Bahwa rumahku hanya titipanNya
Bahwa hartaku hanya tiipanNya
Bahwa istriku hanya titipanNya
Bahwa putraku hanya titipanNya
 
Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan pada ku
Untuk apa Dia menitipkan pada ku
 
Kalau bukan milik ku
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini  ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
 
Ketika diminta kembali
Kusebut itu musibah
Kusebut sebagai ujian
Kesebut sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja
Untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
 
Ketika aku berdoa
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta
Ingin lebih banyak mobil
Lebih banyak rumah
Lebih banyak istri
Lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
 
Seolah,
Semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah,
Keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
 
Aku rajin beribadah
Maka selayaknya derita menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah “Mitra Dagang” dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas “Perlakuan Baikku”
Dan menolak keputusanNya
Yang tak sesuai keinginanku
 
Ya. Rabb, padahal tiap hari kuucapkan
Hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu,
Ketika langit dan bumi bersatu
Bencana dan keberuntungan sama saja,

si kidal

July 25, 2008

Anak kedua ku, perempuan bernama Annisa Nawangsari, aku memanggil anak perempuan kesayangan ini dengan Mbak Gendis, makanya teman sekolahnya, simbah dan semua saudaranya akrab memanggilnya dengan Mbak Gendis.

Bagiku Mbak Gendis adalah anak yang lucu. Disamping jenis kelamin dan jenis rambut yang berbeda dengan kakak-nya, Mas Alif yang berjenis kelamin laki laki dan berambut lurus, maka mbak Gendis adalah sosok perempuan yang ber-rambut ikal/keriting.

Uniknya lagi, Mbak Gendis memiliki orientasi menulis, menggambar, memegang benda dan berkarya dengan lebih mengandalkan tangan kiri alias kidal beda dengan kakak nya yang berorientasi dengan tangan kanan. Subhanallah … sebuah anugerah Allah yang Maha Indah dan Mengagumkan !.

Terus terang aku tidak pernah menyangka sebelumnya, namun ketika memasuki usia setahun dan aku mulai mengamati gerak tangannya yang lebih lincah dan cekatan dengan tangan kiri … maka aku berkesimpulan, barangkali Mbak Gendis memang kidal, hal ini adalah sesuatu yang langka sekali (tidak ada) dalam ruang kingkup kekerabatan keluarga besar ku dan keluarga besar istri ku.

Ibaratkan nantinya akan memiliki bakat dan kebisaan sebagai penggesek/pemain biola atau pemain pingpong bahkan pemain bulutangkis sekalipun, aku akan bangga dibuatnya. Dan itu sudah aku katakan pada Mbak Gendis sejak kecil, bahwa ini adalah kelebihan yang diberikan oleh ALLAH pada Mbak Gendis. Tentu juga menambah kelucuan, keindahan dan kehebataan anugrah ciptaan Nya itu.

Membayangkan keunikan orang orang bertangan kidal adalah pemikiranku sejak lama, aku masih ingat teman SMP ku di SMPN 10 Magelang yang bernama Teguh Priyanto yang beraktivitas menggunakan tangan kidal, demikian juga beberapa Presiden Amerika seperti Abraham Lincoln dan Bill Clinton, ibu kost ku di Kupang NTT, Mak Liem yang bersuamikan orang Magelang (Pak Dhe Slamet), beberapa teman kantor di Dolog NTT juga kidal. Entah mengapa begitu kagumnya aku dengan orang orang yang bertangan kidal. Sekarang syukur Alhamdulillah ternyata anak ku yang perempuan juga kidal.

Kidal, memang lebih baik


heart attack

July 25, 2008

Ini semoga menjadi kisah klasik yang pernah menimpa diriku dan tidak terulang lagi di masa masa mendatang. Aku coba tuangkan dalam catatan ini semoga mampu menjadikan pepeling (peng-ingat ingat) akan sesuatu yang kurang baik dan berharap sebagai badan/lembaga kontrol atas diri ku sendiri, dan semoga menjadi pelajaran bagi pembaca budiman.

