keras dudu (bukan) keris

June 29, 2008

Barang siapa ingin damai, harus perang dahulu !

Dalam beberapa hal, keputusan untuk bersikap secara keras memang diperlukan ! Dalam mempertahankan prinsip dan harga diri demi sebuah kebenaran misalnya, biasanya manusia benar benar sudi melakukan apa saja termasuk tindakan kekerasan meskipun sebenarnya kebenaran itu juga masih absurd dan terkadang masih prematur dan sepihak ?

Pelajar dan mahasiswa yang rela bangun pagi buta dan belajar hingga larut malam adalah usaha keras untuk mendapatkan kepintaran, kebisaan dan pengetahuan lebih yang selalu menjadi dambaan.

Soekarno yang menyemangati pemuda yang bernama Marhaen yang sudi menggarap sawah jauh sebelum matahari menampakkan dirinya  dan ayam jago berkokok adalah usaha keras yang diusahakan kaum tani untuk nguri uri (merawat, memelihara dan mensyukuri) harta pemberian Tuhan berupa tanah dan air serta tumbuh tumbuh-an.

Makanya para sesepuh selalu mengingatkan pada generasi penerusnya untuk : Keras boleh, tapi bukan keris !

Maksud dan tujuannya adalah sikap keras dan berpikir keras apalagi kerja keras bisa dibenarkan oleh akal dan nurani, tapi dengan menggunakan keris hanya untuk bersikap keras apalagi bersifat adigang adigung dan adiguna sangatlah bertentangan dengan akal dan nurani.

Bahkan (maaf agak sensitif dan berbau : Gender sedikit) pesan leluhur imbuhnya adalah :  

Wong lanang kudu atos sebab-e endas-e loro, lha nek wong wadon  memang kudu akeh omonge sebab-e cangkem-e loro

Artinya : dalam hal berpikir kita harus menggunakan logika laki laki sebagaimana laki laki yang punya kepala dua, sementara dalam bertutur kata kita harus menggunakan logika perempuan yang lemah lembut sebagaimana perempuan yang ber-mulut dua.

Tentu ini bukan legitimasi dan pembenaran atas sikap kekerasan mahasiswa terhadap polisi atau sebaliknya, juga bukan sikap kekerasan antara Jemaat Ahmadiyyah dan FPI dan juga sebaliknya. Ini adalah keras berusaha secara gigih dan tak mengenal menyerah apalagi putus asa. Atau pembenaran atas tindakan Ayin (Artalita Suryani) yang pintar merayu kaum jaksa sehingga bertekuk lutut dan menghambakan dirinya  sebagaimana syair lagu Titiek Puspa ?

“Namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut disudut kerling wanita”

Keras tapi bukan keris,

Meskipun keris itu ada, tapi keris dimaksud adalah ageman untuk mawas (“curigo” : senjata untuk memperingatkan diri sendiri) karena keris secara tradisi adalah tosan aji (citra jiwa : jati diri) jadi keris tidak sepadan dengan golok dan keris bukan pedang atau senapan yang bisa digunakan sesuka hati dan sewaktu waktu. Karena keris sebenarnya adalah alat untuk memperingatkan diri sendiri agar selalu waspada dan ingat (mawas) akan mara bahaya yang bisa datang kapan saja, menimpa siapa saja dan bentuknya bisa apa saja.

Makanya, meskipun penting, keris tetap disematkan di bagian belakang dan dan bukan di depan layaknya senjata kebanyakan. Keris juga bukan alat pemotong atau pembelah, ia adalah sekedar alat penunjuk (penusuk). Bukannya kalau untuk menunjuk atau menusuk sesuatu harus tepat dan perlu berpikir tujuh kali ? dan bukan pusing tujuh keliling ? 

Mungkin saja sesulih ini berlaku bagi siapapun (generik) yang berkehendak untuk memerdekakan dirinya (dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan)

Karena berpikir dan berbuat bagi masyarakat yang bertradisikan Jawa sebagaimana masyarakat desa tidak hanya menggunakan akal, otot dan otak tapi juga menggunakan hati.