Salah satu yang membuat aku jadi begini selain karena Takdir, maka ia adalah akumulasi dari kegemaran ku akan melahap setiap makanan (asal sehat/baru/hangat/panas) dan tak satupun aku membedakan makanan yang satu dengan yang lain, semua aku suka, suka dan suka. Entah itu masakan Padang, Arab, China, Manado, Eropa, Asia, Malaysia, Jawa, Bugis, Kupang, Madura, bahkan masakan Irian sekalipun.

Kegemaran ku itu ternyata ditunjang pula oleh jenis pekerjaaan ku yang juga mengurusi bahan pangan rakyat se Indonesia, dan rata rata pekerjanya juga gila makan !! Mengapa gila makan ? Ya pastilah … misalnya kalau aku tugas ke Daerah maka orang daerah pasti akan melayani aku (yang notabene orang dari kantor pusat) dengan hidangan makanan khas daerah yang aku tuju.

Nah sementara kalau aku pas tugas sebagai orang daerah, maka salah satu kegiatannya adalah menjamu orang orang pusat yang adatang ke daerah dimana aku bertugas.

Jadi setali tiga wang ?

Intinya sejak di tugaskan di Kupang NTT, di DKI Jakarta dan di kantor pusat … maka hampir semua tempat makan favorit di kota ini sudah aku kunjungi dan dari sinilah penumpukan sisa sisa makanan itu menjadai bahan dasar berbagai jenis penyakit.

Kejadian itu bermula pada tahun 2001 sampai 2003 dimana aku ditugaskan di Gudang Bulog tepatnya di GBB X/MP IV Kelapa Gading Jakarta Utara.  Kala itu gudang tersebut secara khusus dijadikan gudang Gula pasir (Tim Pergudangannya antara lain : saya sendiri, Pak Kartubi, Pak Arif, Pak Sucipto, Pak Yudi, Pak Daeng, Pak Kusen dan tiga orang harian yaitu Bibik, Pak Akam, Udin dan Encep)

Karena sibuknya pengeluaran dan pemasukan di Gudang Gula Pasir itu pernah sekali waktu aku memegang stok sebanyak  17.000 ton (tujuh belas ribu ton) atau senila Rp. 85 milyar lebih, jika di angka-kan per kilogram gula pasir adalah Rp. 5.000,-

Dalam kesibukan yang tidak mengenenal waktu itu, maka pola makan menjadi tidak teratur, sementara perputaran uang yang cukup tinggi di gudang (tip dari pengangkut dan pemilik barang) juga menyebabkan aneka makanan yang dimakan adalah makanan yang mengandung protein, lemak, karbu hidrat dan sebagainya cukup tinggi dan terlalu berlebihan, dan itu sepanjang pagi siang sore dan malam selama tiga tahun berturut turut.

Dalam sebuah check up rutin, dokter mengatakan bahwa tekanan darah ku mencapai 230/140 sebuah angka yang sangat membahayakan, memang yang aku rasakan adalah sering sakit kepala yang berlama lama dan sementara ini di kantong baju ku tersedia selalu obat sakit kepala. Tapi ternyata semua itu tidak menyelesaikan masalah … bahkan masalah ternyata semakin bertumpuk … yaitu sakit di sekujur badan.

Nafas mulai pendek pendek dan ngos ngosan, susah tidur kala malam hari, tidak kuat jalan jauh, tidak kuat mengangkat beban bahkan menggendong Mbak Gendis sekalipun, sampai baju dan celana pada kesempitan semuanya. Mulai limbung dan pada suatu sore sepulang kerja tiba tiba sekujur kakiku membengkak dan tidak bisa di pakai untuk menekuk atau berjalan. Bahkan berjalan dari dari pemberhentian bus ke rumah kontrakan di Klender saja hampir tidak sanggup.

Sesampai dirumah untuk buang air juga tidak bisa jongkok ? ada apa ini ? maka aku buka buku “Dokter di Rumah Anda” …. nah terbukalah disini, bahwa aku di mungkinkan terkena serangan jantung atau heart attack !!

Malam itu juga langsung dirawat di RS Islam Pondok Kopi (sekitar tahun 2003) karena lokasi rumah sakit itu terdekat dengan rumah kontrakan di Klender.

Sampai dengan tahun 2008 sudah tercatat aku keluar masuk rumah sakit sebanyak 5 kali alias hampir setiap tahunnya hampir pernah dirawat di rumah sakit, terakhir bahkan setelah diketahui aku mengindap gejala pembengkakan jantung maka sejak 2004 aku pindah rumah sakit ke Harapan Kita Jakarta, dengan dokter yang menangani aku yaitu dr. Anna Ulfa Rahayoe.

Bahkan di tahun 2008 bulan Pebruari dan April ini aku masuk rumah sakit lagi, pertama di Harapan Kita Jakarta, yang kedua di Unit Perawatan Jantung  RS. Kariadi Semarang, sampai juga mondok di penyembuhan alternatif dengan pijat syaraf dan ramuan tradisional di rumah Bapak Ugiyanto – Balun – Wanayasa – Banjarnegara – Jawa Tengah. Juga konsultasi khusus ke seorang dokter muda yaitu dr. Mada di Ungaran Jawa Tengah.

Syukur alhamdu lillah. Sejak bulan April sampai dengan akhir Juli ini aku setidaknya sudah merasa fit dan seger kembali, aku bersyukur kepada ALLAH SWT dan berterima kasih pada dokter dokter yang sudi menangani aku serta seorang bapak dengan semua anak buahnya di Mbalun yang tulus juga membantuku.

Mereka mereka adalah, dr. Anna Ulfa Rahayoe, dr. Yusak, dr. Shodiqul Rifki, dr. Mada, dr. Nurcholis, Pak Ugiyanto bersama Misono, Miskun, Misdi, Misroh, Tunut, dan teman temannya, tak lupa kepada semua sedulur sedulur ku yang semua mempedulikan aku.

matur nuwun sanget.


akik

July 24, 2008

Sampai dengan hari ini sudah sekitar 300-an batu akik yang aku koleksi. Banyak nama nama yang menarik untuk menyebut batu akik berdasarkan dari warna dan jenis batuannya, ada kecubung, kalimoyo, badar, jadam, jamrud, mirah, siyem, topas, batu es, lazuli, combong, moto kucing, ponco warno, rubi, pandan, cempoko, anggur, siwalan, giok, pirus, safir, dan banyak lagi. 

Hobiku memakai batu akik di jari manis sudah ada sejak di bangku SMP dahulu. Pertama kali aku memiliki batu adalah pemberian dari ayahku sewaktu beliau bertugas di kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi, waktu itu beliau memberikan aku beberapa akik yang namanya sarang lebah, siwalan, mata kucing dan batu item (kata cerita seorang perempuan tua paranormal di daerah itu bahwa ia mempunyai firasat, beberapa batu kepunyaan nya ingin ikut saya, ya bapak ku nurut saja dan memberikan beberapa batu itu kepada ku)

Keinginan memakai batu akik semakin lama semakin menggila terlebih pada saat memasuki SMA dan masa masa kuliah di Solo. Ditambah dengan mobilitas keluarga dan aktivitas ku yang menyebabkan aku sering bepergian ke berbagai kota dan pulau di pelosok nusantara utamanya di Jawa dan Sumatra (saat orang tua ku bertugas di propinsi Jambi) menyebabkan jumlah akik di koleksi pribadiku semakin meningkat banyak. Maklum, biasanya setiap berkunjung ke suatu kota/daerah maka akik bagiku adalah bukti penanda bahwa aku telah sampai di daerah itu. Bahkan semua sejarah akik ku aku tahu persis.

Setiap aku menyinggahi suatu kota, maka yang aku tuju pertama kalinya adalah ada tidaknya pasar akik/batu mulia atau tempat pusat kerajinan/pengasahan batu akik atau mencarinya di alam (sungai dan gunung) sesampainya disana maka setidaknya sebanyak 3 biji aku usahakan untuk aku miliki melalui membeli, barter atau bahkan mencari sendiri bakalan batu yang memiliki ciri ciri baik/batu mentah.