7 (baca : pitu/tujuh)

June 28, 2008

Angka tujuh bagi masyarakat tradisional Jawa mempunyai arti yang sangat mistis dan tidak bisa dilepaskan dari sendi kehidupannya, demikian juga masyarakat desa-ku, desa Nggunung sari kecamatan Simo. Lihatlah ada sesaji bunga tujuh rupa (mawar, melati, kenanga, kanthil, menur, pandan dan mangkok-an) ada juga air dari tujuh sumber mata air/sumur, puasa mutih tujuh hari tujuh malam (siang-nya berpuasa dan malamnya hanya makan nasi putih dan atau polo kependhem (umbi-umbian) dan minum air bening dan bukan air putih, jajan pasar sebanyak tujuh rupa (Jenang, Wajik, cucur, jadah, apem, ketan dan thiwul).

Mengapa sesaji ?

Sesaji adalah bahasa sederhana masyarakat desa dalam menerjemahkan kata puja dan puji kepada yang Membuat Jagad Raya ini ada. Ia berfungsi secara ritual, spiritual dan sosial. Ia menjadi keharusan usaha yang sengaja  dijalani secara sesering mungkin selama kehidupan berlangsung (ritual) untuk mengharapkan adanya kepuasan lahir bathin dalam waktu yang lama (spiritual) dan sekaligus meberikan rasa kebersamaan, saling memberi, penghormatan dan pernyataan untuk bergabung (ajur ajer : cair/liquid) antara sesama hamba/mahluk Tuhan (sosial).

Sesajian (pemberian : biasanya berupa makanan, minuman dan wewangian) ini bisa di sama artikan dengan kerja sosial atas upaya pengucapan asma’ul khusna yang juga berupa bentuk puji pujian (memberikan kebaikan) atas Kekuasaan ALLAH SWT, manakala suatu mahluk pada ruang dan waktu yang sama mengharapkan ke-Ridho-anNya. Ketika itu di benda kan bukan berarti kita berkehendak menjadi Musyrik atau Menyekutukan-Nya?  Ia justru juga merupakan wujud syukur dengan membagikan atau memberikan sesuatu yang berguna kepada sesama mahluk Tuhan dalam bentuk makanan dan minuman juga wewangian sebagaimana orang awwam desaku mempersonifikasikan keadaan Surga dengan air yang mengalir, banyak tersedia makanan dan buah serta aroma yang selalu harum wangi.

Mengapa tujuh ?

Tujuh dalam pengucapan bahawa Jawa adalah pitu. Pitu adalah Djarwodhosok alias singkatan dengan kata lengkapnya dimaksudkan adalah Pitulungan (pertolongan) suatu kata kerja yang berarti mengharapkan suatu Dzat Maha Segalanya bekerja atau berbuat untuk kita. mengharapkan pertolongan Tuhan !

Karena hanya kepada Gusti Allah-lah manusia minta pertolongan dan mengharapkan bantuannya. Makanya ritual itu di bungkus dengan acara syukur-an dan bukan acara matur nuwun-an atau terima kasih-an. Karena kepada Tuhan Gusti Allah kita bersyukur bukan ber-terima kasih, sebagaimana sering diucapkan kebanyakan orang seperti dalam iklan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di televisi atau manakala artis menerima penghargaan dari sponsor malah berterimakasih pada Tuhan ? dan bukannya bersyukur ?

Bersyukur dengan mempersembahkan/menghadirkan sesuatu yang tujuh (baik makanan, minuman maupun wewangian) adalah bahasa yang sungguh sederhana dan bisa dipahami secara tradisi sebagaimana di-amin-i oleh para Wali di tanah Jawa masa lampau dan ini dianggap sebagai suatu pemesraan antara agama dan tradisi yang memang sebenarnya tradisi adalah agama yang menerjemah.

Ia sama sekali bukan bentuk penyekutuan atas keberadaan Gusti Kang Murbo Eng (Murbeng) Dumadi. Ia adalah wujud ke-santun-an dan ke-patuh-an hamba Allah. Mengharapkan pertolongan sekaligus menyampaikan rasa syukur.

Mungkinkah anda bisa melaksanakan kepada atasan anda ?

Mungkinkah mahasiswa melaksanakan pada profesornya ?

Mungkinkah pelajar melaksanakan pada gurunya ?

Mungkinkah anak melaksanakan pada Bopo-biyung-nya ?

Mari kita buat segalanya serba mungkin.

Dan bisa dipraktik-kan pada anda, coba makanlah dengan asupan keaneka ragaman makanan yang anda makan dalam sehari tidak lebih dari 7 macam ! Mulailah dengan yang sudah ada 2 yaitu nasi dan air minum, sisanya tinggal 5 jenis makanan lagi dan jangan lebih ?