Terkadang akik juga aku “ada”kan sebagai sebuah penanda, misalnya tahun baru Muharram, Ulang tahun ku, Ulang tahun anak anak, Saat saat tertentu, misalnya pada saat aku sakit jantung aku beli akik dengan warna darah dalam pembuluh darah yang mengalirnya tinggal separuh, itu sebagai penanda bahwa ternyata dalam urat darah ku sudah terbentuk jaringan lemak yang menebal sehingga menimbulkan penyempitan pembuluh. dan sebagainya.

Dari koleksi ku yang ada terdapat batu dari Aceh, Jambi, Medan, Kupang, Jogyakarta, Malaysia, Thailand, Bugis, Kalimantan, Jakarta, Magelang, Surabaya dan banyak lagi daerah daerah lainnya.

Dari keaneka ragam an warna rasanya sudah komplit, ada yang merah, kuning, hijau, oranye, biru, bening, hitam, coklat, biru, lumut, mengkilat, tidak berwarna, bolog bolong, dan warna ngacak.

Jadi, rasanya jika aku memakai kemeja dan celana apapun aku sudah bisa ngepas biar matching antara warna pakaian yang dikenakan dengan warna batu akik yang dipakai begitu.

Demikian juga kalau soal ukuran, ada yang kecil, sedang bahkan ada yang besar sekali sehingga tangan ini terasa panjang sebelah jika memakainya.

Biarlah, kegemaran ku pada akik terpelihara selamanya, sampai kapanpun nantinya, karena bagiku memandangi akik berjam jam akan menimbulkan sensasi kepuasan batin yang luar biasa.


Rendes Vouz ?

July 24, 2008

Dunia memang sempit …

Kejadian seperti ini mungkin pernah anda alami, demikian juga aku. Tetapi setidaknya aku cukup beruntung dengan perubahan fisik ku dari sewaktu kecil dulu, masa remaja, menginjak dewasa dan setengah tua ini cukup banyak perubahan, sewaktu kecil aku cenderung pendek, gempal dan kulit legam, masa remaja cukup ideal antara bobot dan tinggi badan, masa dewasa sudah mulai over weight dengan bobot diatas 90 kg, dan di pipi dan janggut mulai ditumbuhi jenggot dan brewok, dan saat setengah tua ini brewok dan jenggot semakin banyak, rambut dikepala mulai ditumbuhi banyak uban dan over weight semakin menjadi jadi dengan kisaran 110 kg.

Kondisi ini menyebabkan hampir semua teman teman ku semasa kecil, remaja, dewasa dan tua ini hampir tidak bisa mengenali aku lagi, kecuali aku yang menyapa mereka dahulu. Teman teman ku SD sewaktu di Pekalongan sudah hampir tidak tahu aku lagi, demikian juga teman SMP di Magelang dulu, teman SMA di Boyolali dulu bahkan teman kuliah di UNS Solo.

Keadaan ini ada untung ruginya, ruginya … aku cukup berlema lama menjelaskan bahwa aku ini Yanuar teman lama kita … dan mereka lambat laun baru bisa paham. Sementara untungnya adalah, jika dalam keadaan tertentu, maka hampir pasti temanku tidak akan mengenali aku, demikian juga kepada orang orang yang pernah aku cintai/kagumi dahulu. Sewaktu SD dulu aku kagum dengan teman perempuan yang namanya Sri BRI (karena bapaknya adalah pegawai BRI di Kraton Pekalongan), sewaktu SMP pernah kagum dengan Ana Rahmawati tinggal di Mager Sari Magelang (Bapaknya adalah seniman patung yang membuat patung Diponegoro di alun alun kota Magelang), Susi gadis tomboy dengan badan gagah tegap dan rambut pendek yang sama sama anggota paskibraka SMP Negeri 10 Magelang, Lusi yang kala itu pindah sekolah ke Jakarta (katanya pada saya adalah pindah ke Jatinegara Jakarta), ada Ambar gadis lembut ayu dari kampung Pathen Nggunung yang selalu ketemu saat sholat Maghrib di Mesjid Al Mukmin SD Muhammadiyyah Magelang terlebih saat bulan puasa, kita sering sebagai petugas takjilan (membagi makanan kecil usai tarawih) semuanya cukup berkesan.

Saat SMA, aku mengenal Ispadmi Bantu Sunarsih (Aktivis PDI sejak SMA, maklum bapaknya adalah dedengkot PDI di Kabupaten Boyolali kesayangan Megawati sampai hari ini), juga Mulyaningsih gadis sederhana tapi anak orang yang cukup terpandang di Kota Boyolali, tercatat bapaknya adalah salah satu dewan penyantun UNS Surakarta.

Bahkan Mulyaningsih semasa di bangku SMP adalah salah satu siswa teladan tingkat nasional, terbukti saat pacaran dulu aku pernah melihat fotonya sedang berjabat tangan dengan Presiden Suharto di istana negara bersama putra putri teladan se-Indonesia. Sekarang ia bekerja di Dirjen Pajak – Departemen Keuangan Jakarta, dan tempat tinggalnya hanya sekitar 1000 meter dari kontrakan saya di Klender Jakarta Timur.

Beberapa tahun yang lalu cerita itu dimulai, ketika aku sedang berjalan pulang kerja menjelang maghrib, tepatnya di sebuah tempat praktik dokter (dr. Suharso – ujung gang kampung Klender) aku melihat sosok perempuan kulit kuning langsat, rambut lurus sebahu, hidung mancung dan muka agak pucat wajah China hatiku tertegun …. ini Nining (panggilan akrab Mulyaningsih) … tapi aku diam saja karena aku yakin Nining tidak mengenali wajahku lagi, maka sampai dirumah aku langsung telpon Bapaknya yang di Boyolali (aku masih menyimpan nomor telepon itu) dan tidak kuduga, bapaknya mengiyakan bahwa itu adalah dik Nining yang sekarang tinggal di jalan Amal nomer 1 (jalan ke kampusnya Mas Bambang Marsono, kampus Trianandra) dan menjelaskan bahwa ia sekarang adalah pegawai Pajak dan sudah dikaruniai anak 2 orang.

Lalu aku nelpon Nining setelah bapaknya menginformasikan nomer itu padaku (bapaknya dik Nining cukup akrab dengan aku), bahkan seluruh anggota keluarganya mereka juga cukup baik dengan aku, cuma memang hubungan kami terbatas dan terpisahkan oleh perbedaan agama, dik Nining beragama Kristen Protestan) dan akhirnya kita ngobrol sebatas dan seperlunya saja. Tanpa sedikitpun keinginan secara sengaja untuk bertemu meskipun jarak rumahnya dan kontrakan ku cukup dekat.

Tapi Nining adalah gadis yang baik (dan kaya, dari duit orang tuanya), aku masih ingat waktu pacaran dulu, sering diberi kunci mobil oleh Ibunya, dan disuruhnya aku untuk ngajak jalan jalan dik Nining … tapi aku katakan bahwa aku tidak bisa nyetir mobil pada ibunya. Juga kalau bulan puasa, dik Nining rajin sekali menemani aku buka puasa di tempat kost kost-an ku serta membelikan aku roti, kue dan susu.

Sampai hari ini pun aku masih sengaja untuk tidak berkehendak bertemu dengannya, dengan suaminya, anak anaknya, juga dengan keluarganya, karena kita sudah berbeda dan menjalani kehidupannya sendiri sendiri.

Nah, rupanya kejadian itu terulang kembali, tepatnya beberapa minggu yang lalu, sewaktu aku mengantarkan anak anak ku liburan di Wonogiri dan Boyolali (tempat embahnya), pas balik ke Jakarta menggunakan kendaraan umum – Bis Raya – aku bertemu dengan Nining lagi ! Satu bis lagi ?

Untungnya brewok ku pas lebat lebatnya dan aku sedang memakai topi bermerek “Crocodile” (artinya aku sedang jadi “buaya darat”) warna  hitam lagi, hal ini setidaknya ini bagaikan sebuah topeng yang mampu menyamarkan diriku dengannya.

Aku bukannya takut atau merasa bersalah atau aku pernah menyakiti hatinya, ketika aku memutuskan untuk tidak mau menemuinya kembali, sungguh ini semata hanya karena aku tidak ingin CLBK* saja.