Niscaya anda akan sehat wal afiat, toto tentrem lahir bathin.


caping

June 27, 2008

caping adalah sebuah benda berbetuk kerucut yang terbuat anyaman bambu dan dipakai/dikenakan di kepala kita sebagaimana topi laken (ala koboi), Sombrero (ala Mexico), Sepa (ala Rote). Caping berguna sekali pada saat panas terik ataupun hujan lebat menimpa tubuh kita dalam menapaki suatu perjalanan.

Makanya caping lazim sekali dengan kehidupan masyarakat pedesaan dan keberadaannya mutlak sekali. Kedudukan caping sejajar dengan pacul/cangkul dan arit/sabit. Ia menjadi barang substitusional pada saat bertani ke sawah, pergi ke ladang untuk berkebun atau angon kambeng, bahkan ke pasar atau menghadiri kondangan sekalipun.

Caping adalah ciri kesederhanaan masyarakat pedesaan, demikian juga di desaku, desa ibu-ku

Caping sudah aku kenal sejak masa kanak kanak-ku yang aku habiskan di sebuah desa kecil daerah pegunungan sekitar 4 km dari tempat kelahiranku, Simo. Nama desa tempat bertumbuh-ku itu adalah Gunung Sari (dibaca : Nggunung Sari ) ya, karena tipologi dan strktur tanahnya bagaikan perbukitan/pegunungan.

Rumah rumah penduduknya tidak ada yang berdiri sejajar, selalu beda jika itu diukur dari Atas Permukaan Laut (DPL), karena keadaan itulah jangan berharap di desa ini terdapat sepeda, atau ada orang yang bisa naik sepeda (maksudnya : sepeda onthel), bahkan Ibu-ku sendiri yang berprofesi layaknya “Guru Oemar Bakri” dengan sepeda kumbang-nya, sampai batas masa pensiunnya tidak pernah bisa naik sepeda layaknya sepeda kumbang Oemar Bakri.

Tradisi dan kehidupan kampung itu terkesan sederhana bahkan sangat sederhana, terbukti sejak aku kecil sampai hari ini (sudah sekitar 40 tahun) belum ada perubahan yang nyata dan berarti dari kampung-ku itu, yang berbeda hanyalah sekarang sudah ada listrik, jalan penghubung antar desa sudah beraspal meskipun disana sini sudah terlihat rusak, juga sudah tersedia air minum desa (Pam Des) yang mengalirnya bergantian (antri) karena terbatasnya dan mahalnya air.

Kecuali beberapa keluarga yang sudah mengebor sendiri memanfaatkan air tanah dengan rata rata kedalaman 50 meter dan dengan bantuan mesin penyedot air (kata orang kampung/desaku : Sanyo meskipun merek alat itu sangat bervariasi, ada sanyo, DAG, DAB, Wasser, Grunfos, National, dan banyak lagi).

Air, bagi penduduk desaku adalah harta yang mahal. ia hanya terdapat di tidak lebih dari 5 sumber mata air, antara lain :

1. Mber Pegeng (Sumber Pegeng) : karena airnya dalam dan melimpah.

2. Mber Seto (Putih) : Karena mata air ini menghasilkan warna air yang cenderung bening putih.

3. Mber Duren : Karena berada dibawah naungan rerindangan pohon duren.

4. Mber Lumut : karena sumber itu banyak tumbuh lelumutan karena ke-dingin-annya dan ke-lembab-annya daerah itu.

5. Mber Lepen (sungai/kali) : karena sumber mata air itu terletak di pinggiran kali/sungai.

Sumber mata air itu menjadi dambaan dan pengharapan seluruh penduduk di desa ku itu.

Kondisi tanah di desaku adalah tanah tadah hujan, hijau rimbun pepohonan dan semak belukar dan tanahnya mathol jikalau musim penghujan datang dan kering kerontang, tandus jikalau musim kemarau tiba. Demikian juga keadaan sawah dan tegalan-nya (ladang-nya), makanya jangan heran jika satu tahun hanya panen padi satu kali saja dan hasilnya jauh dibawah angka rata rata hasil pertanian nasional Indonesia.

Dari karakteristik dan pola kehidupan masyarakat desa itulah, keberadaan caping menjadi begitu dominan. ia menjadi gawan (sesuatu yang harus dibawa) yang serbaguna.

Makanya aku menyebutnya caping adalah tidak sekedar topi atau penutup kepala sekaligus pelindung tubuh, tapi ia adalah tradisi. Tradisi kerakyatan, tradisi kesederhanaan.

Sesederhana penduduk desaku memaknai hidup ini