Ini adalah sekelumit pacaran masa SMA dulu, dan jika pada umumnya orang pacaran selalu mengingat lagu apa yang populer waktu SMA dulu misalnya : Nostalgia SMA dari Paramitha Rusady, atau Kisah Kasih di Sekolah dari Obbi Mesakh, …. maka, saat aku pacaran SMA dulu bersama dik Nining dan sampai sekarang jika mendengar lagu ini aku masih teringat akannya.

Lagu itu adalah : “Kodok pun ikut Bernyanyi” karya Ari Wibowo yang satu album dengan lagu Madu dan Racun yang cukup populer di tahun 1986/1987. Ingat kan ??

Mungkin anda juga demikian ?

Inikah nyang namanya Rendes Vouz ?

 

 

weleh weleh …

*) Cinta Lama Bersemi Kembali


Hari anak

July 23, 2008

23 Juli di jadikan hari anak nasional Indonesia, aku tidak terlalu paham akan hal itu, yang aku pahami hanyalah tiba tiba aku teringat anak ku sendiri, Mas Alif dan Mbak Gendis … (masak ingat anak orang lain ??)

Sengaja aku doktrin kan pada mereka sejak 0 tahun sampai masuk usia sekolah TK dengan doktrin : “Makan yang banyak dan bobok yang lama !” pesan ini aku maksudkan adalah untuk membentuk fisiknya agar senantiasa sehat, brigas dan memiliki semangat hidup, dimana pemahaman sederhanaku adalah jika anak porsi makan dan istirahatnya cukup, maka ia akan senantiasa sehat dan fisiknya baik.

Begitu memasuki usia sekolah, doktrin itu aku ganti dengan : “Selalu gembira dan penuh rasa syukur !” ini juga aku maksudkan agar anak anak memiliki mental yang baik dan riang selalu (aspek mentalitas).

Tapi, itulah anak anak ku, yang sering memunculkan tingkah polah yang tidak aku duga sama sekali sebelumnya, misalnya :

1. Mas Alif, sewaktu belum sekolah dulu, kalau tidak ingin ayahnya pergi ke kantor, selalu mengencingi sepatu dan punggung ayahnya (padahal sudah pakai seragam untuk berangkat kerja ….

2. Mas alif pernah mengatakan bahwa tampang embahnya mirip tampang ayah, lha embah (bapak ku) bilang : ” Bukan tampang embahmu ini yang mirip ayahmu, … tapi tampang ayahmu itulah yang mirip embah ini ?” (ya, karena aku adalah anak bapak Ibuku dan Mas Alif adalah anakku)

3. Sewaktu ulang tahun ke-5, kue tart untuk acara syukuran dikelas-nya dijilat seluruhnya, katanya biar nggak ada yang mau makan kue ini ! tandasnya.

4. Mbak Gendis sudah belajar mengaji sejak usia 2 tahun, namun yang diucapkan sesuka hatinya, misalnya : Kul Hum Mul Hum Mul Hum Mul Hummm … Mul Hum Kul Hum Mul Hum Mul Hum … begitu diucapkan dan dinyanyikan dengan suara yang lembut merdu seusai sholat maghrib bersama saya.

5. Entah mengapa, sejak kecil sampai hari ini, Mbak Gendis suka mendandani/merias/make up wajah ayahnya (dan bukan dengan ibunya) dengan bedak, pupur, eye shadouw dan lipstik … aku jadi sering pura pura takut dibuatnya. Kejadian itu biasanya dilaksanakan hari Jum’at malam, Sabtu malam, Minggu malam dan Senin malam.

6. Sewaktu aku bertengkar dengan istriku, selalu saja ada kata kata mbak Gendis yang sering mambuat aku tertawa dan nggak jadi bertengkar, misalnya : Sudahlah, mbok kalian itu To Bat : Soto Babat !! dan akhirnya kita pun ber empat gembira lagi dan pergi makan soto babat.

7. Kalau ayahnya sedang stres, kemudian kita berempat berkumpul. Dan aku mengajak menyanyikan lagu burung kutilang !, nah siapa yang ketawa duluan itu yang kalah …. lagunya : Dipucuk pohon cemara …. burung kutil … kutil … kutil … sebanyak banyaknya …. sampai salah satu menyerah ?

8. Terkadang aku juga menyanyikan lagu : buat apa susah (diplesetkan menjadi buat apa susi) lagunya : …..”buat apa susi ? … buat apa susi ? … susi itu nggak ada susunya …

hmmmm…

9. Saat memasuki kelas TK, mas Alif paling tidak bisa bernyanyi dan berbaris, masak kalau masuk kelas ia sengaja berjalan mundur ?? dan sesampai di dalam kelas ia duduk dan berdiri diatas meja sambil tolah toleh (tengok kanan kiri) dan tidak mau turun, bahkan diingatkan oleh Ibu guru sekalipun ???

Anehnya lagi, kelakuan Mas Alif ini, kata ayahku … juga pernah aku lakukan saat masih duduk di kelas 1 SD di SD Gunung Sari sekitar tahun 1976

Ya, itulah dunia anak, dunia milik mereka, aku dan ibunya cukup memfasilitasinya saja …


Nama 2

July 20, 2008

Kalau melihat HMI cabang Solo hari ini yang perkaderannya mandeg, maka aku teringat 19 Tahun yang lalu, tepatnya tahun 1990 an, dimana pernah terjadi training dengan peserta terbanyak, sampai menembus angka 70 orang peserta, dan terpaksa kelas kita bagi menjadi 2, satu kelas di kantor cabang dan kelas lainnya di Masjid dekat Monumen Pers Surakarta. Bahkan pada Saat Musyawarah Lembaga (Muslem) LPLK pertanggung-jawabanku sebagai Ketum LPLK, juga menembus angka peserta terbanyak pula, ini aku tuangkan dalam laporan pertanggung-jawabanku (LPJ).

Disini aku mengenal banyak sekali sahabat sahabat diantaranya : Adib, Agus Ileng, Badrus, Zubed, Miftah, Santo, Kohar, Mas’ad, Hersy, Tatang, Oliq, Eko, Dwiki, Yudo, Joko, Kotrut, Heri, Slamet, Tri, Rohadi, Tofik, Endra, Badriyah, dan banyak lagi yang kesemuanya berkecimpung di team pengelola latihan (Senior)

Nah, sering dalam mengisi training kita bergiliran untuk mengelola dari training ke training, semua dilakukan dengan senang hati lho …. padahal tidak ada yang kasih honor, dan terkadang justru kita malahan mengeluarkan sejumlah dana. Bahkan terkadang kita dalam satu bulan bisa mengelola training tanpa putus dari komisariat A, B, C dan seterusnya.

Untuk mengisi kekeringan rasa humor dan pelepas stress, maka sering kita saling bercanda, maklum mengisi training apalagi yang berkaitan dengan Spiritualitas, Ideologi, Nasionalisme, Kebangsaan, Kemahasiswaan dan Teori Strategi/Taktik terkenal cukup serius, menyita pikiran dan otak kita !

Salah satunya adalah dengan menghubung hubungkan nama kita dengan sebuah kejadian misalnya :

Adib, kono Agus gen Badrus !! (Adib, sana pergi mandi, biar rapi)

Tantowi, entuk salam soko Dian ? maksudnya bukan Dian Sofiana (Gadis manis dari Fakultas Teknik) tapi dari Dian Cuk !!! (Bentuk pisuh an orang Jawa Timur ) …..

Ingat Adib Zuhairi maka akan ingat penjual Heeek Pak Man !

Ingat Heri Bakwan, Ingat Mus Mulyadi dan Waljinah

Ingat Kotrut Tatris, jeneng kakeh an huruf T.

Fudoli, yang asli Bulakamba – Brebes (Jateng) yang kalau ngomong keras bagaikan suara TOA !

Ingat Yanuar, ingat Man Yan (karena aku pernah kost disebuah keluarga yang anaknya tidak bisa menyebut atau mengucap  huruf  S dan menyebutnya menjadi ucapan N. Jadi kalau tikus ya tikun, Sore ya nore, Bakso ya baknyo, tas ya tan, Bis jagi Bin dan Mas Yan di panggilnya Man Yan.


Nama 1

July 18, 2008

Menjadi pengurus cabang di HMI adalah saat saat yang paling indah, kita hidup dalam satu komunitas di gedung HMI Cabang Surakarta  suka duka begitu bergulir dinamis dan berkesan sekali, dari banjir bandang, WC mampet, Tagihan listrik, air dan koran macet, minta sumbangan ke alumni, kiriman wesel terlambat, sampai bergunjing soal HMI wati dan rasan rasan (memang itu sebagai ketentuan tidak tertulis, dimana pengurus cabang harus bertempat tinggal di kantor cabang).

Nah kebetulan saat itu baru dipasang telepon umum yang bisa di panggil atas nama HMI cabang Solo tentunya dengan nomor khusus. Saat itu belum ada yang punya Hape dan telepon umum cabang menjadi tempat favorit berkomunikasi.

Pada suatu hari ada telepon dari seorang perempuan Kohati komisariat Sunan Kalijogo Unisri, kebetulan namanya adalah WALJINAH.

Dan penerima telepon adalah Heri Bakwan (Pengurus cabang dari komisariat Ahmad Yani)

Pembicaraan berlangsung :

Waljinah (penelpon perempuan) : Halo, asalaamu’alaikum !!

Heri Bakwan (penjawab di HMI Cabang) : Waalaikum salaaam, ini siapa ??

penelpon perempuan : Ini Waljinah …

Heri Bakwan menjawab : OOO yaaa ….. ini Mus Mulyadi !!

Spontan kami ngakak …. lha wong memang ada anak komisariat Unisri yang bernama Waljinah kok … malah kamu ngledek dengan menyebut diri mu :  MUS MULYADI !!??

weleh weleh ….


Usai makan

July 18, 2008

Lagi lagi soal boncengan bertiga !

Memang kala itu bagi pengurus cabang, motor adalah sarana yang sangat vital, bahkan sering jadi konvensi dimana untuk menduduki jabatan Sekretaris Umum (Sekum) harus mempunyai sepeda motor !

Begitulah elan vitas perjuangan kader kader HMI tahun 1990-an !

Kejadiannya adalah usai sholat jum’at, aku bertiga (Aku, Mardi Nugroho dan Fudoli) boncengan kendaraan dengan Vespa-ku itu menuju tempat makan favorit, saat tanggal muda dan hati gembira, kita biasa makan di Rumah Makan Tiga Serangkai (dekat Sriwedari) karena ada soto yang enak, sego pecel yang manteb serta es teh yang bisa jog/nambah.

saat pulang usai makan di warung makan Tiga Serangkai kita ketawa ngakak ngakak keras sekali, maklum antara warung makan dan kantor cabang hanya seperti huruf L saja, dan mudah di jangkau… kita ngebut, ketawa ngakak karena Mardi dan Fudoli terkenal suka Ndagel !!! aku yang pegang setang kemudi tinggal ikut ketawa saja !!!

Nah, pas mendekati kantor cabang, tepatnya di gedung sebelah cabang (Gedung bertuliskan “Tontowi”) tiba tiba tangan kiriku ada yang memegangnya erat erat. Aku masih ketawa saja hahaha …. tapi kok aneh … Fudoli dan Mardi diam saja ??? ada apa ???

Teryata yang memegang tangan ku adalah tangan Pak Polisi !!! aku juga kaget pada akhirnya !!!

Walah !!! ketilang lagi nih !!

Aku langsung berhenti saja di depan gedung itu … pak maaf pak, bagaimana kalau kita ke kantor saja … usul ku pada Pak Polisi, mana kantormu !! bentak Pak Polisi… maka aku jawab penuh takut : Ini …. sambil aku menunjuk kantor HMI cabang Solo…

Walah deek !! mbok yaooo kalau naik sepeda motor itu jangan bertiga … dan harus pakai helem dong !!! nanti bahaya !!!

Iya pak !! jawab kami bertiga, sebenarnya sih kami hanya pergi untuk makan di depan situ pak….

Ya … sudah …. pak Polisi pergi begitu saja…

Aku, Fudoli dan Mardi kembali ngakak … kakakakakak ….